Sebelumnya: Part 1

1.4 Signifikansi Studi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki penerjemahan sunnah kenabian yang menjadi salah satu cara terbesar untuk menyebarkan Islam setelah menerjemahkan Al-Quran. Jika menerjemahkan teks untuk hal-hal duniawi adalah hal yang penting, maka bagi Islam dan kaum Muslim, menerjemahkan teks agama lebih penting lagi untuk menjaga hak agama dari segala kesalahan pemahaman terhadapnya.

2.0 Penerjemahan

2.1 Sejarah Penerjemahan

Penerjemahan adalah salah satu kegiatan yang sudah cukup lama bagi umat manusia. Penerjemahan merupakan fenomena yang melekat dalam sejarah manusia di zaman kuno. Hal ini tampak dengan munculnya kebutuhan untuk saling memahami di antara para penutur bahasa yang berbeda, sehingga penerjemahan adalah satu-satunya alat untuk berkomunikasi dengan segala jenis pertukaran dan hubungan antara manusia, secara individu dan kolektif (Al-Jaberi, 1431 AH (2010), hal. 2).

Sulit untuk menentukan awal sejarah dari penerjemahan. Mungkin, teks-teks agama, dokumen resmi, dll. yang mencatat interaksi antara negara dan masyarakat adalah terjemahan tertua dari perspektif sejarah. Model penerjemahan ini berasal dari Timur Dekat Kuno. Yang tertua adalah yang ditulis oleh bangsa Sumeria, yang diketahui dari milenium keempat Sebelum Masehi (SM). 

Model-model ini lebih seperti kamus, yang berisi sejumlah kata yang direkam pada lembaran tanah liat dalam bahasa Sumeria dan artinya dalam bahasa Akkadia. Kemudian, orang-orang Assyria mengetahui terjemahan melalui Akkadian Sarjon (سرجون) yang menerbitkan prasasti berhias dalam beberapa bahasa pada milenium ketiga SM di seluruh kerajaannya. Juga, orang-orang di Babilonia berbicara berbagai bahasa selama era Hamurabi (Al-Jaberi, 1431 AH (2010), hal. 2).

Dari Firaun Mesir, ada beberapa model khusus untuk perjanjian antara orang Mesir dan orang Hittite yang ditulis dalam dua bahasa ribuan tahun lalu. Model yang paling terkenal adalah Rosseta Stone yang ditulis dalam tiga bahasa; Hieroglif, Demosium dan Yunani Kuno. Di Persia, ada juga prasasti Bihiston (بهستون) yang ditulis dalam tiga bahasa; Persia Kuno, Assyria, dan Babilonia (Al-Jaberi, 1431 AH (2010), hal. 2).

Tuanya usia temuan-temuan di atas kesemuanya mengacu pada keberadaan peran penting penerjemahan di seluruh Kekaisaran Persia Kuno sehingga uji coba awal penjurubahasaan/interpreting (terjemahan lisan) secara langsung dilakukan sejak saat itu. Jadi, periode itu memainkan peranan penting melalui uji coba yang bertanggung jawab untuk mentransfer terjemahan meskipun dari bahasa Ibrani atau Aramaik ke bahasa lain (Al-Jaberi, 1431 H (2010), hal. 2).

Selama Abad Pertengahan, pusat penerjemahan dan radiasi budaya diorientasikan di Baghdad, ibukota negara Islam, sehingga karya-karya besar Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh para penerjemah Syria pada abad kesembilan dan kesepuluh. Kemudian, pusat penerjemahan dipindahkan ke Toledo pada abad kedua belas ketika maha karya Yunani itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Selain itu, banyak karya Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani dan Latin yang kian menegakkan dan mendukung hubungan antara lingkungan Arab dan Yahudi di Andalusia masa Islam. Mungkin, model terjemahan yang paling terkenal ke dalam bahasa Latin adalah Al-Quran pada tahun 1143 M yang membangkitkan banyak masalah dan juga masalah tentang kejujuran terjemahan dalam mentransfer teks dengan benar (Al-Jaberi, 1431 H (2010), hal. 3).

Pada abad keenam belas, Martin Luther, seorang biarawan Jerman yang lahir pada tahun 1483 M dan meninggal pada tahun 1546 M, mendominasi bidang penerjemahan melalui munculnya kecenderungan untuk menerjemahkan teks-teks agama ke dalam bahasa Jerman. Yang paling menonjol di antara karya-karyanya adalah terjemahan Alkitab ke dalam bahasa lokalnya daripada bahasa Latin. Dia juga membingkai beberapa konsep tentang prinsip-prinsip terjemahan dalam bukunya Letters about Translation. Sebagian besar minat untuk masalah penerjemahan dimunculkan oleh masalah yang melekat dalam menerjemahkan teks-teks agama (Al-Jaberi, 1431 AH (2010), hal. 3).

Pada abad ke-17 dan ke-18, konsep kebebasan seputar penerjemahan berlaku, dan era itu disebut Era Pengkhianatan Agung untuk Penerjemahan (The Era of Gran Treason for Translation) sehingga para penerjemah tidak keberatan untuk menyalahkan diri mereka sendiri tentang apakah makna teks yang tepat telah hilang atau tidak (Al-Jaberi, 1431 AH (2010), hal. 3).

Pada abad ke-19, sebagian besar prasasti tentang penerjemahan merupakan upaya untuk menunjukkan beberapa masalah penerjemahan dan menyelesaikannya dengan meletakkan aturan ringkas yang harus diikuti oleh penerjemah.

Kemudian, pada abad ke-20, terjemahan tumbuh seiring dengan perluasan hubungan politik, komersial, dan budaya antara negara dan individu. Terjemahan sebelumnya tidak menempati posisi ini karena pentingnya bagi kehidupan manusia kontemporer, dan ini adalah cara ajaib yang menghubungkan antara orang-orang dan bangsa-bangsa di sepanjang sejarah manusia (Al-Jaberi, 1431 H (2010), hal. 3).

Menarik bukan? Nantikan lanjutannya di Part 3 | Sebelumnya: Part 1.