E-Book Vs Buku Cetak

E-Book Vs Buku Cetak

Mitra Excellent, berapa banyak judul buku yang telah Anda baca tahun ini, baik E-Book maupun Buku cetak?

Apabila Anda telah membaca lebih dari 5 judul buku dalam setahun, berarti Anda semakin mendekati standar membaca di negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, yaitu 12 hingga 20 buku per tahun.

Itu berarti, jika dilakukan kalkulasi, masyarakat di negara-negara tersebut memiliki standar membaca minimal 1 judul buku per bulan.

Lantas, buku jenis apa yang sering dibaca oleh mereka? Apakah buku dalam bentuk cetak ataukah buku dalam bentuk elektronik (E-Book / Electronic Book)?

Buku elektronik merupakan sebuah inovasi buku dalam bentuk digital, sehingga memudahkan pembaca untuk membacanya melalui gadget masing-masing.

Terlihat praktis, kan?

Namun siapa sangka di negara maju seperti Amerika yang standar bacanya tinggi, ternyata buku versi cetak masih lebih populer dibanding versi elektronik / digital!

Sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center dalam kurun waktu 5 tahun (2011 – 2016), menunjukkan bahwa pembaca buku cetak masih lebih banyak dibandingkan buku elektronik dan juga buku audio (audiobook).

 

Pew Research on E-book & Printed book

 

Melalui grafik di atas, terlihat lebih dari 70% warga Amerika Serikat membaca sebuah buku, baik dalam bentuk cetak, elektronik, maupun audio.

Apabila Anda amati lebih jauh, persentase pembaca buku cetak mulai tahun 2012 cenderung tinggi karena selalu meraih angka lebih dari 60% per tahunnya.

Hal tersebut berbanding cukup jauh dengan pembaca buku elektronik yang hanya mencapai angka kurang dari 30% (sekalipun relatif mengalami peningkatan), sedangkan pendengar buku audio tak lebih dari 15% setiap tahunnya.

Mitra Excellent, grafik selanjutnya menampilkan persentase rincian lebih jauh tentang jenis buku apa yang dibaca oleh warga Amerika:

 

Pew Research E-book vs Printed

 

Grafik tersebut menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, diperoleh data sebagai berikut;

Warga dewasa Amerika sebanyak 38% hanya membaca buku cetak, 28% membaca baik buku cetak maupun buku elektronik, 26% tidak membaca buku sama sekali, dan 6% warga yang membaca hanya buku elektronik.

Data ini memberikan gambaran detail, dan memperjelas grafik pertama tentang preferensi warga Amerika Serikat dalam memilih jenis buku.

Mitra Excellent, menurut Anda, apa yang membuat buku cetak untuk saat ini masih lebih menarik ketimbang buku elektronik?

Apakah karena buku cetak lebih terasa “membaca buku”?

Apakah karena buku cetak lebih nyaman saat dibaca?

Sebagaimana diulas sebuah portal berita; Huffington Post, berikut hal-hal yang membuat Buku Cetak dinilai lebih baik.

 

10 Alasan Mengapa Buku Cetak Lebih Baik Ketimbang e-Book :


1

1. Buku cetak membuat kegiatan membaca menjadi lebih menyenangkan, karena kita membuka lembar demi lembar halaman yang terasa nyaman saat disentuh.

Di lain sisi, membaca buku elektronik dapat membuat mata kita lelah, terlebih jika kita sudah memandang layar komputer sepanjang hari di tempat kerja, maka sepulang bekerja tentu kita tak ingin lagi melihat layar.

2

2. Berdasarkan hasil penelitian yang disampaikan oleh The Guardian, buku cetak dirasa sangat baik dalam menyajikan informasi.

Mereka menemukan bahwa pembaca buku elektronik lebih kesulitan mengingat sebuah babak kronologi cerita dalam sebuah novel misteri ketimbang pembaca buku cetak.

3

3. Buku dalam bentuk cetak akan lebih bertahan karena masih bisa terus dibaca hingga lebih dari 50 tahun mendatang.

Apakah Anda berpikir buku elektronik yang mengalami inovasi terus menerus dan kita tidak akan pernah tahu apakah E-book yang sekarang kita baca akan bisa dibaca lagi di 50 tahun mendatang.

4

4. Buku cetak adalah alat pengingat yang konkret bagi perjalanan intelektual Anda. Beberapa buku-buku bertema sekolah akan mengingatkan Anda tentang menjalani hari-hari saat masih remaja di bangku SMP atau SMA; Lupus misalnya.

Sebuah buku kumpulan puisi Pablo Neruda pilihan, bisa saja mengingatkan masa-masa di asrama saat tengah malam.

Masih banyak lagi kenangan yang bisa Anda rasakan saat menyentuh serta membaca buku cetak. Sedangkan E-Book? Ya, hanyalah sebuah E-Book.

5

5. Buku dalam bentuk cetak bisa menjadi rekomendasi atau hadiah terbaik untuk orang lain. Saat menemukan sebuah buku yang bagus, Anda bisa berkata pada teman,

“Buku ini sangat bagus. Bacalah!” kemudian meminjamkan padanya.

Buku cetak juga bisa menjadi sebuah kado manis untuk orang terkasih dan mereka akan mengingat Anda setiap kali melihat rak buku koleksinya.

6

6. Buku cetak selalu memiliki sampul dan saat membacanya di sebuah keramaian seperti dalam bus, kereta, dan cafe, Anda bisa menginspirasi orang lain agar menambah koleksi bacaan.

Dan tahukah Anda, sebuah bus yang berisi orang-orang dengan bacaan di tangan mereka ternyata dapat mencerminkan kualitas dari penduduk sebuah kota.

Coba bayangkan jika seluruh orang di dalam bus membaca sebuah buku elektronik, maka mereka hanya terlihat seperti bermain gadget ketimbang membaca, bukan?

7

7. Saat menemukan hal-hal penting atau sebuah pengetahuan baru, pembaca buku cetak akan langsung menandai kata atau kalimat yang mereka baca dengan bolpen, pensil, atau bahkan stabilo.

Tak jarang juga mereka akan memberikan beberapa selipan catatan tambahan sebagai pengingat jika nanti lupa mengenai tanda tersebut.

Sebuah buku elektronik memang memungkinkan pembaca juga melakukan hal serupa, tetapi apakah hasilnya sebaik di buku cetak?

8

8. Buku cetak juga memberikan penghasilan yang lebih baik untuk para penulis ketimbang dari E-book.

Serikat Kerja Penulis di beberapa bagian dunia telah menabuhkan genderang pengingat kepada para penerbit karena mereka menerima royalti yang kecil dari buku elektronik.

9

9. Buku cetak lebih berdampak baik untuk kesehatan tubuh Anda.

Sebuah penelitian dari Harvard Medical School menemukan bukti bahwa cahaya dari buku elektronik yang dibaca sebelum tidur akan berpengaruh buruk terhadap kualitas tidur, kewaspadaan saat pagi hari, dan mengganggu kesehatan tubuh Anda.

10

10. Terakhir, buku cetak merupakan barang “antimaling”. Artinya, tak mengundang minat para pencuri. Coba bandingkan saat Anda meninggalkan meninggalkan smartphone berisi E-Book di dalam mobil Anda. 🙂


 

Mitra Excellent, dari hasil penelitian di atas, tentu Anda bisa menentukan jenis buku apakah yang lebih direkomendasikan, bukan?

Sebuah buku elektronik memang juga memiliki beberapa sisi positif dari segi kepraktisan, namun preferensi berdasarkan hasil penelitian, buku dalam bentuk cetak masih lebih disarankan karena tak terlalu berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. ^_^

Hingga saat ini pun, komunitas pencinta buku masih terus ada di berbagai belahan dunia dan mereka lebih nyaman bertukar pikiran serta berdiskusi dengan buku-buku cetak di tangan mereka.

Pembahasan mengenai jenis buku cetak dan buku elektronik memang menarik, tetapi jika ditilik kembali mengenai genre bacaan cetak seperti apakah sih, yang hampir disukai oleh hampir semua orang di dunia? Ya, genre Fiksi.

Pada artikel selanjutnya, kami berencana mengulas mengenai bacaan fiksi lebih lanjut. Sementara ini, Anda bisa bookmark laman kami untuk memudahkan update artikel selanjutnya. 🙂

Hal lain sebagai solusi jika Anda memerlukan penerjemahan buku baik elektronik maupun cetak berbahasa asing menjadi buku cetak berbahasa Indonesia, ataupun sebaliknya (vice versa), tentu bantuan profesional untuk proyek Anda adalah pilihan yang tepat.

Anda perlu menjamin kulitas penyajian dokumen atau buku yang diterjemahkan sehingga pesan yang ingin Anda sampaikan dapat dipahami sebaik mungkin olek masyarakat dunia.

Oleh sebab itulah, Excellent Translation hadir untuk Anda.

Mari bermitra, dan Salam Excellent!

Ref :

Pew Research Center; Book Reading 2016

Huffington Post; Drop That Kindle! 10 Reasons Print Books Are Better Than E-Books

Harvard Medical School; E-Readers Foil Good Night’s Sleep

The Authors Guild (Serikat Kerja Penulis); Half of Net Proceeds Is the Fair Royalty Rate for E-Books

 

Bahasa Mandarin & Bahasa-Bahasa Asing Paling Sulit Dipelajari

Bahasa Mandarin & Bahasa-Bahasa Asing Paling Sulit Dipelajari

Mitra Excellent, apakah Anda pernah memiliki keinginan untuk mempelajari bahasa asing, seperti Bahasa Mandarin, Perancis, Jepang, Korea, atau mungkin India?

Ataukah sekarang Anda tengah berjuang mempelajarainya?

Jika iya, berdasarkan penelitian The Foreign Service Institute yang berada di Amerika Serikat terhadap penutur asli Bahasa Inggris yang sedang mempelajari bahasa asing, dibutuhkan waktu sekitar 600 jam kelas, atau sekitar 24 pekan (jika kita gunakan waktu belajar selama 3,5 jam per hari), untuk mendapatkan hasil yang cukup maksimal.

Bahkan, ada kategori bahasa yang membutuhkan hingga 2200 jam kelas! Wow!

Wah, ternyata tidak semudah itu ya untuk mempelajari suatu bahasa asing hingga tahap menguasai.

Terlebih jika Anda perlu menggunakannya dalam situasi profesional, tentu Anda harus sampai tahap menguasai, atau melibatkan pihak ketiga.

Memang, faktor kedekatan bahasa asli (native language) kita dengan bahasa asing yang ingin dipelajari juga membuat perbedaan pada masing-masing pelajar.

Hasil penelitian tersebut tidak hanya membuat mereka menjadi lebih mengetahui berapa jumlah waktu yang dibutuhkan oleh seseorang saat mempelajari bahasa asing, tetapi juga memunculkan kategori-kategori baru beserta tingkat kesulitannya.

Inilah yang nantinya akan kita bahas lebih lanjut mengenai pembagian tingkatan kesulitan tersebut berdasarkan hasil penelitian.

Sebelumnya, situs list25.com pernah merilis artikel berjudul “25 of The Most Difficult Languages to Learn in The World”, dan hasilnya pada urutan pertama adalah Bahasa Mandarin.

Rasanya tidak mengejutkan ya, karena memang membutuhkan proses yang panjang untuk mempelajari ribuan aksara khusus, pelafalan yang beragam, dan juga arti per kata pada Chinese language / Bahasa Mandarin.

Nah, dari ke-25 rangking itu, berikut adalah 10 bahasa asing tersulit versi list25.com :

  1. Bahasa Mandarin
  2. Arab
  3. Vietnam
  4. Thailand
  5. Islandia
  6. Albania
  7. Jepang
  8. Gael
  9. Hungaria
  10. Kroasia

Jika dicermati, dari 10 daftar ini sebagian besar memiliki aksara khusus yang berbeda dengan alfabet A-Z, sehingga para pelajar perlu berusaha ekstra untuk menghafalkannya.

Jika menilik kembali penelitian yang telah dilakukan oleh The Foreign Service Intitute, ternyata memang bahasa asing yang menggunakan aksara khususlah yang menempati kategori menengah (medium) hingga sulit (hard) di mata para pelajar.

Agar Kita lebih memahami seputar tingkat kesulitan bahasa asing yang disebutkan di atas, Kita bisa perhatikan penjelasan berikut:

  • Kategori Mudah

Suatu bahasa asing dikategorikan mudah karena para pelajar membutuhkan waktu rata-rata 575 hingga 600 jam kelas.

Jika diasumsikan jam kelas per hari adalah 1,5 jam, maka pelajar membutuhkan waktu sekitar 1 tahun lebih untuk menguasai kategori mudah ini.

Bahasa asing yang termasuk dalam kategori ini adalah Spanish, Portugis, Perancis, Italia, Rumania, Belanda, Swedia, Afrika, dan Norwegia.

Bahasa Indonesia menggunakan alfabet yang sama dengan yang digunakan oleh English, sehingga rangking di atas dapat digunakan. 🙂

  • Kategori Menengah

Kategori ini merupakan tingkatan yang dianggap tidak terlalu sulit untuk dikuasai namun tidak terlalu mudah juga untuk cepat dipelajari.

Pelajar membutuhkan waktu sekitar 1110 jam kelas agar dapat menguasai bahasa asing dalam kategori ini.

Beberapa bahasa asing dalam kategori menengah memiliki aksara khusus yang membutuhkan waktu untuk menghafalkannya.

Jika diasumsikan jam kelas pembelajaran juga 1,5 jam tiap harinya, maka para pelajar perlu meluangkan waktu sekitar 2 tahun lebih untuk mempelajarinya.

Bahasa asing yang tergolong dalam kategori menengah adalah Russian, India, Vietnam, Turki, Polandia, Thailand, Serbia, Yunani, Israel, dan Finladia.

  • Kategori Sulit

Seperti yang telah disinggung tadi, kategori ini memang disebut-sebut sebagai yang terberat untuk dipelajari.

Bayangkan, jika seorang pelajar ingin menguasai salah satu bahasa dalam kategori ini, maka ia perlu meluangkan waktu 2200 jam kelas!

Jika dengan waktu 1,5 jam kelas per hari, maka sama dengan 4 tahun lebih.

The Federation Service Institute telah memilah dan memasukkan 4 bahasa asing ke dalam kategori ini, yaitu Bahasa Mandarin, Arab, Jepang, dan Korea.

Mitra Excellent, pembagian kategori ini tentu telah melewati berbagai proses penelitian untuk dapat mengetahui tingkat kesulitan antara lisan dan tulisan, dan hal lainnya seperti aksen dan frasa. Demikian pula hasil penelitian lamanya proses yang perlu ditempuh para pelajar.

Meski The Federation Service Intitute telah memilah sedemikian rupa, namun ternyata ada banyak pelajar Bahasa Vietnam yang mengatakan bahwa bahasa ini juga sangat tepat jika dikategorikan dalam kategori sulit disebabkan aksen-aksen yang rumit.

Nah, tentu Anda penasaran mengapa bahasa asing seperti Bahasa Mandarin, Jepang, dan Vietnam termasuk dalam kategori sulit bagi para pelajar.

Berikut pemaparan yang dirangkum dari situs Travelers Today dan Business Insider mengenai hal tersebut:

  • Mengapa Bahasa Mandarin sulit?

Bahasa Mandarin menggunakan gaya suara, sehingga sebuah kata atau kalimat akan berubah makna jika Anda berbicara dengan gaya suara berbeda.

Selain itu, mempelajari Bahasa Mandarin artinya Anda sudah siap untuk belajar menguasai aksara khususnya yang berjumlah ribuan.

  • Mengapa Bahasa Jepang sulit?

Bahasa Jepang merupakan turunan dari Bahasa Mandarin sehingga memiliki beberapa kesamaan baik pelafalan maupun aksara Kanji yang dimiliki.

Namun, Bahasa Jepang memiliki aksara asli Jepang yang wajib dikuasai oleh para pelajar asing, yaitu aksara Hiragana dan aksara Katakana.

Kerumitannya juga disebabkan adanya sistem honorifik yang sering membuat para pelajar kesulitan memahaminya.

  • Mengapa Bahasa Korea sulit?

Bahasa Korea memang terlihat menyenangkan karena ada banyak pengaruh K-POP (Korean Popular) yang begitu cepat menyebar dan merambah ke dunia hiburan di berbagai negara.

Faktor tersebut memang tak dapat dipungkiri, berhasil menarik minat pelajar asing berbondong-bondong untuk mempelajarinya.

Namun, setelah mempelajarinya banyak juga pelajar yang mengeluhkan kesulitan saat menghafalkan aksara Korea (Hangeul) serta sistem sintaksis yang cukup rumit untuk dipelajari.

  • Mengapa Bahasa Arab sulit?

Jika dilihat sekilas, Bahasa Mandarin, Jepang, dan Korea memang memiliki beberapa persamaan pelafalan, hal ini mungkin dikarenakan mereka berasal dari turunan yang sama yaitu Bahasa Mandarin.

Lantas bagaimana dengan Bahasa Arab?

Bahasa Arab merupakan turunan dari Arab Klasik, dan digunakan penduduk Timur Tengah hingga ujung Afrika.

Bagi pelajar asing yang berasal dari Eropa, mereka sering merasa kesulitan mempelajari Bahasa Arab karena sering menemukan kosakata yang tidak ada padanannya dalam bahasa asli mereka.

  • Mengapa Bahasa Vietnam sulit?

Sejarah Vietnam menyebutkan bahwa kosakata Bahasa Vietnam banyak diperoleh dari Bahasa Mandarin dan Perancis.

Meski menggunakan kosakata Bahasa Mandarin, Vietnam menggunakan alfabet dengan penambahan diakritik untuk mempertegas gaya suara karena berbeda suara berbeda pula arti yang dimaksudkan.

Keuntungan Memiliki Kemampuan Bahasa Asing

Mitra Excellent, menguasai bahasa asing memang memiliki sisi menguntungkan bagi para pelajar, yaitu selain bertambahnya kemampuan komunikasi, mereka juga mendapatkan ilmu baru seperti mengenai kebudayaan, kearifan lokal, serta lebih memahami pola pikir penduduk penutur asli.

Selain itu, para pelajar bahasa asing juga berpotensi memiliki otak yang lebih aktif.

Ya, itu semua tentu sangat menguntungkan.

Namun di sisi lain, para pelajar juga harus menyisihkan banyak waktu mereka saat mempelajari bahasa asing.

Perlu Kemampuan Bahasa yang Handal, Waktu Terbatas?

Nah, bagi Anda yang memerlukan kemampuan bahasa yang handal, sedangkan waktu Anda demikian terbatas, tentu bantuan profesional untuk proyek Anda adalah pilihan yang tepat.

Anda perlu menjamin kualitas penyajian dokumen Anda, memastikan pesan yang ingin Anda sampaikan dipahami sebaik mungkin oleh masyarakat dunia.

Oleh sebab itu, Excellent Translation hadir untuk Anda.

Selamat belajar bahasa, dan Mari Bermitra! 🙂

 

Salam Excellent!

 

data-1

data-2

data-3

Penerjemahan: Elektronik atau Manual?

Penerjemahan: Elektronik atau Manual?

Mitra Excellent, bagi sebagian besar kita, rasanya belum lama kegiatan menerjemahkan dikerjakan dengan dibantu kamus tebal nan berat, dan ukuran tulisan yang kecil lagi berjarak rapat.

Betul begitu?

Namun, sekarang halaman-halaman kamus tak ubahnya layar ponsel atau monitor komputer. Ya, sebab kamus tebal itu kini berubah menjadi perangkat lunak yang bisa masuk dengan mudah sebagai aplikasi di gadget dan komputer.

Penerjemahan Elektronik atau Manual

Penerjemahan Elektronik atau Manual

 

Tidak hanya itu, kehadiran mesin penerjemah elektronik daring (online) seperti Google Translate juga disebut-sebut bisa membantu meringankan pekerjaan menerjemah.

Memang, teknologi canggih menjanjikan kemudahan dan kecepatan. Cukup menyertakan teks dokumen, dan dengan satu klik, maka terjemahan akan muncul.

Nah, pertanyaan yang muncul adalah;

“Sesempurna apakah hasil penerjemahan elektronik?”

Apakah mesin penerjemah elektronik daring bisa benar-benar membantu memudahkan pekerjaan seorang dalam proyek terjemahan penting, atau justru sebaliknya?

Pasalnya, memang didapati ada kekeliruan pada penerjemahan elektronik yang boleh jadi fatal apabila dibiarkan, sebagaimana pernah kami ulas di sini.

– – – – – – –

Mitra Excellent, menarik apa yang diutarakan Menteri Kebudayaan dan Pembangunan Pengetahuan Uni Emirat Arab, Nahyan bin Mubarak Al-Nahyan, saat menjadi pembicara dalam acara Konferensi Penerjemahan Dubai.

Nahyan menekankan bahwa sampai kapanpun mesin elektronik tidak akan bisa memiliki kekuatan yang sama dengan manusia dalam berbahasa.

Mari kita ambil contoh nyata, yaitu saat menerjemahkan sebuah bacaan fiksi atau biografi seseorang, apakah lantas terjemahan tersebut menjadi sempurna dengan bantuan mesin elektronik saja?

Bacaan fiksi adalah bacaan dinamis yang seringkali menggunakan bahasa di luar pakem. Tentu ini adalah masalah bagi mesin elektronik yang lebih fokus pada arti per kata daripada maksud / makna.

Sedangkan biografi seseorang, sarat akan unsur budaya, sehingga seperti sebutan / julukan, tentu tidak dapat terdeteksi oleh mesin elektronik.

Oleh sebab itu, penerjemah profesional pasti menghindari metode penerjemahan tersebut dan bahkan tidak merekomendasikannya.

Teks bahasa asing tidak hanya sekumpulan kata umum yang baku, tetapi juga terdapat unsur budaya dan kesepakatan penggunaan istilah tertentu yang tidak bisa diartikan begitu saja seperti yang pada umumnya mesin penerjemah lakukan.

Ada kosakata bahasa asing yang tidak bisa diterjemahkan secara harfiah dalam bahasa target. Di sini, peranan penerjemah untuk mendeskripsikan makna kosakata tersebut sangatlah penting.

– – – – – – –

Mitra Excellent, Anda bisa melihat contoh kosakata dari bahasa asing berikut, yang saat ini belum bisa diterjemahkan secara harfiah ke dalam Bahasa Indonesia:

  1. Culaccino (Bahasa Italia) = bekas yang ditinggalkan gelas basah pada meja (biasanya terlihat saat kita mengangkat gelas lalu terdapat bekas basah di permukaan meja).
  2. Tsundoku (Bahasa Jepang) = perilaku membeli buku lalu tidak membacanya sama sekali dan membiarkannya menumpuk beserta buku lainnya (yang juga belum dibaca).
  3. Pochemuchka (Bahasa Rusia) = seseorang yang terlalu banyak bertanya.
  4. Waldeinsamkeit (Bahasa Jerman) = perasaan sendirian di dalam hutan.
  5. Prozvonit (Bahasa Ceko) = melakukan panggilan melalui telepon seluler dengan hanya menderingkan sekali sehingga si lawan bicara menyadari dan menelepon balik pada kita.

Anda bisa melakukan cek atas kosakata-kosakata di atas di mesin penerjemah elektronik.

Bagaimana? Apakah bisa diartikan secara harfiah oleh mesin penerjemah elektronik?

Inilah yang mungkin dimaksud oleh Nahyan bin Mubarak Al Nahyan mengenai kekuatan penerjemah (manusia) dalam menyampaikan makna bahasa yang tidak dimiliki oleh mesin.

Ya, mesin penerjemah elektronik daring sekali pun tidak akan mampu menyamai kemampuan manusia yang selalu berkembang dalam kebahasaan melalui kesepakatan-kesepakatan baru.

Jadi dalam hal ini, seorang penerjemah selalu dituntut untuk menajamkan rasa keingintahuan dan menghormati perbedaan kebudayaan asing yang tertuang dalam bahasa.

Hasil penerjemahan yang baik dan bisa diterima tentu akan melahirkan pemahaman yang baru bagi pembaca sehingga memperkaya pengetahuan mereka, menimbulkan sikap toleransi terhadap orang asing, dan menghargai nilai-nilai dari budaya asing.

Komitmen seperti ini juga selalu kami pegang teguh dalam mengerjakan penerjemahan sehingga hasil yang diperoleh berkualitas dan bermutu baik.

– – – – – – –

Excellent Translation Menempatkan Teknologi pada Tempatnya

Sekalipun mesin penerjemahan elektronik tidak tepat sebagai andalan proyek penerjemahan, bukan berarti teknologi sama sekali tidak dipakai oleh tim kami.

Untuk penerjemahan tingkat internasional, penerjemah kami mampu menggunakan teknologi canggih yang membantu memastikan kualitas terjemahan.

Teknologi itu adalah CAT Tools (Computer Aided Translation Tools), yang berbeda dengan sekadar mesin penerjemah elektronik daring.

Salam Excellent!

Penerjemah Telah Membantu Kita Terhubung dengan Dunia

Penerjemah Telah Membantu Kita Terhubung dengan Dunia

 

Mitra Excellent, beberapa waktu lalu para penerjemah merayakan Hari Penerjemah Internasional (International Translation Day) yang jatuh pada tanggal 30 September tiap tahunnya.

Tentu saja hari tersebut seolah menjadi penghargaan tersendiri bagi para penerjemah yang tersebar di seluruh dunia, termasuk mungkin juga Anda yang berkecimpung dalam dunia terjemahan.

Jika menilik ke belakang, hari spesial tersebut dipromosikan pertama kali oleh Federasi Penerjemah Internasional (Fédération Internationale des Traducteurs) pada tahun 1953 yang bertepatan dengan perayaan St. Jerome, seorang penerjemah Alkitab.

Setelah dipromosikan terus-menerus, pada tahun 1991, FIT akhirnya menggagas ide untuk meresmikan 30 September sebagai Hari Penerjemah Internasional dengan tujuan untuk meningkatkan rasa solidaritas dalam komunitas penerjemah di penjuru dunia sekaligus mempromosikan profesi penerjemahan.

– – – – – – –

Profesionalitas Penerjemah

Mitra Excellent, penerjemah memang bisa disebut sebagai sebuah profesi yang mulai dibutuhkan secara luas disebabkan profesionalitasnya.

Bayangkan saja, para penerjemah harus menguasai minimal 2 bahasa yang digunakan untuk menerima sebuah informasi dari satu bahasa, lalu mengonversinya ke bahasa lain dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Lingkup kerjanya pun tersebar untuk berbagai bidang; akademik, personal, kesehatan, perusahaan jasa, produksi, permesinan & alat berat, hukum, kantor ekspor-impor, hingga pemerintahan.

Ya, hampir setiap bidang yang melibatkan bahasa asing, penerjemah ada di baliknya.

Mari kita ambil contoh informasi yang sehari-hari kita terima dari media massa baik melalui koran, radio, dan televisi.

Apakah berita mancanegera yang Anda dengar atau saksikan semua sudah tersaji dalam Bahasa Indonesia? Apakah Anda memahaminya dengan sangat baik mengenai isi berita mancanegara yang telah disampaikan itu?

Jika iya, selamat, itu artinya Anda mengakui bahwa kinerja sang penerjemah begitu baik sehingga informasi mancanegara dapat terserap sempurna.

Bayangkan saja jika berita mancanegara tersebut belum diterjemahkan dan langsung disiarkan, tentu  lebih sulit bagi kebanyakan orang untuk bisa memahaminya.

– – – – – – –

Saat Berkunjung ke Toko Buku

Mitra Excellent, contoh lain tentang peranan penting penerjemah dalam menghubungkan kita dengan dunia luar, adalah saat kita berkunjung ke toko buku.

Ketika kita pergi mengunjungi sebuah toko buku, cobalah untuk menanyakan kepada petugas di sana mengenai jumlah bacaan terjemahan yang dijual di toko tersebut.

Kami dapat yakinkan Anda bahwa bacaan terjemahan yang dijual berjumlah puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan tergantung dari besar-kecil toko buku yang Anda kunjungi.

Bacaan yang Anda lihat berjajar rapi di rak-rak tersebut bisa berupa buku-buku pengetahuan, buku-buku kesehatan, biografi, teknologi, fiksi, dan sebagainya.

Seseorang bisa menjadi termotivasi berkat membaca biografi seorang tokoh besar dari negara lain, ada juga seorang anak bisa mengerti budaya makan dengan sumpit berasal dari Jepang berkat komik terjemahan yang ia baca, ada pula seorang ibu yang menguasai resep masakan asing berkat buku resep koki terkenal dari Perancis yang sudah diterjemahkan.

Mitra Excellent, dengan demikian Anda tentu setuju, berkat kehadiran penerjemahlah, disadari maupun tidak, setiap orang bisa terhubung dengan dunia luar.

– – – – – – –

Translator & Interpreter

Selain penerjemah tulisan, ada juga profesi juru bahasa / interpreter.

Profesi interpreter juga memiliki peranan yang tak kalah pentingnya dengan seorang penerjemah tulis, karena tugas mereka menyampaikan secara langsung informasi yang disampaikan pembicara lalu mengalihbahasakan ke pendengar lain.

Kehadiran interpreter ini banyak ditemukan dalam sebuah kongres atau konferensi yang melibatkan kehadiran anggota dari berbagai belahan dunia.

Komunikasi lintas bahasa resmi secara tatap muka antar negara tentu teramat penting, dan interpreter adalah kalangan profesional yang menjembatani aktivitas ini.

Begitu pula dalam negosiasi perjanjian / kesepakatan bisnis di ranah internasional, maka mau tidak mau, suatu perusahaan harus menghadirkan interpreter yang handal.

Seorang interpreter harus bekerja cepat saat menyampaikan informasi, sekaligus juga harus meminimalkan kesalahan penerjemahan karena bisa saja berakibat fatal apabila salah dimengerti.

Selain itu, seorang interpreter bisa juga Anda temui di sebuah pengadilan karena tak semua tersangka kejahatan berasal dari negara kita sendiri tetapi juga orang asing yang mungkin tertangkap di Indonesia sehingga dibutuhkan penerjemah agar komunikasi di persidangan dapat berjalan baik.

– – – – – – –

Demikianlah Mitra Excellent, sekilas hal-hal yang mungkin tanpa kita sadari, kita bertumpu pada jasa para penerjemah dalam hal-hal yang kita peroleh saat ini.

Berkat mereka, kita menjadi lebih tahu mengenai pemerintahan, budaya, dan informasi penting lainnya dari negara lain.

Mitra Excellent, jika ada cerita menarik seputar dunia penerjemahan yang ingin Anda bagikan, Anda bisa Share di sini.

^__^

Salam Excellent!

Ejaan Kosakata Bahasa Indonesia yang Sering Keliru

Ejaan Kosakata Bahasa Indonesia yang Sering Keliru

Mitra Excellent, pernahkah terpikirkan dalam benak Anda bahwa kosakata Bahasa Indonesia yang Anda anggap benar ternyata keliru dalam penulisan maupun pelafalan?

Kosakata-kosakata itu memang terdengar lazim sehingga banyak kalangan yang tak menyadari kekeliruannya.

Akibatnya, kesalahan yang terus berlangsung dalam ejaan kosakata tersebut menimbulkan kerancuan di masyarakat kita.

Padahal Mitra Excellent, kita adalah pemilik bahasa ini. Sudah semestinya kita paling baik dalam menggunakannya. Bukankah demikian?


Ada kejadian saat pembelajar Bahasa Indonesia yang berasal dari luar negeri, mengalami kerancuan ketika mendapati warga negara Indonesia pribumi menulis kosakata yang tidak sesuai dengan kaidah yang benar.


Mungkin tidak menjadi persoalan apabila terjadi satu dua kali saja. Namun apabila terjadi pengulangan kesalahan tersebut, tentu malu rasanya sebagai penutur bahasa asli.

Nah, agar kita tidak turut keliru, mari kita perhatikan bersama penulisan Bahasa Indonesia yang sering keliru, berikut pembetulannya :

  • Bis atau Bus?

Jenis transportasi besar yang satu ini disebut “bus”, bukan “bis” sebagaimana yang biasa orang-orang sebutkan, lho! Jadi, jangan sampai salah ya, Mitra Excellent.

  • Konkrit atau Konkret?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “konkrit” tidaklah memilih arti karena penulisan yang tepat adalah “konkret” dengan arti nyata atau benar-benar ada.

  • Handal atau Andal?

Tidak sedikit orang menganggap bahwa “handal” merupakan kata yang benar. Tetapi, coba Anda pikirkan kembali, apakah ada kata “menghandalkan”? Tidak ada, kan? Jadi, pengejaan yang tepat adalah “andal”.

  • Apotik atau Apotek?

Masih sering juga ditemukan penulisan “Apotik xxx” di sekitar kita. Coba Anda perhatikan, apakah ada “apotiker”? Jawabannya jelas tidak ada karena yang benar adalah “apoteker”, dan ia bekerja di sebuah “apotek”.

  • Silahkan atau Silakan?

Kosakata ini juga tak luput dari daftar penulisan Bahasa Indonesia yang sering salah dieja, lho. Banyak orang yang keliru menggunakan “silahkan” ketimbang kosakata yang benar yaitu “silakan”. Semoga kita menuliskannya dengan benar setelah membaca informasi ini, ya!

  • Nomer atau Nomor?

Sering ya, kita mendengar “nomer 1”, “nomer 5”, atau mungkin “nomer undian”. Padahal pengucapan yang tepat adalah “nomor”, bukan “nomer” seperti yang lazimnya orang-orang ucapkan.

  • Analisa atau Analisis? Diagnosa atau Diagnosis? Hipotesa atau Hipotesis?

Kosakata yang cenderung sering digunakan dalam hal-hal ilmiah ini juga sering salah ya, Mitra Excellent. Kosakata baku yang benar menurut ejaan KBBI adalah analisis, diagnosis, dan hipotesis.

  • Kwalitas atau Kualitas? Kwitansi atau Kuitansi?

Meski tak berkaitan, tetapi kedua kosakata ini sering mengalami kesalahan penulisan. Masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa ejaan “kwalitas” dan “kwitansi” adalah benar, sedangkan pengejaan yang semestinya adalah “kualitas” dan “kuitansi”.

  • Jenius atau Genius? Karir atau Karier?

Banyak orang yang sering salah kaprah mengenai kedua hal ini karena mengira bahwa kosakata genius dan karier berasal dari Bahasa Inggris. Padahal dalam KBBI, kosakata genius merujuk pada kemampuan luar biasa dalam berpikir dan mencipta, sedangkan karier merujuk pada perkembangan serta kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan, jabatan, dan sebagainya,

  • Hembus atau Embus? Nafas atau Napas?

Pernah mendengar kata “menghembuskan nafas”? Terdengar tepat ya, tetapi ternyata salah besar. Penulisan dan pelafalan yang tepat adalah “mengembuskan” karena berasal dari kata embus, dan bukan nafas yang benar melainkan napas.

  • Nahkoda atau Nakhoda? Supir atau Sopir? Atlit atau Atlet?

Ketiga profesi ini juga sering salah penulisan maupun pelafalannya lho, Mitra Excellent. Tidak ada kosakata “nahkoda” karena yang tepat adalah nakhoda”, begitu pun kosakata “supir” karena yang benar adalah sopir”, dan tak ada “atlit” karena yang benar adalah “atlet”.

Demikian, meski terlihat mirip, tetapi pada nyatanya beberapa kosakata tersebut memang paling sering salah digunakan oleh masyrakat kita sendiri.

Nah, agar kekeliruan itu tidak menurun sampai ke generasi Indonesia selanjutnya, mari lakukan perubahan mulai saat ini & mulai dari diri kita sendiri. Tentu juga sangat baik untuk menebarkan informasi ini kepada kerabat dan kawan terdekat kita.

Anda Bisa membagikannya jika bermanfaat.   🙂

Salam Excellent!

Apakah Hewan Memiliki Bahasa?

Apakah Hewan Memiliki Bahasa?

Semua hewan berinteraksi.

Kepiting-kepiting melambaikan capitnya satu sama lain untuk memberi tanda bahwa mereka dalam kondisi sehat dan siap untuk melakukan perkawinan.

Ikan sotong (cuttlefish) menggunakan sel-sul kulit berpigmen yang disebut chromatophores untuk membentuk pola warna di kulit mereka, yang berfungsi sebagai kamuflase atau peringatan bagi musuh.

Lebah madu melakukan tarian-tarian yang terlihat kompleks untuk memberitahukan lokasi sumber makanan beserta kualitasnya.

Semua dari hewan-hewan itu memiliki sistem komunikasi yang menakjubkan.

Namun, apakah mereka memiliki bahasa?

Lebah melakukan tarian yang kompleks

Lebah melakukan tarian yang kompleks saat menyampaikan sumber makanan

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita dapat melihat pada 4 kualifikasi spesifik yang sering diasosiasikan dengan bahasa :

(1) Pembedaan (discreteness),

(2) Tatabahasa (grammar),

(3) Produktivitas (productivity),

dan (4) Pergantian (displacement).

Pembedaan (discreteness) artinya terdapat sekumpulan unit individu seperti suara atau kata-kata, yang dapat dikombinasikan untuk mengomunikasikan ide baru.

Mirip seperti sekumpulan pasangan kata bermagnet di dinding kulkas yang dapat disusun ulang sehingga membentuk frasa yang berbeda.

Tatabahasa (grammar) menyajikan sistem peraturan yang menuntun cara mengombinasikan unit individu di atas.

Produktivitas (productivityadalah kemampuan penggunaan bahasa, sehingga dapat dibuat menjadi pesan yang jumlahnya hampir tak terbatas.

Sementara Pergantian (displacement) adalah kemampuan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak ada di hadapan kita, misalnya seperti masa lalu, masa depan, atau hal-hal fiksi.

Refrigerator

Kumpulan magnet di pintu kulkas dapat disusun menjadi beragam kata & kalimat

 

Jadi, apakah interaksi hewan menunjukkan kualifikasi-kualifikasi tersebut?

Untuk kepiting dan ikan sotong, jawabannya tentu tidak.

Mereka tidak menggabungkan sinyal-sinyal mereka dengan cara-cara yang kreatif.

Sinyal-sinyal itu juga tidak harus tertampil dalam suatu susunan tatabahasa, dan mereka hanya berinteraksi tentang kondisi saat itu saja, misalnya,

“Aku sehat,”

atau “aku beracun.”

Namun, beberapa hewan nampak betul-betul menunjukkan beberapa hal dalam kualifikasi di atas.

Lebah menggunakan gerak, sudut, durasi, serta intensitas dalam kibasan tarian mereka untuk menjelaskan lokasi dan tingkat kelimpahan sumber makanan.

Sumber makanan tersbut berada di luar sarang, sehingga mereka memiliki unsur Pergantian (displacement).

Sifat ini juga didapati pada anjing padang rumput (prairie dogs), yang hidup di kota kecil, dan diburu oleh anjing hutan, burung hantu, luak, ular, dan manusia.

Alarm peringatan yang mereka miliki mampu merinci ukuran predator yang mengejar mereka,

bahkan bentuk, kecepatan, hingga, apabila predator itu adalah manusia, mereka dapat mengidentifikasi pakaian apa yang dikenakan dan apakah ia membawa senapan atau tidak.

Prairie Dogs 2

Anjing padang rumput (Prairie Dogs), memiliki kemampuan mengomunikasikan rincian predator

 

Kera besar seperti simpanse dan gorila, juga termasuk komunikator yang handal. Beberapa dari mereka bahkan bisa mempelajari tanda bahasa yang dimodifikasi.

Seekor simpanse bernama Washoe mendemonstrasikan Pembedaan (discreteness) dengan menggabungkan beberapa tanda menjadi frasa yang orisinil, misalkan,

“Tolong bukakan. Cepat.”

Coco, seekor gorila betina yang memahami lebih dari 1000 tanda, dan lebih kurang sekitar 2000 kata-kata yang diucapkan dalam bahasa Inggris, memberikan suatu respon saat anak kucing yang disayanginya mati.

Dalam perilaku itu, Coco menunjukkan Pergantian (displacement).

Sekalipun contoh tersebut cukup bernilai untuk dicatat, yaitu dengan standar sistem komunikasi manusia tak satupun yang muncul secara alami di alam liar.

Gorilla

Spesies kera besar memiliki

 

Ada banyak contoh lain bentuk interaksi yang rumit yang dilakukan oleh hewan, misalnya pada lumba-lumba, yang menggunakan siulan untuk mengidentifikasi usia, lokasi, nama, dan jenis kelamin.

Mereka juga mampu memahami beberapa Tatabahasa (grammar) dalam sebuah bahasa isyarat yang digunakan oleh peneliti untuk berkomunikasi dengan mereka.

Dolphins

Lumba-lumba menggunakan siulan untuk berinteraksi dengan sesamanya

 

Sekalipun begitu, Tatabahasa (grammar) tak nampak pada interaksi alami lumba-lumba.

Meskipun sistem komunikasi tersebut dimungkinkan memiliki beberapa kualifikasi bahasa yang telah diidentifikasi, tak ada yang memenuhi keempatnya sekaligus.

Bahkan kemampuan menakjubkan yang dimiliki Washoe dan Coco masih kalah dengan kemampuan bahasa balita usia 3 tahun.

Topik percakapan hewan juga biasanya terbatas.

Lebah-lebah berinteraksi seputar pangan, anjing padang rumput seputar pemangsa, dan kepiting tentang diri mereka sendiri.

Bahasa manusia berdiri sendiri terkait kombinasi kuat dari Tatabahasa dan Produktivitas, di atas Pembedaan dan Pergantian.

Otak manusia dapat mencerna angka dan elemen yang terbatas, namun dapat membuat pesan-pesan yang hampir tak terbatas.

Kita dapat membuat dan memahami kalimat-kalimat yang kompleks, sebagaimana kata-kata yang tidak pernah diucapkan sebelumnya.

Kita dapat menggunakan bahasa untuk mengomunikasikan hal-hal dalam cakupan yang hampir tak ada ujungnya, membicarakan tentang hal-hal yang berisifat khayalan, dan bahkan kebohongan.

Penelitian berlanjut untuk mengungkap lebih lagi tentang komunikasi hewan.

Boleh jadi, kelak akan didapati hal baru bukan? Tentu ini menarik untuk kita ketahui.

Salam Excellent!

 

Tell a Story

Manusia memiliki keempat kualifikasi

 

Source : TED Ed Video – Do animals have language – by Michele Bishop

Cara Agar Tetap Semangat Belajar Bahasa Kedua

Cara Agar Tetap Semangat Belajar Bahasa Kedua

Mitra Excellent, Anda ingin belajar bahasa kedua? Tentu bahasa kedua di sini bukan sekadar bahasa Jawa atau Indonesia, namun bahasa asing di luar negara kita ^__^a. Disebutkan bahwa terdapat dua tantangan utama ketika kita mencoba mempelajari bahasa baru: bagaimana cara termotivasi dan bagaimana tetap termotivasi.

Tetap Semangat Belajar Bahasa Kedua

Tetap Semangat Belajar Bahasa Kedua

R.C. Gardner, dalam jurnalnya yang berjudul Motivation and Second Language Acquisition, telah mengonfirmasi pentingnya motivasi dalam proses perolehan bahasa kedua. Ya, tanpa motivasi, seseorang tidak akan mampu melewati kesulitan-kesulitan yang membentang dalam proses penguasaan bahasa.

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa termotivasi? Ada beberapa tips yang diberikan oleh Jeffrey Nelson dalam omniglot.com.

Motivasi Internal dan Eksternal

Mitra Excellent, pertama-tama, kita perlu mengenal jenis motivasi. Ada dua jenis motivasi yang berbeda: internal dan eksternal.

Motivasi internal, secara sederhana dapat diartikan bahwa kita merasa enjoy atau menikmati proses penguasaan bahasa kedua tersebut. Motivasi internal membuat pembelajaran menjadi mudah. Disebutkan pula bahwa motivasi internal adalah cara paling ampuh untuk memiliki motivasi jangka panjang.

Nah, selanjutnya saat berbicara tentang motivasi eksternal, motivasi ini memerlukan adanya reward atau hadiah. Kelas pembelajaran bahasa konvensional yang ada sekarang didasarkan pada motivasi eksternal. Hal itu bisa berupa nilai yang bagus, ijazah, gengsi dikatakan dapat lancar berbahasa asing, bisa memeroleh gaji tinggi, dan lain sebagainya.

Pentingnya Menikmati Proses

Motivasi eksternal memang merupakan kekuatan yang sangat kuat. Motivasi ini dapat membuat seseorang menghabiskan bertahun-tahun untuk menguasai sebuah bahasa. Meskipun demikian, motivasi eksternal ternyata juga memiliki kelemahan yang besar. Motivasi eksternal mendorong seseorang untuk terus berusaha, tidak peduli apakah mereka menyukainya atau tidak.

Hal ini bukanlah pola pikir yang ideal, sebab ia menyangkal tumbuhnya motivasi internal. Oleh karena itulah, guru bahasa yang terbaik adalah ia yang dapat membuat proses pembelajaran bahasa menjadi menarik dan menyenangkan. Begitu pula dengan mereka yang mempelajari bahasa secara sukses, ia tahu bagaimana cara belajar yang kreatif dan menyenangkan.

Membuat Asosiasi Positif

Mitra Excellent, ada beberapa cara untuk melakukan hal ini. Mulailah dengan mengaitkan proses pembelajaran bahasa dengan kesukaan/ketertarikan kita di bidang lain. Misalnya, jika Anda menyukai politik, mulailah berlatih membaca berita di bahasa target. Atau jika Anda menyukai musik, latihlah pemahaman Anda dengan cara mendengarkan lagu dan membaca liriknya.

Begitulah menariknya bahasa. Ia dapat digabungkan dengan hampir semua hobi atau aktivitas. Jika Anda menikmati proses ini, Anda tidak akan takjub dengan proses yang bakal Anda lalui.

Jangan Menyerah

Ada pepatah dari Jepang yang berbunyi, “Jika Anda jatuh tujuh kali, bangkitlah delapan kali.”

Pepatah ini mengingatkan kita tentang bagaimana sikap yang harus kita miliki dalam menguasai bahasa. Secara alamiah, ini adalah proses trial and error. Banyak orang mulai mempelajari bahasa baru dengan motivasi yang menggebu-gebu. Akan tetapi semangat itu begitu cepat pupus saat mereka banyak membuat kesalahan dalam proses penguasaan bahasa baru tersebut.

Mitra Excellent, jika hal ini terjadi pada Anda, apakah Anda akan menyerah? Jangan sampai hal itu terjadi. Tidak perlu kita pikirkan kesalahan kita dengan terlalu serius. Tersenyum dan ingatlah untuk mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut.

Ingat,

Challenges are what make life interesting and overcoming them is what makes life meaningful. In fact, it is useful.”

Semangat belajar bahasa baru yuk, Mitra Excellent! 🙂

Bahasa Jepang : Berkenalan dengan Sejarah dan Hurufnya

Bahasa Jepang : Berkenalan dengan Sejarah dan Hurufnya

Bahasa Jepang merupakan bahasa resmi di negara Jepang dengan jumlah penutur kurang lebih 127 juta jiwa. Puluhan tahun yang lalu, Jepang pernah menaklukan negara Korea dan Republik Tiongkok sehingga beberapa penduduknya pernah bisa menguasai Bahasa Jepang. Tak hanya itu, para emigran Jepang yang melakukan emigrasi ke Brasil serta Amerika Serikat seperti di California dan Hawaii juga menggunakan Bahasa Jepang di sana.

Belajar Bahasa Jepang

Belajar Sejarah Bahasa Jepang


Akan tetapi, penguasaan bahasa nasional itu ternyata tidak ikut menurun ke generasi kedua atau yang disebut juga Nisei (二世), sehingga keturunan tersebut sama sekali tidak fasih berbicara menggunakan Bahasa Jepang. Jadi, yang tersisa hanyalah wajah mereka seperti orang Jepang namun mereka tidak menguasai bahasa nenek moyangnya.

Di Negeri Sakura sendiri, Bahasa Jepang sebenarnya dibagi menjadi dua bentuk dan mungkin tidak banyak pembelajar yang mengetahuinya. Kedua bentuk tersebut adalah Hyoujungo (標準語) dan Kyoutsuugo (共通語) dengan perbedaan sebagai berikut:

  • Hyoujungo adalah bahasa resmi, bahasa baku, atau pertuturan standar dan cenderung diajarkan serta digunakan di sekolah, televisi, maupun dalam sebuah perhubungan resmi.
  • Kyoutsuugo adalah bahasa umum yang cenderung jarang digunakan dalam acara resmi.

Pembagian bahasa menjadi standar dan umum ternyata tidak hanya dianut oleh Jepang, melainkan juga negara lain seperti Korea, Tiongkok, Taiwan, Inggris, Perancis, Italia, Norwegia, dan sebagainya.

Saat belajar Bahasa Jepang rasanya juga kurang afdal jika tidak sekalian mempelajari juga tentang huruf Jepang. Berbeda dengan negara kita yang menggunakan alfabet, Jepang memiliki aksara sendiri dengan bentuk yang jauh sekali dari huruf latin. Nah, jika ingin berbicara mengenai sejarah tulisan Jepang, maka kita harus kembali ke abad ke-5 Masehi di mana Tingkok memperkenalkan aksara Kanji pada warga Jepang.

Tulisan Bahasa Jepang yang pertama kali ditulis dalam aksara Kanji disebut kanbun atau yang memiliki arti “tulisan Tiongkok”. Namun, seiring berjalannya waktu, orang Jepang merasakan ketidaknyamanan menulis tata bahasa Jepang ke dalam aksara Kanji Tiongkok karena dasar yang kedua negara pakai berbeda. Akhirnya tak berapa lama keluarlah keputusan bahwa mereka tetap menggunakan aksara Kanji Tiongkok tapi susunan tata bahasa yang digunakan bersumber dari penuturan Bahasa Jepang.

Sayangnya, ternyata tidak semua orang bisa belajar dan menguasai aksara Kanji dari Tiongkok. Kaum wanita pada masa itu tidak diizinkan mempelajari aksara Kanji, sehingga muncullah ide menciptakan aksara baru di kalangan wanita. Aksara ini disebut Hiragana. Kaum wanita menggunakannya terus menerus hingga sampai pada puncaknya di saat sebuah novel pertama buatan seorang wanita, Murasaki Shikibu, berjudul Hikayat Genji menjadi tenar di zaman Heian (795-1192). Dari situlah, akhirnya aksara Hiragana diterima penggunaannya sebagai tulisan asli Jepang.

Beberapa waktu kemudian, muncul juga huruf Jepang baru yaitu aksara Katakana. Meski tujuan awalnya huruf ini diciptakan untuk membantu melafalkan kitab suci Buddha berbahasa Tiongkok, tapi seiring berjalannya waktu huruf Katakana cenderung digunakan untuk menuliskan kata serapan. Nah, agar mudah dipahami, berikut ringkasannya:

  • Aksara Kanji: Meski berawal dari Tiongkok, aksara Kanji Jepang telah memiliki perbedaan gaya coretan dan juga pelafalan.
  • Aksara Hiragana: Berawal dari Aksara Kanji lalu mengalami perubahan sehingga menjadi lebih sesuai dengan penulisan tata bahasa Jepang. Hiragana juga digunakan untuk menulis nama kata-kata asli Jepang, seperti saya (watashi =わたし), Jepang (Nihon = にほん), Takeshi (たけし), dll.
  • Aksara Katakana: Berawal dari Aksara Kanji lalu dikembangkan oleh rohaniawan Buddha dengan tujuan melafalkan kitab suci Buddha yang bertuliskan Kanji Tiongkok. Sekarang Katakana digunakan untuk menulis kata serapan, seperti pisang (banana = バナナ), laptop (pasokon = パソコン), Amir (Amiru = アミル), dll.

Itulah dasar dari Bahasa Jepang yang harus Anda ketahui sebelum mulai belajar Bahasa Jepang. Agar mudah menghafal huruf Jepang seperti Hiragana, Katakana, dan Kanji diperlukan latihan rutin baik menghafalkan melalui membaca ataupun dengan sering berlatih menulis. Selamat belajar!