Sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 |Part 5 |Part 6

3.4 Penerjemah Pertama dalam Islam

Penerjemah pertama dan salah satu penulis yang penuh inspirasi dalam Islam adalah Zaid bin Thabit Ad-Dahhak Al-Ansari dari bani An-Najjar. Ia dilahirkan di Madinah Al-Munawwarah pada tahun ke-12 sebelum Hijrah (Zaid bin Thabit, 2016, par. 1).

Ketika nabi Muhammad (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) ber-hijrah ke Madinah, Zaid bin Thabit masih berusia di bawah 11 tahun. Sejak kecil, ia dikenal cerdas. Pada tahap berikutnya dari usianya di kemudian hari, ia adalah seorang cendekiawan dan awet kecerdasannya, yang disebutkan dalam Sahih Al-Bukhari bahwa Rasulullah (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) memerintahkannya untuk belajar Bahasa Ibrani sehingga ia dapat membacakan pesan untuk nabi.

Dia mempelajarinya dalam lima belas hari, bahwa Zaid mengatakan “orang-orang dari suku saya membawa saya ke nabi (semoga damai dan berkah terlimpah padanya), kemudian mereka berkata: “Wahai nabi Allah; bocah ini dari Bani An-Najjar bahwa dia telah menghafal beberapa surah yang Allah utus bagimu,” maka nabi Allah menyukai itu dan berkata: “Wahai Zaid, pelajarilah buku Ibrani untukku. Saya tidak percaya orang-orang Yahudi di buku saya.” Kemudian, Zaid berkata: “Saya belajar buku mereka hanya dalam lima belas hari dan kemudian saya bisa membaca dan menulis untuknya, dan saya juga menulis jawabannya” (Al-Ittihad, 2015, par. 1).

Rasulullah (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) meminta Zaid untuk belajar Bahasa Syria juga, kemudian dia mempelajarinya dalam tujuh belas hari (Al-Ittihad, 2015, par. 2). Zaid bin Thabit (semoga Allah ridho kepadanya) adalah salah satu penulis Al-Qur’an. Dia juga menulis beberapa surat bagi Rasulullah (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) untuk berbagai raja dalam rangka mengajak mereka kepada Islam (Al-Ittihad, 2015, par. 3).

Pada awal-awal dakwah mengajak kepada Allah, ada beberapa sahabat nabi (semoga Allah ridho kepada mereka) yang menghafal Al-Qur’an, sementara yang lain menulisnya. Zaid bin Thabit adalah salah satu dari mereka yang bisa menghafal dan menulis Al-Qur’an (Al-Sarjani, 2006, par. 8).

Setelah kematian Rasulullah (semoga damai dan berkah terlimpah padanya), umat Muslim sibuk dengan perang Ar-Reddah di era khalifah Abu Bakr As-Siddiq. Dalam perang Yamamah, banyak martir adalah penghafal Al-Qur’an, sehingga Omar bin Al-Khattab dan Abu-Bakr As-Siddiq meminta untuk mengumpulkan Al-Quran sebelum kematian atau kesyahidan para penghafal. Khalifah Abu-Bakr As-Siddiq melakukan salat Istikharah dengan tujuan mengumpulkan Al-Quran, kemudian ia menginstruksikan Zaid bin Thabit untuk tugas besar itu. Dia mengumpulkannya dengan cara yang diatur (Al-Sarjani, 2015, par. 10-11).

Selama suksesi Othman bin Affan, Islam menerima orang-orang baru yang bahasa ibu mereka berbeda, kemudian Othman dan beberapa sahabat diperintahkan untuk menyatukan naskah Al-Quran yang benar di antara naskah-naskah menyimpang. Mereka dibantu oleh Zaid bin Thabit dalam menulis salinan terpadu Al-Qur’an ini sehingga mereka memanggilnya sang penulis nabi Allah. Sahabat-sahabat Rasul (semoga Allah ridho kepada mereka) sepakat bahwa pendapat (yaitu tentang salinan Al-Qur’an) dari Zaid adalah bukti, karena ia adalah salah satu sumber yang tetap dalam pengetahuan Islam (Al-Sarjani, 2015, par. 12-13).

Zaid bin Thabit meninggal di era Muawiyah (yaitu salah satu dari khalifah) pada 45 H, bahwa Abu Hurairah (salah satu sahabat Rasul) mengatakan setelah kematiannya: “Hari ini; cendekiawan umat ini telah meninggal” (Al-Sarjani, 2015, par. 19).

4.0 Kehidupan Al-Imam An-Nawawi

Nama lengkap Al-Imam An-Nawawi adalah Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Sharaf bin Murri bin Hasan bin Hussein bin Muhammad bin Jumaa bin Huzam An-Nawawi As-Shafi’i (Biography of Al-Imam An-Nawawi, 2003, par. 10). Ia dilahirkan pada bulan Muharram, 631 H, di Nawa; sebuah tempat di dekat Damaskus, sehingga ia diberikan deskriptif nama An-Nawawi dari Nawa (Biography of Al-Imam An-Nawawi, 2013, par. 1-2).

Ketika Al-Imam An-Nawawi (semoga Allah merahmatinya) berusia sepuluh, ia mulai menghafal Al-Quran dan mempelajari fiqh. Pada 649 H, ia pindah ke Damaskus untuk menyelesaikan studinya di sekolah Dar Al-Hadits. Dia menetap di sekolah Rawaahiyah yang bersebelahan dengan Masjid Al-Omawi. Pada 651 H, ia berziarah dengan ayahnya, kemudian ia kembali pada usia dua puluh (Biography of Al-Imam An-Nawawi, 2013, par. 2). Al-Imam An-Nawawi adalah seorang cendekiawan pertapa dan banyak beribadah kepada Allah, ia tidak membuang-buang waktu kecuali untuk melakukan pengkajian. Bahkan saat dia berjalan di jalan atau kembali ke rumahnya, dia terus mengulangi apa yang dia hafal. (Ad-Dhahabi’).

Di Damaskus, Al-Imam An-Nawawi mempelajari banyak ilmu dari lebih dari dua puluh guru terkenal. Guru-guru ini dianggap sebagai master dan memiliki otoritas dalam bidang studi dan disiplin ilmu yang mereka ajarkan (Biography of Al-Imam An-Nawawi, par. 3). Al-Imam An-Nawawi menulis banyak buku tentang ilmu Hadits dan Fiqh, tiga buku yang paling terkenal dari koleksi karyanya adalah Al-Adhkar, Riyad As-Saliheen dan Arba’in An-Nawawi (Empat Puluh Hadits An-Nawawi). Dalam kepenulisannya, ia bergantung pada dalil-dali dari Quran dan sunnah (An-Nawawi, 1992, hal. 32).

Pada 676 H, Al-Imam An-Nawawi kembali ke kota asalnya, Nawa. Di sana, dia jatuh sakit, kemudian dia meninggal pada tanggal 6 Rajab, 676 H (Zarabozo, hal. 46). Dia hidup hanya empat puluh lima tahun, tetapi dia adalah seorang cendekiawan dan ahli hukum. Oleh karena itu, ibn Katheer (Biography of Al-Imam An-Nawawi, par. 5) mengatakan bahwa Al-Imam An-Nawawi adalah Syekh (master) dari madzhab dan ia adalah cendekiawan terbesar pada masanya (Biography of Al-Imam An-Nawawi
par. 5).

Menarik, bukan? Nantikan lanjutannya di Part 8 |
Sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 |Part 5 |Part 6