Sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 |Part 5 |Part 6 | Part 7 | Part 8

4.3 Analisis Terjemahan Empat Puluh Hadith An-Nawawi

Tidak cukup bagi penerjemah ahli dalam kedua bahasa; yaitu bahasa sumber dan bahasa target, untuk menerjemahkan teks-teks Al-Quran dan teks kenabian. Telah diketahui bahwa setiap sains / ilmu pengetahuan memiliki istilahnya sendiri, oleh karena itu; tidak cukup hanya dengan mengetahui makna linguistik dari kata-kata ini, penerjemah dari Sunnah Nabi harus fasih dengan agama dan dasar-dasar agama secara umum serta istilah-istilah yang sering digunakan dalam ilmu-ilmu pendukung (Waiet, hal. 7). Penerjemah juga harus memiliki kemampuan untuk mentransfer istilah agama ke bahasa target dengan jelas.

Dengan tidak adanya kemampuan ini, ia tidak dapat menerjemahkan Sunnah Nabi dengan benar. Penerjemah yang menerjemahkan sabda Nabi Muhammad (semoga damai dan berkah terlimpah padanya), ke bahasa target, menyampaikan makna hadits, oleh karena itu ia terlihat sebagai narator hadis yang mematuhi makna (Waiet, hal. 8).

Analisis terhadap Hadits Empat Puluh An-Nawawi didasarkan pada dua teks yang harus memiliki ekspresi semantik yang sama dalam bahasa sumber dan bahasa target, serta didasarkan pada aturan tata bahasa kedua bahasa. Meskipun ada perbedaan dalam struktur morfologis dan sintaksis di antara mereka. Perbedaannya juga dalam pikiran-pikiran dan budaya (Al-Fawadi, par. 4).

Kritik terhadap teks yang diterjemahkan juga merupakan perbandingan antar terjemahan untuk menunjukkan tingkat penguasaan atau ketipisan karya terjemahan, dan untuk memperjelas kesempurnaan penerjemahan untuk dapat ditingkatkan dengannya dan untuk menemukan kelemahan untuk menghindarinya (Al-Fawawdi, par. 4).

Analisis dan kritik terhadap terjemahan Hadits An-Nawawi di sini dikenakan pada tiga sumber terjemahan yang berbeda. Penelitian ini mempelajari sampel spesifik dari hadits-hadits yang mencakup masalah perbandingan dengan baik. Seperti disebutkan sebelumnya dalam bab ini, kritik tidak hanya mencakup sisi negatif, tetapi juga mencakup sisi positif.

4.4 Berurusan dengan Hadits yang Lemah (Daif)

Empat Puluhan (Al-Arbaeenat) adalah sejenis buku-buku hadits yang mencakup empat puluh hadits tentang Nabi Muhammad (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) (Al-Arbaeenat, 2014, par. 1). Empat Puluhan ini terjadi yang bergantung pada perkataan Rasulullah (semoga damai dan berkah terlimpah padanya): “Barangsiapa yang menghafal dan memelihara bagi umat-ku empat puluh hadits yang berkaitan dengan agamanya, Allah akan membangkitkan dia pada Hari Pengadilan sebagai seorang yang faqih”. [diriwayatkan dari Ibn Abbas, Anas dan Abu-Hurairah (RA)];

من حفظ على أمتي أربعين حديثا من أمر دينه بعثه الله يوم القيامة فقيها عالما

Bahwa para cendekiawan mengumpulkan 40 hadits baik Nabawi atau Qudusi tentang sebuah persoalan dalam Islam yang sesuai dengan tujuan untuk mengumpulkannya (Al-Jabaan, hal. 4).

Kompilasi ini berbeda dari satu motif ke motif lainnya; yaitu tentang masalah yang berbeda. Orang pertama yang menyusun buku-buku ini adalah Al-Imam Abd-Allah bin Al-Mubarak Al-Handhali (Al-Jabaan, hal. 7). Penyebab di balik penyusunan seperti buku-buku ini mendukung tiga hal; hal pertama tergantung pada ulama pada hadits ini: “Siapa yang menghafal dan memelihara […]”; “[….] من حفظ على أمتي “, yang kedua adalah intimasi dan deklarasi hadits Rasulullah (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) untuk umat Islam dan yang ketiga adalah mengikuti para ulama yang mengumpulkan empat puluhan ini, seperti Al-Imam An-Nawawi dan mereka yang mendahuluinya (Al-Jabaan, hal. 7-8).

Sebagian besar ulama tertarik dengan hadits sebelumnya sehingga hadits ini diriwayatkan oleh banyak sahabat Rasulullah (semoga damai dan berkah terlimpah padanya); ibn Abbas, Anas bin Malik, Abu-Hurairah, ibn Omar, dll. (Al-Jabaan, hal. 9). 

“Barangsiapa menghafal dan memelihara untuk umat-ku empat puluh hadits yang berkaitan dengan Sunnah dan ia menyampaikannya kepada mereka, pada hari penghakiman aku akan menjadi pemohon syafaat atau saksi baginya”. [diriwayatkan dari ibn Omar (RA)].

“من حفظ على أمتي أربعين حديثا من السنة حتى يؤديها إليهم كلت له شفيعا أو شهيدا يوم القيامة”.

“Siapa pun yang memelihara dariku kepada umatku yang datang setelahku empat puluh hadits, dia akan ditulis dalam kumpulan ulama dan dia akan dibangkitkan dengan kelompok syuhada”. [diriwayatkan dari ibn Omar].

“من نقل عني إلى من يلحقني من أمتي أربعين حديثا كتب في زمرة الشهداء وحشر في جملة الشهداء”.

Sebagian besar ulama sepakat bahwa hadits ini lemah (daif) bahkan jika diriwayatkan oleh perawi yang berbeda (Al-Khadhir, 2014, par. 2). Al-Imam An-Nawawi mengatakan dalam pengantar bukunya Hadis Empat Puluh An-Nawawi tentang hadits ini dan bagaimana ia bergantung padanya dalam mengumpulkan empat puluh hadits:

“Para ahli sepakat untuk diizinkan menggunakan hadits yang lemah (daif) untuk kebajikan karya (yaitu karya-karya keagamaan). Namun, ketergantungan saya bukan pada hadits ini, tetapi pada perkataan Nabi Muhammad (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) dari hadits yang benar; “Biarkan dia yang hadir di sini menyampaikan (pesan ini) kepadanya yang tidak hadir” (Riyad As-Saleehin); “ليبلغ الشاهد منكم الغائب” dan semoga Allah bersukacita dengan seseorang yang mendengar pepatah saya sehingga menghafalkannya dan kemudian menyampaikannya kepada ” نضر الله امرأ سمع مقاااان “.” (Al-Khadhir, 2014, par. 2-3).

Menarik, bukan? Nantikan lanjutannya di Part 10 |
Sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 |Part 5 |Part 6 | Part 7 | Part 8