Sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3

2.3 Keterampilan yang Diperlukan untuk Menerjemahkan Teks Keagamaan

Penerjemahan teks-teks keagamaan yang sakral adalah salah satu topik penting yang menjadi perhatian banyak peneliti dan profesional di bidang antaragama, terutama dalam mengirim pesan keagamaan bagi masing-masing orang dalam bahasa yang mereka ucapkan, bukanlah tugas yang mudah. Penerjemahan teks sedemikian mengharuskan penerjemah untuk memenuhi syarat; yaitu memiliki seperangkat kondisi dan spesifikasi, termasuk keakraban dengan bahasa teks sumber dan bahasa teks target. Menerjemahkan teks-teks keagamaan tanpa syarat-syarat ini membuat penerjemah membuat banyak kesalahan yang mengubah makna teks (Translation and Sacred Texts, 2012, par. 5).

Seorang penerjemah teks-teks keagamaan harus memiliki pengalaman yang sangat baik di bidang ini, karena ia terlibat dalam penerjemahan yang sensitif, yang tidak dapat mentolerir kesalahan, perlu akurasi, kesabaran, dan perawatan yang dibiyayai oleh para cendekiawan/ulama. Misalnya, menerjemahkan Al-Qur’an membutuhkan dua keterampilan tinggi; harus ada keakraban dengan masalah-masalah agama secara umum dan interpretasi Al-Quran pada khususnya. Selain itu, kemampuan linguistik harus sangat tinggi (Muhammad, hal. 70).

Penerjemah adalah suatu elemen pusat dalam proses penerjemahan. Perannya sangat penting dalam proses penerjemahan sehingga ia menjadi bagian dari lingkungan budaya di mana ia tinggal (Yusuf, par. 1). Kadang-kadang, penerjemah mungkin tidak dapat menggunakan kata-kata secara tepat karena mereka tidak dapat mencakup arti keagamaan yang sebenarnya dalam kedua bahasa. Namun, dalam arti sebenarnya, ia harus membuat formula baru untuk mentransfer konsep yang diungkapkan oleh bahasa asli; yaitu, penerjemah harus fasih dalam kedua bahasa yang ia tangani (Yusuf, par. 2). 

Selain itu, ia harus memahami makna yang peka dan sensitif, nilai-nilai dan kata-kata emosional yang penting, dan karakteristik gaya yang menentukan cita rasa dan nuansa pesan, karena ia harus berpengalaman dalam aturan-aturan yang berlaku dalam bahasa target, dan mungkin sebagian besar kesalahan yang dilakukan penerjemah timbul terutama dari kurangnya pengetahuan yang komprehensif tentang bahasa target. Selain itu, ia harus waspada dengan tema yang ia terjemahkan (Yusuf, par. 5-6).

Selain itu, pengetahuan komprehensif penerjemah tentang sumber dan bahasa target, topik yang ia terjemahkan. Tekad psikologis yang nyata tidak menjamin keberhasilan menerjemahkan teks secara efisien kecuali ia menikmati dalam arti sastra (Yusuf, par. 7). Jika penerjemahan adalah seni, penerjemah adalah seniman yang menciptakan seninya dan menjadikannya bermakna dan bermanfaat (Aamer, hal. 5).

3.0 Penerjemahan dan Islam

Perhatian Islam pada penerjemahan memiliki tujuan yang lebih jauh daripada bidang lainnya. Sasaran ini adalah eskatologi yang muncul dari perkataan Allah: “Sesungguhnya orang yang terbaik untuk kamu pekerjakan adalah (manusia) yang kuat dan dapat dipercaya” (Al-Qasas: 26). إن خير من استئجرت القوي الأمين” (القصص: 26). 

Yang kuat di sini mewakili pengetahuan penerjemah untuk bahasa sumber dan bahasa target yang memungkinkan untuk memahami makna yang dimaksudkan dan untuk mentransfernya dalam istilah yang sesuai ke bahasa target. Sedangkan trusty berarti tanggung jawab seorang penerjemah tentang apa yang ditransfer sehingga ia takut akan Allah dalam menyampaikan pesan Islam (Yusuf, par. 4).

Penerjemahan teks-teks ini tidak belajar bahasa untuk keinginan informasi atau keperluan, tetapi ia bertanggung jawab untuk panggilan ke agama ini (yaitu Islam). Jadi, dia harus memiliki niat jujur ​​untuk menyempurnakan bahasa dan terjemahan dengan benar (Yusuf, par. 4).

Penerjemahan adalah salah satu seni elegan yang memiliki aturan khusus dan sarana khusus seperti kebanyakan seni lainnya. Ada persyaratan dan kualifikasi bagi mereka yang melakukan penerjemahan. Kegiatan ini merupakan sarana untuk menyampaikan peradaban, adat istiadat dan tradisi dunia dari suatu bahasa ke bahasa lain, juga merupakan cara untuk berurusan dan melakukan kolaborasi hubungan komersial, industri, militer dan diplomatik antara dua negara atau lebih. Penerjemahan juga merupakan cara untuk mengembangkan bahasa dan untuk mengangkut konsep, sastra, seminar, dan konferensi kepada pembaca dan pendengar (Numani, 2006, hal. 185).

Penerjemahan adalah salah satu cara terpenting untuk menyeru kepada Allah dan penyebaran Islam di antara umat manusia (Numani, 2006, hal. 185). Kegiatan ini merupakan salah satu tahap pertama bagi gerakan ilmiah Islam dan awal dari sejarah sains di peradaban Arab selama era Abbasiyah, yaitu periode Khalifah Harun Ar-Rasheed, Khalifah Abi-Ja’fer Al-Mansur dan Khalifah Al-Ma’mun. Di era itu, ada penerjemah yang memikul tanggung jawab pengangkutan tradisi umat manusia yang ada, ke dalam Bahasa Arab yang merupakan bahasa ilmu pengetahuan pada periode itu. (Ghaneema, 2007, par. 2).

Sebelum Islam, orang-orang Arab melakukan kontak dengan orang-orang lain di sekitar mereka. Mereka adalah orang Romawi di utara dan orang Persia di timur, orang Mesir di barat dan orang Ethiopia di selatan. Sulit membayangkan hubungan sastra dan ekonomi ini tanpa penerjemahan bahkan di tahap awal sekalipun.

Hingga pada periode Islam, beberapa jenis terjemahan tidak dihilangkan, sehingga nabi Muhammad (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) merekomendasikan Zaid bin Tsabit untuk belajar Bahasa Syria, kemudian dia mempelajarinya, lalu belajar Bahasa Persia serta Romawi. Pada periode Amr ibn Al-Aas, ada kegiatan penerjemahan antara Yunani dan Arab (22 H, yaitu 643 M) (Projects of Translation in the Arab World, par. 3).

Penerjemahan adalah jembatan dasar untuk mentransfer ilmu dan pengetahuan di antara orang-orang. Hal tersebut juga langkah untuk menyampaikan perkembangan di antara peradaban (Projects of Translation in the Arab World, par. 1).

Diyakini bahwa melalui penerjemahan, peradaban Babilonia, Assyria, dan Mesir bertukar beberapa dokumen dan konvensi. Selain penulisan sastra dan dokumen intelektual, peradaban Yunani juga menerjemahkan dokumen-dokumen dan konvensi-konvensi ini, dan kegiatan-kegiatan kreatif lainnya dari peradaban oriental kuno sehingga para siswa dari peradaban itu (yaitu Yunani) dikirim ke Mesir, khususnya ke Aleksandria Lama yang memainkan peran historis penting melalui proses penerjemahan, karena di sana merupakan pusat ilmiah dan sastra pertama dalam sejarah manusia yang melibatkan siswa dan cendekiawan hebat 
dari berbagai negara di dunia kuno (Projects of Translation in the Arab World, par. 1)

Menarik bukan? Nantikan lanjutannya di Part 4 |
Sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3