Koreksi Model Bahasa Augustinian

– Persoalan 1: Kata-kata memberi nama kepada objek

Halo Mitra Excellent!

Berikut lanjutan kesepuluh dari topik Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi. Pembahasan kali ini menyajikan koreksi atau kritisi atas Model Bahasa yang diperkenalkan oleh St. Augustine, salah seorang filosof abad pertengahan. Anda dapat mengikuti pengantar tulisan dalam topik ini di sini, bagian keduanya di sini, bagian ketiganya di sini, bagian keempatnya di sini, bagian kelimanya di sini, bagian keenamnya di sini, bagian ketujuhnya di sini, bagian kedelapannya di sini, dan bagian kesembilannya di sini.

Selamat membaca!

  1. Kata-kata memberi nama kepada objek.

Apabila kita mempertimbangkan contoh-contoh dari kata-kata semisal “kursi”, “apel”, dan “pensil,” bahasa nampak bekerja sedimikian. Namun apabila kita melihat dalam contoh seperti “kejujuran,” “karisma,” dan “besok lusa,” merupakan hal yang lebih susah untuk menyebut kata-kata tersebut sebagai “objek”.

Wittgenstein (1953, p. 174) memberi kita sebuah petunjuk dengan retoris tentang kompleksitas yang dilihatnya dalam jenis ungkapan-ungkapan tersebut:

For a large class of cases-though not for all-in which we employ the word ‘meaning’ it can be explained thus: the meaning of a word is its use in the language.

[Untuk sebuah kelas besar dari kasus-kasus –meskipun bukan untuk semua- yang mana kita membangun kata ‘makna’ dapat dijelaskan sebagai berikut: makna dari sebuah kata adalah kegunaannya dalam bahasa.]

Sebagai konsekuensinya, untuk memahami “makna” dari “besok lusa,” kita perlu untuk dapat menggunakannya dalam keadaan yang tepat, dan untuk menggunakannya dalam keadaan yang tepat kita perlu pengalaman membedakan  satu hari dari lainnya-“hari ini,” “besok,” “besok lusa”-dari menelaah rangkaian dari satu hari mengikuti hari ainnya, dan dari mengunakan hari sebagai unit waktu dalam suatu aktivitas yang beragam.

Lebih jauh lagi, hal-hal ini bukanlah aktifitas independen yang dapat dipisahkan dari kehidupan dan praktik sehari-hari.

Untuk menggunakan “besok lusa” dengan benar bukan hanya untuk mengetahui definisi kamus, hal ini untuk dapat melihat keadaan yang sesuai dan aktifitas yang membuat hal ini dapat digunakan, dan kemampuan ini lebih jauh tergantung pada kemampuan kita untuk berpartisipasi dalam sebuah jangkauan luas dari aktivitas manusia yang memahami “besok lusa” adalah penting.

Seseorang yang berbicara bahasa lain dan belajar Bahasa Inggris bertanya, “Apa makna ‘besok lusa?’” Dia bisa menjawab pertanyaan sederhana ini karena dia telah berbicara bahasa lain dan mungkin familier dengan jenis-jenis aktivitas yang mana frasa sedemikian digunakan.

Seekor anjing, bagaimanapun, tidak saling memahami dengan kita aktivitas “besok lusa” penting. Wittgenstein (1953, p. 223) membahas ini dengan lebih enarik dengan salah satu pernyataan yang mengandung teka-teki:

 

If a lion could talk we could not understand him.

[Jika seekor singa bisa berbicara kita tidak dapat memahaminya]

 

Alasan kita tidak dapat memahami pembicaraan singa adalah karena kita tidak memiliki pengalaman personal dari aktifitas yang mana dihadapinya.

Apabila kita dapat memahami makna dari suatu kata dengan melihat penggunaannya, maka maknanya terhubung secara intim dengan aktifitas dan praktik yang sama-sama kita miliki dengan orang lain. Apabila kita tidak memiliki aktifitas apapun yang sama, maka tidak ada yang dapat kita bincangkan.

Dalam perkataan Wittgenstein, kita memiliki terlalu sedikit “bentuk kehidupan” yang sama dengan singa yang mana kita dapat mendasari bahasa yang sama. Bagi Wittgenstein:

 

We don’t start from certain words, but from certain occasions or activities. (Wittgenstein, 1972, p. 3)

[Kita tidak memulai dari kata-kata tertentu, namun dari peristiwa atau aktifitas tertentu.]

 

Only in the stream of thought and life do words have meaning, (Wittgenstein, 1967, p. 30)

[Hanya dalam arus pikiran dan hidup kata-kata memiliki makna.]