Koreksi Model Bahasa Augustinian (3)

Perbandingan (2)

Halo Mitra Excellent!

Berikut lanjutan keduabelas dari topik Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi. Pembahasan kali ini melanjutkan bahasan tentang koreksi atau kritisi atas Model Bahasa yang diperkenalkan oleh St. Augustine, salah seorang filosof abad pertengahan. Anda dapat mengikuti pengantar tulisan dalam topik ini di sini, bagian keduanya di sini, bagian ketiganya di sini, bagian keempatnya di sini, bagian kelimanya di sini, bagian keenamnya di sini, bagian ketujuhnya di sini, bagian kedelapannya di sini, bagian kesembilannya di sini, bagian kesepuluhnya di sini, dan bagian kesebelasnya di sini.

Selamat membaca!

Perbandingan (2)

Tentu jelas bahwa meskipun ketika suatu kata atau frasa memiliki sebuah rujukan jelas nyata semisal yang ada pada “Scott” dan “pengarang Waverley”, pengertian, atau “makna” bahwa kata atau frasa itu lebih dari apa yang dirujuk.

Dalam beberapa kasus ketika kita mengacu pada seorang tertentu yang mungkin tidak dimaksudkan pada seseorang sama sekali, namun beberapa aspek menonjol dari seseorang.

Sebagai contoh, ayah Wittgenstein, Karl, dulu pernah dirujuk sebagai “Andrew Carnegie-nya Austria.”

Dengan ini, bukan berarti bahwa Karl terlihat seperti Carnegie, atau memiliki leluhur Scotlandia, namun bahwa dia, seperti Carnegie, adalah seorang industrialis kaya yang berlangganan pada kesenian.

Akhirnya, merupakan sebuah bukti bahwa banyak kata-kata, semisal “kejujuran” dan “unicorn” tidak merujuk pada objek sama sekali, namun kita masih menggunakannya secara teratur dan memahaminya ketika kita menggunakannya. Artinya mustilah ada hal lain lainnya dari sekadar rujukan sederhana.

Model bahasa Augustine adalah sebuah model sederhana dan mudah untuk dipahami, namun beberapa aspek yang lebih halus pada mulanya tidak nampak jelas. Terutama, deskripsi Augustine tentang bagaimana dia belajar berbicara adalah hal penting.

Dalam ungkapannya, dia

“…heard words repeatedly used … [and] gradually learnt to

understand what objects they signified . . .” (Wittgenstein, 1953, p. 2).

[…mendengar kata-kata yang digunakan berulang-ulang … (dan) secara bertahap beajar untuk memahami objek                    apa yang dimaksud …]

Kalimat tersebut menunjukkan poin bahwa kita dapat mendengar dan membedakan kata-kata sebelum kita memahaminya.

Oleh karena itu, kata-kata bisa saja ada bagi kita tanpa makna –yaitu sebagai kata-kata yang tidak kita mengerti.

Lebih jauh, karena kita bisa memunculkan kata-kata tanpa makna, selanjutnya adalah bahwa “makna” merupakan hal yang independen dari kata-kata –nampaknya menjadi sesuatu yang dapat ditambahkan pada kata-kata dengan suatu aksi spesifik semisal mencarinya di kaus.

Pada beberapa perumpamaan kita bahkan bisa memunculkan suatu “pengertian” atau “makna” tanpa suatu kata pun.

Kita dapat melihat ini terkadang ketika kita membandingkan kata-kata dalam dua bahasa.

Sebagai contoh, Bahasa Jepang memiliki sebuah kata yang bermakna titik ketika suatu suara, semisal dentingan dari sebuah bel besar, telah mereda hingga pada tingkat yang para pendengar tidak dapat menyatakan apakah mereka masih dapat mendengarnya atau tidak.

Dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia, kita tidak memiliki kata atau frasa sederhana untuk “makna” sedemikian.

Pandangan Augustine tentang bahasa mendikotomikan kata-kata dan makna, serta menyusun sebuah kerangka yang mana keduanya dapat dianggap terpisah, sebuah kerangka yang ada dalam berbagai bentuk hingga hari ini, paling mencolok ada dalam keyakinan tentang independensi syntax dan makna yang merupakan batu pertama dari tatabahasa generative/generative grammar yang dicetuskan Chomsky (1965).

Dikotomi antara kata-kata dan makna ini mendorong kita untuk berhadapan dengan pertanyaan tentang makna dalam sebuah cara yang dapat diprediksi dan hampir tidak dapat dihindari.

Secara spesifik, ketika kita tidak lagi dapat mempertahankan klaim bahwa makna sama dengan beberapa entitas semisal sebuah “objek,” kita takluk pada “objek” namun kita tidak dapat bersikap acuh untuk mencoba mempertahankan kerangka bahwa “makna” dari suatu kata adalah suatu entitas dari beberapa jenis.

Kita berpikir tentang suatu kata memiliki sebuah “makna” dalam cara yang sama dengan ketika berpikir bahwa orang-orang memiliki orang tua biologis.

Anak-anak mungkin tidak mengetahui siapa orang tua mereka, namun keberadan mereka tentu tidak diragukan.

Wittgenstein juga percaya pada dikotomisasi kata-kata dan makna atau tatabahasa/grammar di awal karirnya. Namun hal itu merupakan satu dari kontribusi utamanya pada filosofi bahasa untuk mempertanyakan dikotomi fundamental ini; secara ringkas, untuk melawan “tekanan” / “paksaan” untuk memisahkan antara kata-kata dan makna yang telah didorong oleh model bahasa Augustine kepada kita.

Semakin menarik bukan? Bagaimana perlawanan Wittgenstein? Cermati lanjutannya.

Selamat membaca!