Apa Makna Deskripsi? (2)

Komentar Terhadap Karya Wittgenstein

Halo Mitra Excellent!

Berikut lanjutan ketujuh dari topik Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi. Pembahasan kali ini melanjjutkan upaya memahami makna deskripsi, dengan menyajikan komentar-komentar terhadap karya Wittgenstein, salah seorang filosof besar dalam hal filosofi bahasa abad kedua puluh. Anda dapat mengikuti pengantar tulisan dalam topik ini di sini, bagian keduanya di sini, bagian ketiganya di sini, bagian keempatnya di sini, bagian kelimanya di sini, dan bagian keenamnya di sini..

Komentar tentang apa yang dilakukan oleh Wittgenstein begitu luas. Komentar yang paling rinci terhadap karya Wittgenstein yang paling berpengaruh. Philosophical Investigations, adalah oleh asisten-penulisnya G. P. Baker dan P. M. S. Hacker (dua volume awal adalah oleh Baker dan Hacker [1980, 1985] dan volume 3 dan 4 oleh Hacker sendiri [1990, 1996b]). Pembahasan Wittgenstein dalam topik-topik yang spesifik seringkali tersebar di tulisan-tulisannya, sehingga indeks yang dibuat Garth Hallet (1977) atas Philosophical Investigations seringkali bisa menjadi sebuah perangkat yang sangat berguna untuk menempatkan dan membawa seua tulisan-tulisannya paad subjek yang sama.

Murid awal Wittgenstein dan professor filosofi dari Cornell, Norman Malcolm, telah menyatukan koleksi-koleksi essay yang mendalam tentang karya-karya Wittgenstein. Bagian dari catatan khusus aalah karyanya berjudul Wittgensteinian Themes: Essays 1978-1989 (Malcolm, 1995). Bahkan kehidupan personal Wittgenstein memiliki ketertarikan yang memaksa karena, bagi Wittgenstein, filosofi bukan hanya sebuah koleksi puzzle, namun juga sebuah pedoman untuk hidup; sebagaimana pernah terujar,

what is the use of studying philosophy if all that it does for you is to enable you to talk with some plausibility about some abstruse questions of logic, etc., if it does not improve your thinking about the important question of everyday life?

[apa gunanya mempelajari filosofi apabila semua yang Anda peroleh adalah untuk menjadikan Anda dapat berbicara dengan suatu hal yang masuk akal tentang suatu pertanyaan mendalam tentang logika, dan lainnya, jika hal itu tidak meningkatkan pemikiranmu tentang pertanyaan yang penting dalam kehidupan sehari-hari?] (Malcolm, 1972, p. 39)

Dua karya terbaik yang biografis adalah karya Norman Malcom (1972) yang ringkas namun padat yaitu Ludwig Wittgenstein: A Memoir, dan karya Ray Monk (1990) yang bagus, dan biografi yang terperinci yaitu Ludwig Wittgenstein: The Duty of Genius.

Karya ketiga, Ludwig Wittgenstein: A Student’s Memoir Theodore Redpath (1990) menawarkan sebuah kesan dari mahasiswa undergraduate tentang filosof. Beberapa murid Wittgenstein telah mempubliasikan transkripsi literal dari kuliah di kelas dan diskusi (Ambrose & Macdonald, 1979; Geach, Shah, & Jackson, 1989; King & Lee, 1978).

Terakhir, Bouwsma mempublikasikan catatannya tentang diskusi yang dilakukannya dengan Wittgenstein selama beberapa tahun terakhir tentang kehidupan seorang filosof (Bouwsma, Wittgenstein, Craft, & Hustwit, 1986).

Sebuah karakteristik yang penting dalam karya Wittgenstein adalah kritisinya terhadap diri sendiri. Di awal-awal karirnya dia diengaruhi dengan kuat oleh logika dan filosofi analitis milik Gottlob Frege dan Bertrand Russell.

Setelah belajar bersama Russel di Cambridge University, Wittgenstein menulis buku pertamanya, Tractatus Logico-Philosophicus (Wittgenstein, 1961a, 1961b). Buku ini merupakan satu-satunya buku filosofi karangan Wittgenstein yang dipublikasi sepanjang hidupnya; buku ini meletakkan sebuah model bahasa yang logis dan teliti, serta sebuah teori gabar tentang makna, yang memiliki ciri terdahulu dalam karya Frege dan Russel.

Wittgenstein menulis sebagaian besar karya berjudul Tractatus sembari bertindak sebagai prajurit yang diberi tanda jasa dalam pasuka Austria pada masa Perang Dunia I.

Seusai menulis Tractatus, Wittgenstein merasa bahwa dia memecahkan persoalan besar dari filosofi analitis. Namun ketika dia jauh dari kehidupan akademis, bukunya memberi pengaruh besar dalam filosofi analitis di Inggris, begitu pula dalam gerakan filosofi analitis yang baru saja didirikan oleh Moritz Schlick; “Der Wiener Kreis” (The Vienna Circle).

Wittgenstein mulai melihat bahwa dirinya belum memecahkan keseluruhan persoalan filosofi dan terdapat persoalan serius dalam beberapa hal yang diungkapkannya dalam Tractatus.

Dia menghabiskan sisa kehidupan akademisnya di Cambridge University. Meskipun Bertrand Russel endukung kuat kembalinya Wittgenstein ke filosofi profesional, dia dengan segera mengkritisi dan mengubah banyak dari filosofi awalnya yang oleh Russel dianggap sangat menarik.

Penyesuaian yang Wittgenstein terhadap filosofi awalnya memuncak dalam koleksi keterangan filosofi yang diberi judul Philosophical Investigations.

Meskipun karya tersebut merupakan sebuah produk upaya editorial yang meluas dari Wittgenstein ada tahun-tahun terakhir kehidupannya, karya tersebut tidak dipublikasi hingga beberapa waktu setelah kematiannya.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari karya tersebut, tentu, tidak dapat dijawab oleh Wittgenstein sendiri. (Buku-buku Wittgenstein lainnya telah dijadikan satu diambil dari tulisan-tulisan Wittgenstein yang tidak dipublikasikan, pengumpulan ini dilakukan oleh murid-muridnya setelah kematiannya).

Wittgenstein meninggalkan kepada kita dua warisan interpretasi intelektualnya: Philosophical Investigations merupakan kritik meluas atas karya awalnya yaitu Tractatus, atau sebagaimana ungkapan komentator lainnya yang memaksa untuk menjadikan keduanya karya filosofi yang terpisah jauh.

Manapun dari dua pandangan tersebut yang tepat mungkin tidak akan pernah dijawab untuk memuaskan semua orang, namun upaya terbaik untuk menempatkan karya filosofi awal dan kedua sebagai perspektif adalah karya Norman Malcolm (1986) Nothing is Hidden: Wittgenstein’s Criticism of His Early Thought, dan P. M. S. Hacker (1989) Insight and Illusion.

Tulisan seputar Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi ini bersambung di publikasi artikel berikutnya.

Salam Excellent