Apa Makna Deskripsi?

– Kata dan Makna

Halo Mitra Excellent!

Berikut lanjutan keenam dari topik Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi. Pembahasan kali ini masuk ke pembahasan makna deskripsi, menelaah kembali secara filosofis term dasar dalam topik ini untuk berlanjut lebih jauh dalam belantara filosofi bahasa dan penarikan informasi. Anda dapat mengikuti pengantar tulisan dalam topik ini di sini, bagian keduanya di sini, bagian ketiganya di sini, bagian keempatnya di sini, dan bagian kelimanya di sini.

Selamat membaca!

Disebabkan pertumbuhan yang dramatis dan hampir tidak terhindarkan dari sistem penarikan informasi, serta begitu banyak celah dalam deskripsi informasi yang bisa saja keliru, apabila kita ingin meningkatkan proses pelengkap dalam menggambarkan apa yang kita inginkan dan menggambarkan apa yang tersedia untuk kita, merupakan hal yang penting untuk menelaah sejeli mungkin aktivitas penggambaran konten intelektual dari informasi.

Di awal pembahasan ini, dinyatakan dengan jelas bahwa: “ketika kita menggambarkan apa yang kita kehendaki, kita harus memaknai sesuatu dengan deskripsi tersebut.”

Namun tepatnya apa yang sebetulnya kita maksudkan ketika kita menggambarkan apa yang kita inginkan?

Satu setengah dekade yang lalu, van Rijsbergen (1986a) menulis bahwa satu di antara komponen yang paling tidak ada dari teori penarikan informasi telah nampak secara eksplisit, yaitu gagasan formal tentang makna.

Itulah mengapa pembahasan filosofi bahasa dalam topik ini diperuntukkan memberi pedoman bagi kita.

(Habitat komplementer dari indexing dan proses pencarian adalah topik mayoritas dari Blair [1990]. Upaya yang lebih awal untuk mengurangi keadaan yang tak pasti dari dua proses tersebut disajikan dalam Blair [1986]).

Wittgenstein: Kata dan makna

Para filososf telah mempertimbangkan “makna dari makna” semenjak periode Aristoteles, namun mungkin tidak ada filosof yang memiliki impact/pengaruh yang lebih besar dalam filosofi bahasa dibanding Ludwig Wittgenstein (1889-1951).

Apa yang dilakukan oleh Wittgenstein merupakan sesuatu yang menjadi penolong dalam membawa era linguistik/linguistic turn dalam filosofi analitis selama kurun abad ke-20. Linguistic turn dihasilkan dari realisasi filosof yang mempunyai perhatian besar untuk mengkaji “ideas” yang utamanya mengkaji deskripsi ide-ide/descriptions of ideas– bukan apa yang kita pikirkan, tetapi apa yang kita katakan saat kita berpikir.

Akses langsung satu-satunya yang kita miliki adalah atas ide-ide kita sendiri, dengan melakukan introspeksi. Namun kita tidak dapat dengan mudah meng-generalisasi introspeksi kita atas statemen-statemen tentang bagaimana orang lain berpikir (Hacker 1996b; Rorty, 1976).

Wittgenstein (1953) memperkuat perubahan ini pada apa yang dilakukannya kemudian, Philosophical Investigations, dengan berargumentasi bahwa banyak dari persoalan filosofis yang menyulitkan para filosof sebetulnya sama sekali bukan persoalan, namun hanyalah hasil dari penggunaan bahasa yang keliru.

Wittgenstein menyebutkan dengan ringkas tetapi jelas,

“Philosophy is a battle against the bewitchment of our intelligence by means of language”

[Filosofi adalah sebuah pertarungan melawan terpesonanya kecerdasan kita dengan makna-makna bahasa] (Wittgenstein, 1953, p. 47).

Merupakan hal tidak mungkin untuk menyajikan pembahasan Wittgenstein yang luas secara keseluruhan tentang filosofi bahasa di sini. Karyanya yang terpublikasi hingga mencapai 13 volume, dan karyanya Nachlass, atau literary estate (kebun literasi), yang banyak darinya belum terpublikasi, bahkan lebih besar lagi-lebih dari 30.000 halaman (saat ini tengah proses publikasi dalam 15 volume atau lebih sebagaimana Wiener Ausgabe [Nedo, 1993]).

Kisah komplikasi dan intrik dari proyek ini dirinci dalam Toyton (1997). Versi CD-ROM elektronik lengkap karya Wittgenstein berjudul Nachlass, tulisan-tulisan yang dipublikasi, pemberian materi kuliah, dan surat-surat, masing-masing tersedia di InteLex (http:/library.nlx.com/).

Pembaca semestinya juga telah memahami bahwa Wittgenstein bukanlah satu-satunya filosof besar tentang bahasa; lainnya akan dibahas juga di sini. Memang tidak dipungkiri adanya filosof-filosof yang berselisih pendapat dengan Wittgenstein. Pembahasan ini bukan dalam rangka membela Wittgenstein, namun menyajikan porsi yang relevan atas apa yang telah dilakukannya seterang ungkin disebabkan pengaruhnya yang besar dalam lingkaran filosofi dalam lingkup linguistic dan psikologi.

Sebuah peninjauan yang luas yang baik tentang filosofi bahasa pada abad ke-20 disajikan oleh Lycan (2000). Blackburn (1984) menyajikan sebuah pengantar untuk filosofi bahasa yang ditulis spesifik untuk mereka yang bukan filosof. Pengantar Devitt dan Sterelny (1999) tentang filosofi bahasa meliputi sebuah bagian tentang “language and mind”/bahasa dan jiwa dan sebuah diskusi tentang apa yang dilakukan oleh seorang ahli bahasa, Noam Chomsky.

Terakhir, banyak dari karya-karya tentang filosofi bahasa dikumpulkan dalam Rosenberg dan Travis (1971). Pengumpulan yang lebih baru dapat ditemukan dalam Ludlow (1997).

Tulisan seputar Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi ini bersambung di publikasi artikel berikutnya.

Salam Excellent