Apa Makna Deskripsi? (3)

Pemetaan Karya Wittgenstein

Halo Mitra Excellent!

Berikut lanjutan kedelapan dari topik Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi. Pembahasan kali ini melanjutkan upaya memahami makna deskripsi, dengan melihat pemetaan karya Wittgenstein, salah seorang filosof besar dalam hal filosofi bahasa abad kedua puluh. Anda dapat mengikuti pengantar tulisan dalam topik ini di sini, bagian keduanya di sini, bagian ketiganya di sini, bagian keempatnya di sini, bagian kelimanya di sini, bagian keenamnya di sini, dan bagian ketujuhnya di sini.

Selamat membaca!

Meskipun Wittgenstein memfokuskan upaya filosofisnya pada banyak tema spesifik, karya-karyanya yang terpublikasi tidak memisahkan tulisan-tulisannya dalam kategori.

Remarks on the Foundations of Mathematics (1978) memuat banyak keterangan baik pada bahasa maupun matematika.

Philosophical Investigations (1953) memuat keterangan pada filosofi sebagai tambahan matematika, logika, dan psikologi, adapun Remarks on the Philosophy of Psychology (1980) memuat keterangan pada bahasa, psikologi, dan subjek-subjek lainnya.

Filosofi Wittgenstein dalam sebuah topik tertentu, dalam tingkat tertentu, berada pada semua hasil karya tulisnya, namun tidak dikumpulkan atau dirangkum dalam satu tempat.

Paragraf yang berturut-turut dalam karya-karya di atas mungkin mengulas sebuah topik spesifik, namun topik lainnya kemudian lebih diutamakan baru kemudian muncul kembali yang nampak secara acak pada karya yang sama, atau pada karya yang lain.

Tentu satu di antara alasan untuk pendekatan yang terlihat seperti tambalan bagi filosofi ini adalah bahwa Wittgenstein secara berkelanjutan bergumul dengan persoalan yang sangat dalam dan sukar untuk dipahami, persoalan-persoalan yang telah menantang hadirnya solusi sistematis oleh salah satu pemikir analitis terbaik abad ke-dua puluh.

Jadi, banyak komentar-komentarnya yang terekam bukan solusi bagi persoalan-persoalan tersebut, namun sisa-sisa pertarungan intelektual yang dihadapinya sepanjang hidupnya (karya tulisnya yang dipublikasi mulai naik daun beberapa hari sebelum dia meninggal, setelah mengalami sakit yang panjang).

Mereka yang tertarik pada aspek-aspek spesifik dari karya Wittgenstein dan tidak memiliki waktu untuk melakukan kajian atas karya tulisnya yang luas, mustilah mengandalkan sumber sekunder untuk menyatukan karya-karyanya pada topik tertentu.

Beruntung, terdapat beberapa karya yang bagus. Mereka yang tertarik pada filosofi bahasanya yang terbaru, karya 130 halaman yang ditulis Hanna Pitkn (1972): Wittgenstein and Justice, dalam salah satu pendapat, merupakan sebuah single pengantar terbaik dalam aspek ini tentang karya-karya Wittgenstein.

Mereka yang tertarik pada pemikiran Wittgenstein yang memerhatian topik-topik yang lebih spesifik semisal determinacy of sense (pikiran sehat yang memunculkan keadaan pasti), atau yang lain semisal the rejection of private languages (penolakan bahasa pribadi), the denial of psycho-physical parallelism (paralelisme psiko-fisis), dan the rejection of mind-body dualism (penolakan dualisme pikiran-raga), di antara yang lainnya, dapat melihat kelebihan yang dituliskan oleh Glock (1996): A Wittgenstein Dictionary, yang memuat diskusi singkat tentang (dan referensi untuk) banyak topik utama maupun sampingan dalam tulisan-tulisan Wittgenstein.

Pembaca yang ingin melihat karya tulis Wittgenstein pada topik yang sama, namun dalam karya yang berbeda yang dijadikan dalam satu karya, dapat merujuk pada karya Anthony Kenny (1994): The Wittgenstein Reader.

Karya tulis Wittgenstein pada filosofi bahasa demikian luas dan terhubung dekat dengan pandangannya tentang filosofi pikiran. Baginya, bahasa bukanlah suatu produk dari pemikiran, sebagaimana kebanyakan filosof menyetujuinya; “bahasa,” ungkapnya, “adalah … kendaraan pemikiran.” (language is … the vehicle of thought).

When I think in language, there aren’t “meanings” going through my mind in addition to the verbal expressions: the language is itself the vehicle of thought. (Wittgenstein, 1953, p. 107)

[Ketika aku berpikir pada bahasa, tidak ada “makna” yang melintas dalam benak saya selain ekspresi verbal: bahasa itu sendiri merupakan kendaraan dari pemikiran]

Atau dinyatakan dengan sedikit berbeda:

Knowledge is not translated into words when it is expressed. The words are not a translation of something else that was there before they were. (Wittgenstein, 1967, p. 32)

[Ilmu pengetahuan tidak diterjemahkan ke dalam kata-kata ketika diekspresikan. Kata-kata bukanlah sebuah penerjemahan dari sesuatu yang lain yang telah ada sebelumnya].

Tulisan seputar Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi ini bersambung di publikasi artikel berikutnya.

Salam Excellent!