Penerjemahan dan Penyensoran (Part 2 of 3)

Sebelumnya: Part 1

Menurut Burridge, penyensoran adalah “penekanan atau larangan atas pidato atau tulisan yang dikutuk sebagai subversif atas kebaikan bersama” (Allan dan Burridge, 2006). Di masa lalu, penyensoran digunakan untuk keuntungan bagi otoritas simbolik yang mengatur publik sebagaimana gereja, negara (McCarthy, 1995). 

Arti yang lebih luas dari istilah ini menurut Wolf adalah; sebuah penjagaan dan pengawalan tradisi, membatasi tidak hanya yang lain, tetapi juga berperan sebagai imunisasi terhadap segala jenis perubahan. Hal ini akan menstabilkan tradisi, mengatur dan memperkuat sesuatu yang pada dasarnya memiliki karakter yang sangat bervariasi (Michaela, 2002). 

Definisi-definisi ini menegaskan bahwa penyensoran adalah rezim represif yang terus mengabaikan kebebasan pers, kebebasan berekspresi, dll. di sisi sebaliknya, hari ini; kita dapat menemukan berbagai arti istilah penyensoran yang pelaksanaannya tidak bergantung pada pemaksaan penuh oleh sebuah ‘institusi’ eksternal tetapi lebih kepada keadaan ideologis, estetika atau budaya. Karenanya, begitu rumit sehingga maknanya tidak dapat dibatasi pada praktik-praktik penindasan oleh pemerintah yang otokratis.

Sementara penyensoran memiliki dua klasifikasi utama: penyensoran preventif yang menggeser tekanan agar terjadi adaptasi, dari kehidupan publik ke batin individu, sehingga membantu individu untuk menginternalisasikan penyensoran –jenis ini juga termasuk dalam penyensoran diri-; dan penyensoran eksplisit, yang mengandaikan tingkat kesadaran dan intensionalitas tertentu yang tidak dapat dikurangi (Assmann, 1987). 

Penyensoran mandiri “adalah sebagai perjuangan etis individu antara diri dan penerjemah konteks, yang cenderung menyensor diri mereka sendiri –baik secara sukarela atau tidak sengaja- untuk menghasilkan penulisan ulang yang ‘dapat diterima’ baik dari sudut pandang sosial maupun pribadi” (Santaemilia, 2008). 

Sebagaimana yang dijelaskan dalam edisi online kamus Cambridge, “penyensoran mandiri adalah kendali atas apa yang Anda katakan atau lakukan untuk menghindari gangguan atau menyinggung orang lain, tetapi tanpa diinformasikan secara resmi bahwa kontrol seperti itu perlu”.

Dalam proses penerjemahan, penyensoran mandiri dapat mencakup semua bentuk penghapusan, distorsi, penurunan peringkat, pengaturan yang keliru, ketidaksetiaan, dan sebagainya. Selain itu keputusan sensor diri akan dihasilkan dari pemahaman tersirat dan identifikasi lengkap dengan pandangan penyensoran resmi tentang apa yang dapat dianggap tidak menyenangkan, berbahaya, sensitif, atau tidak nyaman bagi masyarakat tertentu di mana penyensoran itu seharusnya dapat memberikan perlindungan. 

2. Alasan penyensoran: 
Di dunia Arab, penyensoran telah dikenakan pada semua media komunikasi: buku, koran, radio, TV, bioskop, dll., karena tiga alasan:

Pertama, politik: Pemerintah tertentu untuk dapat memerintah warga negara mereka dengan mudah, mereka tidak membiarkan mereka mengetahui tentang budaya lain (juga cara mereka berpikir). 

Kedua, agama: Di dunia Arab beberapa adegan dari pertunjukan film Amerika, di mana terdapat adegan orang yang minum wiski harus dilarang, karena alkohol dilarang dalam agama mereka. 

Namun, dalam beberapa kartun, adegan serupa diterjemahkan sebagai jus.

Ketiga, penyensoran mandiri: Terkadang penerjemah yang memutuskan untuk memodifikasi elemen tertentu karena dia merasa bahwa beberapa hal tidak sesuai untuk publik di tempat mereka tinggal. Penerjemah cenderung berpikir bahwa mereka harus dilindungi, dan mereka percaya bahwa mereka dapat menentukan apa yang benar atau apa yang salah dalam pesan tersebut, terlepas dari apa semangat dan sikap aslinya.

Menarik bukan? Nantikan lanjutannya di Part 3 | Sebelumnya: Part 1