Sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 |Part 5

3.3 Perlunya Penerjemahan dalam Islam

Penerjemahan di zaman nabi Muhammad (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) muncul ketika diperlukan. Kemunculannya di periode itu pada berbagai kesempatan mengikuti perintah Allah dalam firman-Nya,

“Katakan: Hasilkan Taurat dan bacalah jika kamu benar (3: 93)” ” قل فأتوا بالتوراة فاتلوها إن كنتم صادقين “, (Pickthall, 2012, hal. 40), yang menerangkan tentang interpretasi Taurat dalam Bahasa Arab dan bahasa lainnya. Namun Taurat dibacakan dalam Bahasa Ibrani, dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk dibacakan bagi orang Arab yang tidak tahu bahasa itu; yaitu Bahasa Ibrani. 

Sekali lagi dalam sabda nabi (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya (kitab tradisi) dari Zaid bin Thabit yang mengatakan: “Nabi Allah (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) memerintahkan saya untuk belajar kata-kata dari buku orang-orang Yahudi bahwa beliau berkata: “Ya Allah, saya tidak percaya pada seorang Yahudi di buku saya.” Zaid berkata: Saya tidak dapat menguasainya selama setengah bulan sampai saya mempelajarinya untuk beliau, sabda beliau ketika saya mempelajarinya; jika beliau menulis kepada orang-orang Yahudi, saya menulis kepada mereka, dan jika mereka menulis kepada beliau, saya membacakan untuk beliau” (Al-Aqeel, 1429 H (2008), hal. 3-4).

ما رواه أبو داود في سننه عن زيد بن ثابت, قال: أمرني رسول الله- صلى الله عليه وسلم- أن أتعلم له كلمات من كتاب اليهود, قال: إني والله ما آمن يهود على كتابي, قال: فما مر بي نصف شهر حتى تعلمته له ، قال: فلما تعلمته كان إﺬا كتب إلى يهود كتبت إليهم وإﺬا كتبوا إليه قرأت له كتابهم.

Selain itu, dalam hadits Rasulullah (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari ibn Abbas berkata: “Abu-Sufiyan mengatakan kepada saya bahwa Hercules memanggil penerjemahnya, kemudian dia meminta untuk membawa pesan nabi. Kemudian, dia membaca, “Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, Penyayang, dari Muhammad, hamba Allah dan nabi-Nya untuk Hercules, dan orang-orang ahli kitab pada sebuah kata yang sama antara kami dan Anda (Al-Aqeel, 1429 H (2008), hal. 4).

في حديث النبي- صلى الله عليه وسلم- ما رواه البخاري عن ابن عباس- رضي الله عنهما- قال : أخبرني أبو سفيان: أن هرقل دعا ترجمانه ثم دعا بكتاب النبي- صلى الله عليه وسلم- فقرأه “بسم الله الرحمن الرحيم, من محمد عبد الله ورسوله إلى هرقل ، ويا ​​أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم”.

Dalam hadits lain, diriwayatkan oleh Abu Hurairah (semoga Allah meridhoi-Nya) bahwa Rasul bersabda: orang-orang (Yahudi dan Kristen) dari kitab itu (Taurat dan Injil) membaca Taurat dalam Bahasa Ibrani dan mereka menginterpretasikannya dalam Bahasa Arab untuk orang Muslim. Kemudian, nabi Allah (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) bersabda: Jangan memercayai orang-orang ahli kitab ini maupun tidak mempercayai mereka, namun, katakan: Kami percaya kepada Allah dan apa yang diwahyukan kepada kami” (terjemahan kami) (Al-Aqeel, 1429 H (2008), hal. 4)

وعن أبي هريرة- رضي الله عنه- قال: كان أهل الكتاب يقرؤن التوراة بالعبرانية ويفسرونها 
بالعربية لأهل الإسلام ، فقال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوها ولام 
أنزل إلينا.

Semua hadis ini menunjukkan perlunya penerjemahan dan kebutuhan untuk itu pada periode saat itu, dan berapa banyak saat ini diperlukan bahwa ada konvergensi dalam hubungan antar negara, pada saat multi-lingualisme, dan berapa banyak hak disembunyikan dan tidak terlalu jelas bagi muslim non-Arab. Juga, ada kehausan non-Muslim untuk mewujudkan Islam yang dapat diterima oleh Allah (Al-Aqeel, 1429 H (2008), hal. 4.)

Sejak era kenabian, Muhammad (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) mendirikan negara Islam yang pertama, Ia memerintahkan para sahabatnya untuk belajar bahasa lain sehingga Ia memerintahkan Zaid bin Thabit untuk menulis surat untuk raja-raja dan membalas pesan mereka di hadapan sang nabi. Zaid menerjemahkan surat-surat untuknya dalam bahasa Persia, Romawi, dan Ethiopia yang ia pelajari dari penutur asli bahasa-bahasa ini. Dengan demikian, misi penerjemahan untuk tujuan penyebaran Islam dimulai sejak saat itu (Al-Humi, 2010, par. 2).

Umat ​​Muslim di masa awal tertarik mempelajari bahasa, mereka menyadari pentingnya komunikasi dengan dunia dan untuk menyeru masyarakat kepada Allah yang berada di luar jazirah Arab. Ketika mereka menjalankan perintah nabi (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) dalam semua perkara agama mereka, mereka berkomitmen kepada perintah nabi untuk belajar bahasa lain, untuk menghindari kejahatan dari pembicara dari bahasa mereka, dan untuk penyebaran pesan Islam (Al-Humi, 2010, par. 4).

Pada periode ini, jumlah Muslim non-Arab meningkat dan sayangnya mereka tidak mengerti bahasa Arab yang diturunkan oleh Al-Quran. Mungkin, beberapa dari mereka dapat membaca literatme Quran, tetapi mereka tidak dapat memahami maknanya. Jadi, penerjemahan adalah satu-satunya cara untuk memberitakan agama Allah dengan benar (Al-Aqeel, 1429 H (2008), hal. 8).

Menarik bukan? Nantikan lanjutannya di Part 7 |
Sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 |Part 5