Masalah Budaya dalam Penerjemahan (Part 2 of 3)

Sebelumnya : Part 1

Meskipun beberapa konsep budaya tampaknya bersifat universal, bagaimanapun; mereka tidak ditafsirkan dengan cara yang sama; setiap bahasa memiliki interpretasinya sendiri sesuai dengan cara berpikir masyarakatnya, gaya hidupnya, dan bahkan posisi geografis mereka. 

Sebagaimana dikatakan sebelumnya oleh Ivir (1981: 56) bahwa bahasa dilengkapi dan di-leksikalisasi secara berbeda. Interpretasi mungkin sangat berbeda sebagaimana juga mungkin hanya sedikit berbeda, yaitu sekadar tumpang tindih yang halus. 

Perbedaan antara budaya dan persepsi kehidupan dari satu masyarakat dengan yang lainnya dapat menyebabkan banyak masalah bagi para penerjemah. Mereka menciptakan banyak celah yang menyebabkan banyak tumpang tindih di antara pasangan bahasa. Karenanya tugas penerjemahan akan menjadi terlalu rumit.

Telya et. al. (1998: 58) berpendapat bahwa, misalnya, orang Rusia memahami “hati nurani” sebagai kehadiran Tuhan dalam jiwa seseorang; sedangkan orang Inggris melihatnya sebagai pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. 

Orang bisa melihat bahwa persepsi orang Rusia tentang istilah “hati nurani” kira-kira sama dengan persepsi kaum Muslim Arab; kedua bahasa tersebut menganggapnya sebagai konsep agama. Bagi kaum Muslim Arab; baik dan jahat semuanya terkait dengan agama. Tuhan adalah satu-satunya kebenaran; berbuat baik berarti mematuhi Tuhan, berbuat jahat berarti tidak taat kepada Tuhan. Bagi mereka; hati nurani yaitu merasakan kehadiran Allah kapan pun dan di mana pun. Jadi, penerjemah yang mengabaikan spesifikasi budaya seperti itu tidak akan dapat mengenali cara-cara persepsi yang berbeda yang ada di antar orang, bahasa, maupun budaya. 

Jadi dalam kondisi adanya bebagai pengalih perhatian sebagaimana pada contoh di atas, penerjemah akan salah paham, salah dalam menerjemahkan konsep hati nurani karena ia menerima begitu saja konsep hati nurani itu sebagai hal yang sama dalam semua bahasa, bagi semua orang dari berbagai daerah.

Budaya memang menyebabkan banyak masalah, itulah mengapa para penerjemah dituntut untuk kompeten bukan hanya di tingkat linguistik, namun lebih lagi di tingkat budaya. 

Mari kita pertimbangkan lebih jauh, dengan melihat bagaimana orang Rusia menerjemahkan ungkapan “House of Commons”.

Rusia dulu menerjemahkannya sebagai “pemimpin rapat” yang jelas setara; hal ini tidak mencerminkan peran pembicara, tidak pula ekspresinya yang memiliki padanan dalam bahasa Rusia, Arab, dan Cina.

”The-House-of-Commons” adalah orang yang bertindak sebagai seorang independen yang mempertahankan otoritas dan ketertiban di parlemen (Mona, 1992: 21).

Masalah-masalah yang muncul seputar penerjemahan kebudayaan adalah hasil dari perbedaan antar bahasa sebagai seperangkat kebahasaan dan makna, sebagaimana antar budaya adalah cara untuk mengekspresikan identitas diri, juga gaya hidup. 

Khususnya ketika para penerjemah menemukan kata dalam SL / C yang mungkin mengekspresikan konsep yang sama sekali tidak dikenal dalam TL / C; baik itu konsep abstrak maupun konkret.

Pada tahun 1992, Mona Baker menyatakan bahwa kata SL dapat mengekspresikan konsep yang sama sekali tidak dikenal dalam budaya target. Bisa abstrak maupun konkret. Bisa jadi berupa keyakinan agama, kebiasaan sosial, atau bahkan jenis makanan. 

Dalam bukunya, “In Other Words, ia berargumen tentang ketidaksetaraan yang umumnya ditemui saat penerjemah menerjemahkan dari SL ke TL, sementara kedua bahasa memiliki budaya khusus yang berbeda. Dia menempatkan mereka dalam urutan sebagai berikut:

a) Konsep spesifik kultural
b) Konsep SL yang tidak dijelaskan dalam TL 
c) Kata SL yang secara semantik rumit 
d) Bahasa sumber dan target membuat perbedaan makna yang berbeda 
e) TL tidak memiliki super ordinat 
f) TL tidak memiliki istilah tertentu (hiponim) 
g) Perbedaan dalam perspektif fisik atau antarpribadi 
h) Perbedaan makna ekspresif 
i) Perbedaan bentuk 
j) Perbedaan dalam frekuensi dan tujuan penggunaan formulir tertentu 
k) Penggunaan kata-kata pinjaman dalam teks sumber

Mona Baker juga percaya bahwa penerjemah perlu memiliki seperangkat pengetahuan tentang semantik dan leksikal. Karena dalam hal ini:

Dia akan menghargai “nilai” kata dalam sistem pegetahuan yang ada dan perbedaan struktur dalam SL dan TL. Ini memungkinkannya untuk memberi nilai dari item yang diberikan dalam seperangkat leksikal. 

Ia dapat mengembangkan strategi untuk menangani bidang semantik non-ekuivalen. Teknik-teknik ini diatur secara hierarkis dari umum (superordinat) ke spesifik (hiponim).

Menarik bukan? Nantikan lanjutannya di Part 3.