Sebelumnya: Part 1 | Part 2

2.2 Penerjemahan dan Agama

Penerjemahan adalah kegiatan linguistik yang menempati tempat penting dalam pembangunan ilmu pengetahuan umat manusia, baik secara lisan maupun tulisan. Penerjemahan berperan sebagai mediator di antara dua bahasa yang berbeda. Budaya dan bahasa tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bukan saja di era modern, tetapi telah dikaitkan sejak zaman kuno berkaitan kebutuhan komunikasi. Ini merupakan bentuk kebijaksanaan Allah bahwa Dia menciptakan manusia di bumi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, dan Dia membuat mereka saling mengenal satu sama lain (Al-Ghazali, 2016, par. 1).

Sepanjang sejarah, penerjemahan adalah pilar peradaban dan dasar Renaissance. Di Zaman Renaissance, aktivitas penerjemahan meningkat dan berkembang pesat. Ada banyak motif dan tujuan politik, budaya, ilmiah, sosial, agama, dll. dalam penerjemahan (Al-Jaberi, 1431 AH (2010), hal. 10).

Penerjemahan tidak hanya untuk mentransfer teks dari satu bahasa ke bahasa lain, baik secara lisan atau dalam bentuk tertulis, tetapi juga menghubungkan dua budaya yang berbeda sehingga dapat menembus batas kebahasaan yang mencegah kemungkinan komunikasi dan pemberdayaan dalam membaca budaya lain. Setiap budaya memiliki spesifikasi dan karakteristiknya sendiri yang membuatnya berbeda dari yang lain. Jadi, penerjemahan adalah alat untuk menyebarkan budaya dan sarana untuk mengetahui ide orang lain seutuhnya (Al-Ghazali, 2016, par. 2). 

Sebagai sarana komunikasi, penerjemahan menjembatani kesenjangan antar negara, dan juga membangun kepercayaan di antara para pengikut agama yang berbeda. Selain itu, dapat membantu menyebarkan cinta dan kerja sama di dunia ini (Al-Ghazali, 2016, par. 7).

Jika penerjemahan memainkan peran kunci untuk menghubungkan budaya dan peradaban, maka tidak ada keraguan bahwa menerjemahkan teks-teks agama tidak kalah pentingnya untuk memainkan peran yang sama. Sebenarnya, penerjemahan teks agama masih memiliki banyak tantangan dan masalah kontroversial untuk diperdebatkan di bidang terjemahan, terutama di masa konflik ideologis dan budaya, sehingga penerjemahan teks agama bertujuan untuk mengetahui dan memahami agama-agama lain baik untuk mempertahankan atau menyerang mereka, yaitu mendebat mereka dalam berkhotbah atau untuk kontroversi agama. (Translation and Religious Texts, 2009, par. 1).

Tidak diragukan lagi, penerjemahan istilah dan konsep keagamaan secara akurat sangat penting bagi mereka yang mempertimbangkan keakuratan dalam penerjemahan dan mencoba mentransfer makna kepada pembaca yang disasar dengan benar, bahwa mereka menarik stok linguistik dan budaya untuk bahasa target karena mereka adalah anteseden kunci untuk kesuksesan penerjemahan (Religious Translation, 2013, par. 2).

Menerjemahkan teks-teks agama membantu menjembatani kesenjangan antara bangsa-bangsa. Mentransfer pemikiran keagamaan yang benar mampu membuat koneksi di antara orang-orang di dunia, bukan justru ketidakharmonisan dan ketakutan yang ditonjolkan terutama antara dunia Islam dan Barat bahwa layak bagi mereka untuk saling menjadi pelengkap untuk mencapai kebaikan bagi seluruh umat manusia daripada memperluas konflik (Al-Ghazali, 2016, par.7). Penerjemahan agama memainkan peran penting dalam menjadikan budaya universal dan umum. Tentu terdapat kepentingan besar di dunia saat ini sehingga merupakan sarana untuk lebih mendekatkan pesan Islam bagi mereka yang tidak berbicara dalam bahasa Arab. Hal ini juga sebuah nilai pemulihan dan nilai-nilai keberadaan antara satu dengan yang lain.

Penerjemahan teks-teks keagamaan telah menjadi elemen kunci dalam menyebarkan pesan ilahiah sepanjang sejarah. Selain itu juga digunakan untuk pengajaran dalam mengkonversi dasar-dasar agama dan untuk mencerminkan keindahan iman dan moralitas di seluruh dunia (Elewa, 2014, hal. 25 ). Karena penerjemahan adalah instrumen yang kuat untuk tujuan misionaris, maka harus benar dan seakurat mungkin dan harus sesuai dengan hak kepercayaan agama. Untuk melakukan ini, penerjemah harus memahami teks asli dan menerjemahkannya dengan amanah ​​dan jujur ​​ke bahasa target, tanpa distorsi bagian mana pun dari konten asli (Elewa, 2014, hal. 25).

Hukum Islam beredar di antara orang-orang yang tidak berbicara bahasa Arab melalui penerjemahan. Sebuah jembatan komunikasi yang dibangun oleh penerjemahan teks keagamaan untuk memudahkan dan menyampaikan pemikiran keagamaan adalah penyokongan bagi persatuan dunia sebagai alternatif disonansi dan ketakutan di antara dunia Arab dan Islam.

Teks-teks keagamaan dapat dipahami dalam dua pengertian yang sangat berbeda: (1) teks-teks yang membahas keyakinan dan praktik keagamaan secara historis maupun masa kini dari komunitas yang beriman, (2) teks-teks yang sangat penting dalam memunculkan komunitas yang beriman (Nida, 1994, par 11).

Penerjemahan teks keagamaan adalah salah satu jenis penerjemahan yang paling problematis, karena berhubungan dengan teks-teks khusus yang memiliki kesakralannya sendiri (Al-Harahsheh, 2013, hal. 108). Teks-teks suci ini sensitif, karenanya; ada kesulitan menerjemahkannya ke bahasa lain. Penerjemah mungkin kehilangan makna yang benar dari teks sumber, atau teks itu dapat berubah, karena pengaruh ideologi penerjemah pada terjemahannya. Beberapa penerjemah memiliki agama atau budaya yang berbeda sehingga mereka dapat salah memahami makna teks dalam bahasa sumber, karena mungkin bukan bahasa asli mereka (Al-Harahsheh, 2013, hal. 108).

Menarik bukan? Nantikan lanjutannya di Part 4 | Sebelumnya: Part 1 | Part 2