Penerjemahan dan Penyensoran (Part 3 of 3)

Sebelumnya: Part 1 | Part 2

3. Studi Kasus: 

Kasus I: Penyensoran Mandiri dalam Menerjemahkan Karya Sastra Remaja Sebagai Studi Kasus: Harry Potter.
Kasus-kasus ini akan menggambarkan manipulasi dalam teks terjemahan untuk alasan agama dan budaya. Penerjemah memutuskan untuk memodifikasi elemen tertentu dalam seri Harry Potter yang populer karena dia merasa hal tersebut tidak pantas; misalnya, babi dan daging babi di dunia Arab dan Islam dilarang dan penggunaan kata “babi” sebagai metafora untuk kenajisan.

Dalam hal ini, penerjemah cenderung mengubah kata-kata ini menurut budaya Arab Islam: Kata babi diterjemahkan sebagai / harūf / (domba dalam bahasa Indonesia), bahkan jika apa yang dilihat dalam kartun adalah adalah anak babi. 

Jelas, ini karena alasan agama dalam tradisi Islam, “babi” dipandang sebagai hewan yang kotor, haram, dan terlarang.

Di sisi lain, ada juga kata sumpah, yang mana suatu budaya menganggap babi atau babi hutan bukan hanya dapat diterima, tetapi bahkan suci. 

Serial Harry Potter penuh dengan hal-hal berbau kekuatan sihir/magic. Sebagai hasilnya terjemahannya menunjukkan tingkat penerimaan yang berbeda dalam hal kebebasan penerjemahan di seluruh dunia Arab, misalnya, terjemahan “karpet sihir” sebagai / bisātun tāirun / (karpet terbang dalam bahasa Indonesia) (Athamneh, 1999). 

Nama Whomping Willow”, yang menunjukkan kemampuan pohon untuk menyerang orang dengan keras menggunakan cabangnya yang kuat, terjemahan bahasa Arab-nya adalah / aš-šajaratu al-‘imlāqatu / (pohon raksasa). 

Dalam contoh ini, manipulasi jelas digunakan dalam penerjemahan Harry Potter.  Manipulasi ini dilakukan oleh penerjemah untuk melindungi pemirsanya dari budaya asing  juga memuat keyakinan, dan karena dia merasa bahwa mereka tidak pantas bagi publik mereka. 

Kasus II: Penyensoran Mandiri dalam Hal-Hal yang Tidak Pantas 
Dalam kasus penerjemahan media, penyensoran terkadang dilakukan pada saat dubbing dan pemberian subtitle dengan cara menutupi atau melakukan penghapusan dan penggantian kalimat erotis, vulgar, atau kiasan dan referensi yang dirasa membuat tidak nyaman.

Penerjemah menjadi penyensor mandiri dengan bersikap mawas terhadap konotasi seksual, permainan kata-kata, elemen-elemen tabu, dll., dan dia harus memodifikasinya untuk “melindungi pemirsa.”

Sebenarnya, ada berbagai macam kegiatan penyensoran, dari menghapus adegan hingga mengubah bahasa menjadi yang non-vulgar, untuk menghilangkan referensi atau secara langsung mengubah keseluruhan plot. 

Misalnya, dalam satu episode Friends, Rachel dan Monica berusaha untuk mendapatkan kembali apartemen mereka, akibat kalah bermain game dari Joey dan Chandler.

Pada saat akhirnya mereka putus asa, Monica mengatakan kepada para anak laki-laki bahwa dia dan Rachel akan mencium mereka selama satu menit untuk mendapatkan kembali apartemen itu. Anak-anak laki-laki setuju.

Kisah sedemikian dalam banyak budaya dan keyakinan khususnya di dunia Timur akan dilakukan penyensoran.


KESIMPULAN 
Masih banyak aspek penyensoran dan penyensoran mandiri yang harus dianalisis lebih lanjut, dan banyak lagi alasan mengapa penerjemah, penulis, dan penerbit rela membungkam diri mereka sendiri. 

Lebih dari itu, penghilangan dan modifikasi adalah tugas penerjemah dalam kasus ini. 

Meskipun demikian, dalam contoh lain, penghilangan adalah bagian kesalahan, yang bisa disebabkan oleh: a) kurang memadai-nya pengetahuan penerjemah; b) fakta bahwa penerjemah terkadang meremehkan pemirsa/pembaca.

Demikianlah, penerjemah harus menyadari fakta bahwa penyensoran yang mereka buat sendiri sebenarnya merampok pembaca/pemirsa dalam hal kesempatan mereka untuk memahami dan bahkan belajar tentang budaya lain, gaya hidup, dan juga realitas lain.

Sebagaimana yang dikatakan Baker bahwa dalam era globalisasi ini, para penerjemah seharusnya mampu melihat lebih jauh agar dapat memberikan penerangan bagi realitas hibrida, di mana intervensi penerjemah dapat berfungsi secara efisien.

Source: Guessabi Fatiha – Translation and Censorship (2019)

Sebelumnya: Part 1 | Part 2