Sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 |Part 5 |Part 6 | Part 7

4.1 Hadits Empat Puluh An-Nawawi

Empat puluh Hadits yang dikumpulkan An-Nawawi adalah kompilasi yang mencakup empat puluh dua hadits yang disabdakan oleh Rasulullah (semoga damai dan berkah terlimpah padanya). Meskipun jumlahnya bukan empat puluh melainkan empat puluh dua, namun mengikuti tradisi Arab, nama itu diberikan seperti sekarang; Empat Puluh. Hadits-hadits ini dinamai dengan nama ini yang berkaitan dengan pengumpulnya; Al-Imam An-Nawawi. Dinamai juga olehnya; Empat Puluh dalam Bangunan Islam dan Aturan-aturan Ringkas (Al-Jabaan, hal. 23). Asal usul kompilasi ini adalah tatkala ibn Salah (Al-Jabaan, hal. 26) mengumpulkan dua puluh enam hadits di papan pengajarannya beserta penjelasannya, ia menamakannya Hadits yang Dapat [mudah] Dipahami. Kemudian, Al-Imam Al-Nawawi menambahkan enam belas, sehingga menyusunnya menjadi empat puluh dua hadis (Al-Jabaan, hal. 26).

Alasan di balik pemilihan hadits-hadits ini adalah bahwa hadits-hadits universal ini tampaknya memang universal dan bahwa para ahli sepakat bahwa studi Empat Puluh An-Nawawi mempelajari hal-hal besar dan beragam bagi umat Islam, seperti sudut-sudut Islam, sudut-sudut keimanan, masalah-masalah Islam; yaitu masalah-masalah hukum dan pelanggaran hukum, dll.

Oleh karena itu, Al-Imam An-Nawawi berbicara mengenai hal ini, ia menyatakan bahwa: “Para ulama (semoga Allah merahmati mereka) menyusun karya yang tak terhitung jumlahnya di bidang ini; semisal koleksi empat puluh hadis. Yang pertama saya tahu, adalah Abd Allah ibn Al-Mubarak, Muhammad ibn Aslam At-Toosee, dll.” Kemudian, dia berkata bahwa dia meminta kepada Allah bimbingan-Nya, dan dia berdoa kepada-Nya ketika dia menyusun empat puluh hadis berikut, mengikuti contoh para ulama (Al-Jabaan, hal. 26-27).

Mengikuti tradisi sebagian besar cendekiawan/ulama agama (semoga Allah merahmati mereka), Hadits An-Nawawi ini dimulai dengan hadits ini: “Sesungguhnya amal bergantung dari niatnya [….]”; “[….] إنما الأعمال بالنيات” sehingga Al-Imam As-Shafi’i dan Al-Imam Ahmad (keduanya dikenal empat ulama besar dan ahli hukum) sepakat bahwa hadits ini mewakili sepertiga pengetahuan Islam (Badi, 2002, hal. 5).

4.2 Kritik atas Terjemahan Hadis Empat Puluh An-Nawawi

“Kritik penerjemahan adalah studi sistematis, evaluasi, dan interpretasi dari beragam aspek karya terjemahan” (Translation Criticism, 2016, par. 1). Kebanyakan orang berpikir bahwa kritik dan analisis penerjemahan seharusnya hanya tentang hal-hal negatif dalam karya, namun mengeksplorasi aspek-aspek positif juga merupakan wujud kritik. “Salah satu tujuan kritik penerjemahan adalah untuk meningkatkan kesadaran akan kelezatan yang terlibat dalam terjemahan dan untuk mengeksplorasi apakah penerjemah telah mencapai tujuannya atau tidak” (Translation Criticism, 2016, par. 2).

Kritik penerjemahan mengukur sejauh mana penerjemah sesuai dengan penerjemahan yang benar dan lengkap untuk keseluruhan teks. Ini bukan penerjemahan kata-demi-kata, tetapi penerjemahan dari sebuah ekuivalensi verbal tanpa menambah atau mengabaikan (Translation Criticism, 2013, par.1). Salah satu poin paling penting yang harus diukur melalui analisis dan kritik penerjemahan adalah paritas linguistik, yaitu penggunaan tingkat linguistik bahasa target setara dengan tingkat bahasa dalam bahasa sumber. Pengkritik penerjemahan juga menganalisis signifikansi verbal dan morfologis dari suatu kata dalam teks asli dan membandingkannya dengan apa yang dipilih penerjemah dalam bahasa target (Translation Criticism, 2013, par. 3).

Analisis ini juga membedakan antara sinonim dan kata-kata yang serupa, misalnya, Bahasa Arab secara khusus menjelaskan makna dan spesialisasi artikulasi yang akurat. Meskipun, ada beberapa kata yang konvergen dalam maknanya, tetapi ada perbedaan yang meng-karakterisasi setiap kata dari yang lain menurut penggunaan (Translation Criticism, 2013, par. 4). Selain itu, gaya penulisan penting dalam kritik dan analisis. Keduanya adalah salah satu fitur paling menonjol yang membedakan teks. Penerjemah harus menyadari gaya yang digunakan penulis / pembicara untuk mengilustrasikan gambar yang akurat dari teks asli (Translation Criticism, 2013, par. 6).

Kualitas penerjemahan terkait erat dengan penerjemah, setiap kali kemampuan bahasa dan tingkat pengetahuannya diperluas, ia dapat menguasai metode penerjemahan dan lulus dengan tingkat kemahiran tertinggi (Translation Criticism, 2013, par. 7).

Menarik, bukan? Nantikan lanjutannya di Part 9 |
Sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 |Part 5 |Part 6 | Part 7