Sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

3.1 Pertumbuhan Penerjemahan dalam Peradaban Islam

Terdapat dua pendapat tentang pertumbuhan penerjemahan dalam tradisi Islam: Pendapat pertama adalah bahwa akar dari gerakan penerjemahan yang pertama ke dalam bahasa Arab adalah pada awal periode Omayyad/Umayyah, sebagaimana dinyatakan dalam sumber-sumber bahwa Khalid bin Yazeed ibn Muaawiya dikirim ke Alexandria untuk mendapatkan beberapa buku kedokteran dan kimia untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, setelah ia meninggalkan suksesi dengan sukarela (Al-Sarjani, 2012, par. 1). 

Dalam bukunya (Al-Fahrist), ibn Al-Nadeem mengatakan bahwa telah dilaporkan bahwa Khalid bin Yazeed Muaawiya yang disebut hakeem Al Marwan (yaitu filsuf suku-suku Marwan) memerintahkan untuk membawa sekelompok filsuf Yunani yang menetap di Mesir dan berbicara dalam bahasa Arab. Ini yang diketahui merupakan kali pertama terjadinya transfer dari satu bahasa ke bahasa lain dalam masyarakat Islam. Ibn Khalkan menggambarkan Khalid, karena dia sebagai seorang yang dikenal di kalangan kabilah Qurayish (suku di Mekah) karena menguasai seni kimia dan obat-obatan (Al-Sarjani, 2012, par. 2). Ada penerus Omayyad yang menyelesaikan upaya penerjemahan setelah Khalid bin Yazeed, salah satunya adalah Omar bin Abd Al-Azeez (berkuasa pada 99-101 H), yang membawa bersamanya salah seorang cendekiawan dari sekolah di Alexandria ketika ia pergi ke Al-Madinah untuk suksesi yang bergantung padanya di bidang kedokteran. Khalifah Umar menyampaikan sekelompok ulama dari sekolah di Aleksandria ke Antiokhia pada tahun 100 H. Namun, hal itu tidak berarti bahwa kegiatan ilmiah sekolah di Alexandria dihentikan selama periode Abbasiyah (Al-Sarjani, 2012, par. 2)

Pendapat kedua adalah bahwa gerakan penerjemahan dimulai sudah sejak era nabi Muhammad (semoga damai dan berkah terlimpah padanya). Salah satu sosok yang paling terkenal dari Syria (Al-Sarjani, 2012, par 4) selama era itu adalah Zaid bin Thabit yang mempelajari bahasa lain dalam tujuh belas hari (Al-Ittihad, 2015, par. 2), ia juga belajar bahasa Persia dan Romawi. (Al-Sarjani, 2012, par. 4).

Naskah terjemahan tertua pada periode Islam kembali ke tahun 22 H. Yaitu tiga baris yang ditulis dalam bahasa Yunani bersama dengan terjemahannya dalam bahasa Arab. Penerjemahan masyarakat Islam yang muncul pada masa nabi Muhammad (semoga damai dan berkah terlimpah padanya), bertentangan dengan pendapat yang menyatakan dimulai selama periode Omayyad sebelumnya (Al-Sarjani, 2012, par. 4).

Gerakan penerjemahan ke dalam Bahasa Arab terus berlanjut dan meluas, menjadi lebih kuat di era Abbasiyah hingga menjadi sudut dari sudut politik pada periode itu sehingga upaya penerjemahan menjadi bagian dari masalah suatu bangsa. Sementara penerjemahan di periode Omayyad terbatas pada bidang kimia, kedokteran, dan astronomi, sedangkan melalui periode Abbasiyah semakin meluas hingga mencakup filsafat, logika, ilmu empiris, dan buku-buku sastra (Al-Sarjani, 2012, par. 5).

3.2 Masalah Penerjemahan Teks Keagamaan

Masalah kesulitan penerjemahan teks keagamaan berada di level puncak. Masalah-masalah ini kembali ke banyak alasan, termasuk fakta bahwa teks-teks agama, baik pada tingkat kata, frasa atau teks, didasarkan pada kualitas semantik; yaitu mereka mencirikan multiplisitas makna yang dapat diakomodasi oleh bahasa teks sumber. Hal ini membuat proses menemukan kesetaraan yang tepat dari bahasa target adalah masalah paling kompleks yang dihadapi penerjemah (Religious Texts, 2013, par. 1).

Masalah dan kesulitan penerjemahan diciptakan dari fakta bahwa suatu padanan makna dalam bahasa target mungkin tidak mentransfer pesan tertulis yang sama dalam bahasa sumber. Selain itu, template linguistik pesan yang ditampilkan dalam bahasa sumber berbeda dari yang ada di bahasa target, terutama jika informasi umum, dan asumsi antara pembaca dan penulis berbeda, terutama jika terjadi di antara dua bahasa yang berbeda sepenuhnya dalam aspek budaya mereka, semisal Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, sehingga tidak mudah untuk menerjemahkan dari Bahasa Arab ke Bahasa Inggris dan sebaliknya mengingat struktur dan pemasangan yang berbeda sepenuhnya dari kedua bahasa (Yusef, par. 2).

Mungkin, orang pertama yang menunjukkan kesulitan teknis dan konsekuensi serius yang muncul di hadapan orang-orang yang siap menghadapi aliran terjemahan agama adalah Al-Jahiz dalam bukunya Al-Hayawan. Dia menyatakan bahwa setiap kali isi (dari sebuah pengetahuan) lebih sulit, lebih sempit dan ilmunya kurang, lebih mungkin bagi penerjemah untuk berbuat kesalahan di dalamnya. Kemudian, pembaca tidak akan pernah menemukan penerjemah dari para ilmuwan ini. Masalah ini dihadapi oleh buku-buku teknik, astrologi, matematika, dll. Bagaimanapun, tentu tidak dapat diterima untuk berbicara dan bercerita berkenaan Allah dan kitab-kitab suci-Nya secara sembarangan. Kemudian, ia mengatakan bahwa kesalahan dalam suatu pemahaman agama lebih berbahaya daripada kesalahan-kesalahan tentang matematika, industri, filsafat, kimia, dll. yang anak-anak Adam hidup berkutat dengannya […] dan jika seorang penerjemah yang menerjemahkan teks tidak mampu untuk itu, ia akan salah sejauh penurunan tingkat kesempurnaan (Al-Mustafa, 2014, par. 1-2).

Penerjemah teks-teks keagamaan berkewajiban atas beberapa kualifikasi dan tanggung jawab agama dan moral yang memerlukan kemauan yang tinggi untuk kognisi, dan revisi dalam pekerjaan yang diterjemahkannya adalah kesalahan yang membuat orang-orang meninggalkan pekerjaannya. Hal ini dapat menyebabkan dia mendapat penyelidikan oleh pihak berwenang (Al-Mustafa, 
2014, par. 3).

Menarik bukan? Nantikan lanjutannya di Part 6 | Sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4