Sebuah pujian bagi penerjemah sastra

Karya fiksi yang diterjemahkan terjual lebih laris daripada fiksi Berbahasa Inggris. Nampaknya sudah waktunya untuk memberikan apresiasi bagi para detektif linguistik yang membuat hal tersebut terwujud.

Inilah kisah seorang penerjemah: Hari masih pagi dan saya sedang mengerjakan adegan dari suatu film thriller Argentina. Seorang wanita mendapati perselingkuhan suaminya dan meninggalkan pesan mengerikan di cermin yang ditulis demgam rouge. Dengan rouge (pemerah pipi). Kedengaran tidak tepat. Meskipun saya belum pernah mencobanya, saya pikir akan sulit untuk menulis di atas kaca cermin dengan krim maupun bubuk pemerah pipi. Tentunya Anda akan lebih memandang tepat jika menggunakan lipstik, bukan? Saya beralih ke WordReference -rujukan online yang cukup bijak untuk para ahli bahasa- dan bertanya kepada pengguna forum lain, apakah pemerah pipi bisa berarti lipstik di Amerika Latin. Seseorang dari Spanyol segera mengatakan tidak. Lipstik akan menggunakan kata pintalabios. Orang lain dari Meksiko setuju, meskipun ia mengatakan bahwa lipstik di sana adalah labial lápiz. Kemudian belahan bumi selatan mulai bangun. Seorang komentator mengatakan bahwa rouge memang berarti lipstik di Chili. Dan akhirnya seseorang dari Argentina setuju. Dia mengatakan, ibunya selalu menggunakan kata ini.

Menulis merupakan suatu hal yang soliter -bisa dilakukan secara terpencil sekalipun-, namun sebaliknya, kegiatan penerjemahan justru tumbuh subur dengan koneksi dan kolaborasi. Jika saya menulis buku, saya cenderung merahasiakannya, tetapi ketika saya menerjemahkannya, saya akan melibatkan siapa pun yang mampu untuk turut andil. Tukang ledeng saya menyediakan diagram ketika saya sedang mengerjakan sebuah cerita pendek tentang sebuah perhiasan yang hilang dan mungkin terjatuh di pembuangan air di tikungan. Seorang teman arsitek menjelaskan bagaimana fondasi diletakkan untuk balok menara, dalam sebuah novel di mana sesosok tubuh dikubur dalam semen basah. Berbagai pengacara telah membantu membongkar cara kerja berbagai peradilan. Klub buku di Kedutaan Besar Argentina telah membantu saya dengan beberapa Lunfardo, sebuah bahasa yang berasal dari Lombardy, diasah di penjara-penjara di Buenos Aires, dan keunikan kota tersebut seperti halnya bahasa gaul berima Cockney di London. Terkadang penerjemahan terasa seperti pekerjaan detektif dan terkadang seperti memecahkan teka-teki. Jadi, sangat menyenangkan ketika mengetahui bahwa penerjemah terkenal, Anthea Bell, yang telah meninggal, dan mengerjakan kisah-kisah Asterix di antara karya-karya lainnya, juga merupakan putri dari penyusun pertama teka-teki silang koran Times yang memuat pesan tersembunyi.

Tentu saja, penerjemahan bukan hanya bisnis orang-orang yang dibayar untuk melakukannya. Sekitar 300 bahasa digunakan setiap hari di London, dan New York mungkin menjadi rumah bagi sebanyak 800 bahasa, ini menurut Endangered Language Alliance. Anak-anak secara rutin melakukan penerjemahan atau interpretasi terhadap ungkapan orang tua mereka. Seorang arsitek Italia dapat memberi pengarahan singkat kepada manajer proyek Polandia yang bekerja dengan pembangun Lithuania atas nama klien Iran. Sekolah dan rumah sakit menampung ratusan bahasa. Tidak semua dari kita dapat beralih antar bahasa tetapi kita semua belajar, dari masa kanak-kanak, bagaimana memecahkan kode pola linguistik.

Belum lagi, setiap perbincangan tentang penerjemahan literatur  — alih-alih daftar belanja atau perintah dokter —  anehnya bersifat esoteris/dipahami oleh orang tertentu saja. Seringkali ada pereferensian kepada W.G. Sebald, penulis Jerman yang membuat Austerlitz dan direktur utama British Centre for Literary Translation. Karya itu digambarkan sebagai “seni,” yang tampaknya, seperti cara meletakkan sebuah buku di rak yang tinggi, di luar jangkauan pembaca pada umumnya. Permintaan maaf dan kecemasan menyertai perbincangan di sekitarnya: orang merasa bahwa mereka seharusnya berbicara lebih banyak bahasa atau lebih tertarik pada budaya orang lain. Jika “seharusnya” dapat dihilangkan dari persamaan, literatur asing mungkin tampak lebih menarik, bukankah dimikian?

Nada tersebut sebagiannya dijelaskan oleh sebuah luka bersejarah. Cukup adil untuk mengatakan bahwa penerjemah merasa sulit melakukannya. Sebuah buku dapat membutuhkan dua atau tiga kali lebih lama untuk diterjemahkan daripada ditulis. Namun para penerjemah sering kali tidak disebutkan dalam ulasan buku, maupun dihujani dengan pujian kata sifat: “bersemangat,” “teliti,” “setia.”

Sementara itu patut dicela jika suatu karya tidak disebutkan penerjemahnya, dapat dipahami juga bahwa peninjau/reviewer-nya tidak sering menjelajah, dan tak lebih jauh jelajahnya dari tepian yang dekat: mereka tidak dapat melihat karya dengan cukup baik untuk menggambarkannya. Untuk membandingkan teks asli dengan terjemahan — dengan asumsi peninjau bahkan berbicara dalam bahasa yang dituju — akan memakan waktu lebih dan anggaran yang lebih pula dibanding untuk kebanyakan halaman-halaman buku lain. Hanya para akademisi yang dapat membenarkan pengawasan semacam itu, yang barangkali berkontribusi terhadap nada percakapan terjemahan yang kering.

Namun, upaya-upaya besar untuk memperluas daya tarik fiksi terjemahan akhirnya mulai membuahkan hasil. Pada 2015, Foreign Fiction Prize dari Independent — didirikan kembali oleh editor sastra jangka panjang; Boyd Tonkin, setelah pernah vakum — digabung dengan Man Booker International Prize, dengan hadiah sebesar £ 50.000 yang dibagi rata antara penulis dan penerjemah. International Dublin Literary Award menawarkan € 100.000, € 75.000 untuk penulis dan € 25.000 untuk penerjemah. Hadiah baru lainnya termasuk TA First Translation Prize, dianugerahkan oleh Daniel Hahn, yang mengakui editor bersama penerjemah, dan Peirene Stevns Translation Prize, menawarkan £ 3.500, publikasi di Inggris dan residensi penerjemahan di Pyrenees kepada penerjemah perdana.

Inisiatif-inisiatif ini — bersama-sama dengan generasi baru penerbit-penerbit independen, kerumunan blog online yang ramai dan tagar #TranslationThursday — telah mengalami booming dalam penjualan novel terjemahan. Elena Ferrante dan Karl Ove Knausgaard adalah nama-nama kawakan. Pers kecil seperti And Other Stories, Peirene dan Charco telah meredam unsur “seharusnya” dengan berspesialisasi dalam novel-novel pendek dari penulis baru. Fitzcarraldo Editions, yang memproduksi fiksi dan esai dengan tingkat tinggi di sampul polos, membuat pengarangnya Olga Tokarczuk memenangkan Man Booker International Prize dengan karya berjudul Flights. Sebuah studi yang dilakukan oleh Man Booker pada tahun 2016 menemukan bahwa penjualan fiksi terjemahan di Inggris telah meningkat sebesar 96 persen sejak awal abad 21, dan rata-rata, “buku fiksi terjemahan terjual lebih baik daripada buku-buku yang awalnya ditulis dalam bahasa Inggris, terutama dalam fiksi sastra.”

Angka-angka tersebut berasal dari penulis bagian pengantar Tonkin untuk karyanya The 100 Best Novels in Translation, sebuah ringkasan yang dapat didekati tetapi yang, sekali lagi, tidak mau mempertimbangkan pekerjaan aktual yang dilakukan oleh para penerjemah. Tentu, mereka mendapatkan predikat kata sifat mereka masing-masing: Terjemahan War and Peace oleh Anthony Briggs dianugerahi empat: “Kokoh, mudah dibaca, dapat diandalkan, bahasa sehari-hari.” Don Quixote, yang diterjemahkan Edith Grossman, berhak mendapatkan lima: “Setia, dapat dibaca, kreatif, bergembira, kontemporer.” Namun setiap entri menganggap alur, gaya, dan konteks novel (dengan spoiler yang tak terhindarkan) seolah-olah penerjemahnya tidak terlihat dan gaya itu murni milik penulis. Kita mengetahui bahwa tim suami-istri Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky begitu “radikal” dalam pendekatan mereka terhadap Tolstoy, namun tidak seberapa. (Pevear tidak berbicara banyak bahasa Rusia tetapi bekerja pada terjemahan literal/harfiah, dan catatan berlebihan, diberikan oleh oleh Volokhonsky). Bagi saya, saya selalu ingin tahu mengapa Gabriel García Marquez mengklaim lebih suka One Hundred Years of Solitude dalam terjemahan Gregory Rabassa. Apakah dia hanya bersikap sopan, atau benar-benar “lebih kuat” dalam Bahasa Inggris?

Ini bukan pertanyaan abstrak, karena bahasa sangat menarik dan terjemahannya sangat subyektif sehingga tidak masuk akal untuk mengabaikan cara di mana teks asli telah diterjemahkan, kadang-kadang dengan berbagai cara, selama bertahun-tahun atau berabad-abad. Mungkin ada kesombongan ketika mengakui bahwa satu penafsiran dapat berbeda secara radikal dari yang lain. Beberapa pembaca merasa sangat tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan keaslian sehingga mereka tidak akan membaca terjemahan sama sekali, karena takut tidak mendapatkan “yang sebenarnya.”

Di situlah kegelisahan muncul, karena terjemahan jarang bisa sangat setia dan mudah dibaca. Sebagai contoh yang sangat sederhana, dalam bentuk kata kerja Spanyol tidak perlu disertai dengan kata ganti sehingga karakter dapat melakukan serangkaian tindakan panjang tanpa “dia”, atau “dia” harus diulang setiap kali. Dalam Bahasa Inggris, pengulangan bisa melelahkan untuk dibaca dan beberapa sintaksis yang dibuat “menari ulang”, sering diperlukan.

Setiap penerjemah, di awal karirnya, berharap dapat menghasilkan karya yang begitu mulus sehingga terbaca seolah-olah betul-betul ditulis dalam bahasa target. Beberapa membuat harapan ini sebagai tujuan yang bahkan lebih harfiah daripada yang lain. John Nathan, yang menerjemahkan karya penulis Jepang bernama Yukio Mishima di usianya yang ke-23 tahun, membeli pena Montblanc yang mahal seperti milik Mishima, dan, persis seperti dirinya, bekerja dari tengah malam hingga fajar untuk menciptakan kembali The Sailor Who Fell From Grace with the Sea. Bagi yang lain, keterbacaan berarti merapikan “masalah” dalam teks asli, atau memperbaruinya sesuai selera saat ini.

Nancy Mitford mendapat teguran dari Harold Nicholson karena memodernisasi The Princesse de Clèves, yang ditulis pada 1678 oleh Madame de Lafayette. “Dia sama-sama menangkap dan mencerminkan nada aslinya,” tulisnya, “tetapi ada saat-saat ketika kelelahan mengalahkannya dan dia kambuh, dari gaya Rue de Vaugirard menjadi gaya Roedean.”

Dalam penerjemahan bahasa Rusia mereka, Pevear dan Volokhonsky telah memulihkan sintaks aneh yang dirapikan oleh orang lain. Dalam War and Peace, pada adegan yang mengulangi kata “wept” (“plakat”) tujuh kali, mereka menghormati pengulangan, di mana yang lain memperkenalkan beberapa variasi. Mereka juga tidak akan menggunakan kosa kata Bahasa Inggris yang mulai digunakan setelah penerbitan buku yang sedang mereka kerjakan.

Melalui pengalaman, Anda menyadari bahwa terjemahan yang terlalu lancar kehilangan gesekan yang seharusnya menjadi catatan transisi dari satu bahasa ke bahasa lain, dan berisiko mentransposisi penulis, beserta kata-katanya, ke budaya asing. Saya bisa membuat remaja Argentina terdengar seperti Bahasa Inggris, tetapi jika saya membumbui bahasanya dengan “like” dan “not gonna lie,” apakah Anda masih memiliki perasaan berada di Argentina?

Bahasa gaul dan kata-kata kasar adalah elemen yang paling sulit untuk diperbaiki karena mereka terus berubah, dan tugas tersebut menjadi rumit ketika terjemahan perlu menjangkau pembaca di berbagai negara berbahasa Inggris. “Tosser” seseorang adalah “douchebag” milik orang lain (dan jangan menjadi “fanny“). Alberto Manguel dan saya pernah berdebat di dapur saya tentang sebuah novel di mana dia muncul sebagai karakter sendiri. Saya telah menerjemahkan satu baris sebagai “Alberto Manguel adalah gudang senjata (arsehole).” “Tapi saya pasti akan menyebut diri saya ‘bajingan (asshole)!'” Protesnya. Tampaknya tidak sopan jika tidak setuju.

Apa yang membuat terjemahan sangat berbeda dari teks aslinya adalah ketidakkekalannya. Bagi pembaca Bahasa Inggris, Bleak House akan selalu sama, tetapi Madame Bovary dapat terus berubah. (Favorit Tonkin adalah versi terbaru, ditulis oleh novelis Adam Thorpe). Setiap generasi dapat memiliki Don Quixote baru. Kelancaran itu memungkinkan penyegaran yang luar biasa, tetapi juga membuat pembaca yang menginginkan “teks definitif” merasa khawatir. Sulit untuk menerima bahwa terjemahan tidak bisa sempurna dan tidak statis. Akan selalu ada kesalahan. Dua ribu tahun yang lalu, Santo Jerome menjadikan kata “keren” sebagai “grew horns” alih-alih “radiated light” ketika menerjemahkan Bible, dan pilihannya melahirkan banyak lukisan dan patung Musa dengan tanduk.

Ini adalah kebingungan yang sesuai dengan salah satu yang dijadikan rujukan para penerjemah, karena ketidakpercayaan dibangun ke dalam setiap langkah proses. Cervantes juga mengakui dengan mengklaim bahwa bagian pertama Don Quixote ditulis oleh seorang sejarawan Arab, Cide Hamete Benengeli, dan diterjemahkan untuknya oleh morisco yang tidak dikenal, yang keduanya –menurut Cervantes, memperingatkan pembaca-, mungkin adalah pembohong. Kata-kata itu sendiri mengubah makna dari waktu ke waktu dan ketika saya menerjemahkan kata Lunfardo ke dalam Bahasa Inggris, saya tidak bisa berharap untuk menyampaikan muatan nostalgia, pengasingan, dan penemuan. Tetapi dalam membuat jembatan dari kata Italia / Spanyol / Argentina ke kata Anglo-Saxon, saya hanya memperpanjang perjalanan.

Semakin lama, ini merupakan perjalanan yang menarik bagi pembaca dan penerjemah yang lebih muda. Deborah Smith memilih untuk belajar Bahasa Korea karena alasan yang masuk akal bahwa itu “tampaknya merupakan pertaruhan yang bagus — hampir tidak ada yang tersedia dalam Bahasa Inggris, namun itu adalah negara yang modern dan maju, jadi pekerjaan itu harus ada di luar sana, ditambah kelangkaannya akan membuat keduanya lebih mudah untuk mendapatkan hibah para pelajar dan lebih banyak ceruk ketika mulai bekerja.” Terjemahan-nya atas tulisan Han Kang, The Vegetarian memenangkan Man Booker International Prize dan terjual 140.000 kopi dalam beberapa bulan pertama publikasi. Salah satu pesaing untuk TA First Translation Prize adalah The Sad Part Was, ditulis oleh Prabda Yoon, yang diterjemahkan oleh Mui Poopoksakul dan salah satu karya modern Thailand pertama yang diterbitkan di Inggris.

Minat yang berkembang ini dalam literatur lain datang pada saat jumlah siswa yang belajar bahasa modern menurun tajam dan bukan hanya karena kesalahpahaman bahwa “semua orang berbicara Bahasa Inggris sekarang.” Departemen bahasa telah melucuti konten sastra dari kursus mereka untuk mendukung percakapan yang membosankan tentang lingkungan. Namun bagi saya dan banyak orang lain, membaca fiksi asing, betapapun tidak sempurna, memicu antusiasme untuk belajar bahasa. Saya ingat dengan baik cerita pendek pertama saya, Horacio Quiroga “The Dead Man,” di mana seorang petani secara tidak sengaja jatuh ke parangnya dan tahu bahwa dia akan mati.

Bagi seorang penerjemah, Frank Wynne, contohnya adalah En Mer karya Guy de Maupassant. Sekarang, Wynne telah menyusun buku tebal yang besar, Found in Translation, dari 100 cerita pendek terbaik dari seluruh dunia, yang pasti akan menimbulkan keributan (“The Dead Man” tidak ada di dalamnya), namun bagaimanapun juga, merupakan sebuah karya fiksi asing yang indah. Para tersangka yang populer ada di sana — Mann, Borges, Chekov, Lispector — bersama dengan para penulis termasuk Boleslaw Prus dari Polandia (yang menurut Conrad lebih baik daripada Dickens), bapak sastra modern Bengali, Rabindranath Tagore dan raksasa Cina abad ke-20, Lu Xun. Persembahan kontemporer mencakup kisah-kisah yang aslinya ditulis dalam bahasa Azerbaijan, Catalan, dan Rumania.

Bisakah kita yakin bahwa semuanya adalah terjemahan terbaik? Tentu tidak. Akan selalu ada sesuatu yang hilang dalam terjemahan — namun terlalu takut akan kerugian sehingga Anda kehilangan keuntungan? Itu benar-benar tidak masuk akal, bukan?


Tulisan bersumber dari ulasan Miranda France, kontributor Prospect Magazine.

Salam Excellent!

Chat via Whatsapp