Apa Makna Deskripsi? (4)

Pandangan Filosofis Wittgenstein

Halo Mitra Excellent!

Berikut lanjutan kesembilan dari topik Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi. Pembahasan kali ini melanjutkan upaya memahami makna deskripsi, dengan melihat pemetaan karya Wittgenstein, salah seorang filosof besar dalam hal filosofi bahasa abad kedua puluh. Anda dapat mengikuti pengantar tulisan dalam topik ini di sini, bagian keduanya di sini, bagian ketiganya di sini, bagian keempatnya di sini, bagian kelimanya di sini, bagian keenamnya di sinibagian ketujuhnya di sini, dan bagian kedelapannya di sini.

Selamat membaca!

Poin yang dibuat Wittgenstein bukanlah bahwa semua pemikiran menggunakan bahasa sebagai perantara/medium, karena tentu kita dapat “berpikir tentang” musik atau gambar visual tanpa rujukan kepada bahasa sama sekali, namun bahwa ketika kita menggunakan bahasa kita biasanya menggunakannya sebagai sebuah makna untuk berpikir, bukan sebuah produk pemikiran sebagai sebuah ekspresi dari sesuatu yang kita pikirkan.

Copernican Reversal” ini menerangkan bahwa pemikiran dan bahasa secara tradisional dipandang berkaitan, memiliki implikasi penting bagi penarikan informasi.

Proses penarikan informasi seringkali dilihat sebagai suatu hal ketika penyelidik memiliki suatu pikiran-sebuah “keperluan informasi” -yang kemudian diterjemahkannya ke dalam suatu pertanyaan pencarian aktual, melalui jalan yang sama yang orang-orang pikirkan untuk mengutarakan dalam bahasa biasa apa yang mereka telah dapati dalam pikiran.

Namun apabila Wittgenstein benar bahwa penggunan bahasa kita adalah sebuah bentuk dari berpikir, maka “bahasa” penarikan -term pencarian yang tersedia bagi kita dan jalan-jalan yang mana mereka dapat dikombinasikan– adalah “bahasa” yang mana kita pikirkan, dan kemudian diartikulasikan, informasi apa yang kita inginkan.

Ringkasnya, bagaimana kita berpikir tentang kebutuhan informasi sangat terbatasi oleh bahasa dalam penarikan yang tersedia bagi kita, dan sejauh ini sebagaimana bahasa dalam penarikan terbatas, maka demikianlah pikiran kita tentang apa yang kita kehendaki.

Bahasa dalam penarikan tidak hanya membatasi bagaimana kita mengartikulasi apa yang kita kehendaki namun juga dapat membatasi proses pikiran yang mana kita tentukan tentang apa yang kita kehendaki.

Barangkali, kita ingin memikirkan bahwa kita mencetak sistem penarikan informasi untuk melayani kebutuhan kita untuk menemukan informasi; namun, jika Wittgenstein benar, maka boleh jadi inilah yang membuat sistem penarikan informasi mencetak kita untuk berpikir mengikuti garisnya.

Apabila ini kejadiannya, maka mungkin akan menjadi sangat susah untuk men-desain hal yang berbeda secara mendasar atau meningkatkan sistem penarikan informasi, karena kita secara virtual terkunci dalam jalan berpikir tentang penarikan informasi yang diwujudkan oleh sistem yang ada.

Wittgenstein menyajikan pandangannya tentang bahasa dalam rangka memberikan suatu kritik atas pandangan tradisional yang umumnya sudah diterima masyarakat luas. Dalam Philosophical Investigations dia menyajikan sebuah teori tentang bahasa berdasarkan tulisan-tulisan tentang filosof abad pertengahan, St. Augustine. Model Augustine tentang bahasa merupakan sebuah model rujukan sederhana yang meskipun berusia tua, sungguh telah sangat gigih, berada dalam berbagai bentuk bahkan hingga saat ini Model Augustine tentang bahasa melihat makna linguistik dalam hal-hal sebagai berikut:

  1. Kata-kata memberi nama pada objek: makna dari suatu kata adalah objek yang mana mewakilinya.
  2. Setiap kata memiliki makna.
  3. Makna dari suatu kata independen berdasarkan konteks.
  4. Makna kalimat terdiri dari makna-makna kata-kata.

Tulisan seputar Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi ini bersambung di publikasi artikel berikutnya.

Salam Excellent!