Persoalan Penarikan Informasi (2)

– Kegagalan Diskriminasi

Halo Mitra Excellent!

Kali ini kami menyajikan lanjutan ketiga tulisan seputar Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi. Tulisan kali ini mengulas seputar kegagalan diskriminasi dalam deskripsi, yang sangat diperlukan dalam menyajikan pengungkapan informasi yang dikehendaki. Anda dapat mengikuti pengantar tulisan dalam topik ini di sini, dan bagian keduanya di sini.

Selamat membaca!

Sekalipun proses deskripsi utamanya berfokus pada dokumen yang lingkupnya individu atau kategori informasi, proses diskriminasi memerlukan pandangan persoalan representasi secara lebih luas.

Hal ini tidak hanya berkaitan dengan dokumen dengan lingkup individu atau kategori-kategori informasi, tetapi juga hubungan antara dokumen yang dikehendaki dengan dokumen-dokumen lainnya yang tersedia bagi penyelidik.

Tujuan dari diskriminasi adalah untuk memilah -dalam arti pendeskripsian- antara dokumen yang nampak berguna bagi penyelidik dari dokumen-dokumen yang ada dengan konten intelektual yang serupa yang nampaknya tidak berguna.

Kemampuan melakukan diskriminasi antara informasi yang berguna dan tidak berguna menyusun deskripsi yang berkelanjutan yang dapat dikarakterisasi, berkisar mulai dari yang spesifik (sangat diskriminasi) ke istilah umum (kurang diskriminasi).

Kegagalan diskriminasi yang paling jelas adalah deskripsi dari konten intelektual atas dokumen yang dikehendaki yang mana terlalu umum untuk dipisahkan dari konten intelektual dari dokumen yang tidak diperlukan.

Sebagai contoh, jika deskripsi subjek “computers” (komputer) ditambahkan pada semua buku dan jurnal pada sebuah komputer perpustakaan ilmu pengetahuan, tentu tidak ada kekuatan diskriminasi sama sekali di dalam perpustakaan tersebut.

Kegagalan diskriminasi sedemikian terlau jelas untuk menjadi suatu hal yang biasa, namun sebuah bentuk tersembunyi dan membahayakan dari kegagalan diskriminasi dapat terjadi bahkan dengan penerapan index deskripsi yang penuh kehati-hatian.

Kegagalan tersembunyi dan berbahaya seperti ini terjadi ketika sebuah pendeskripsian mengidentifikasi sejumlah dokumen yang relatif sedikit dalam sebuah sistem penarikan informasi, dan telah dilakukan diskriminasi dengan sangat baik, namun sepanjang sistem tersebut berjalan, dokumen demi dokumen digambarkan dengan cara yang sama terus ditambahkan.

Bahkan, jumlah dokumen yang digambarkan denan cara ini mencapai sebuah titik yang mana deskripsi, dengan sendirinya, tidak cukup baik dalam melakukan diskriminasi sebagai hal yang berguna bagi penyelidik; yang mana, ketika deskripsi digunakan dengan sendirinya sebagai istilah pencarian, ia menarik lebih banyak informasi dari pada yang diinginkan oleh peneliti untuk dicari dan untuk menemukan apa yang mereka kehendaki (Blair, 1980).

Tentu, kondisi ketika sebuah deskripsi gagal untuk mendiskriminasi dengan benar bukanlah suatu jumlah yang pasti, dan dapat bergantung pada banyak faktor, termasuk ketekunan dari penyelidik yang menggunakan deskripsi tersebut dan ketersediaan dari deskripsi lainnya yang dapat mengurangi ukuran dari kategori diskriminasi informasi yang lebih sedikit.

Beberapa peneliti secara signifikan lebih teliti atau lebih termotivasi dari yang lainnya dan lebih ingin untuk melihat-lihat seperangkat besar dari dokumen yang ditarik. Ketekunan sedemikan seringkali bergantung pada pentingnya menemukan dokumen yang diinginkan dan waktu yang tersedia untuk pencarian.

Di sisi lain, menggunakan deskripsi lain mungkin mengurangi jumlah satuan pada kategori tertentu.

Periode waktu seringkali digunakan untuk melakukan kualifikasi sebuah deskripsi yang lebih tidak mendiskriminasi, sebagaimana ketika satu hanya memerlukan deskripsi satuan yang paling mutakhir sebagai kategori luas dari “computer science” (ilmu komputer).

Demikianlah ulasan tentang Kegagalan Diskriminasi dalam Penarikan Informasi. Tulisan seputar Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi ini bersambung di publikasi artikel berikutnya.

Salam Excellent!