Budaya sebagai perspektif didefinisikan di dalam pengajaran bahasa kamus serta linguistik terapan (Richardson, dkk. 1995: 94) sebagai:

“[budaya], seperangkat total kepercayaan, sikap, kebiasaan, perilaku, dan kebiasaan sosial, dll. …, dari anggota masyarakat tertentu”. 

Bagi banyak orang, budaya dianggap sebagai pintu gerbang kepada masyarakat tertentu, agar dapat muncul wawasan yang cukup jelas tentang identitasnya. 

Terlepas dari peran pentingnya dalam menyampaikan budaya melalui sejarah; menunjukkan dan memperkenalkan budaya orang yang berbeda, negara-negara yang sudah lama berdiri, peradaban kuno, dan bahkan peristiwa prasejarah, pemikiran, juga capaian-capaian.

Beberapa penulis, teoretikus penerjemahan, dan ahli bahasa telah membahas secara totalitas permasalahan dalam penerjemahan budaya di berbagai departemen kajian pemikiran; sekelompok kecil berurusan dengan menerjemahkan apa yang spesifik secara budaya baik dari bahasa Arab ke bahasa Inggris atau sebaliknya. Ini mungkin karena beberapa alasan. Di satu sisi, selalu sulit untuk membuat generalisasi […] Di sisi lain, minat dalam penerjemahan tertunduk pada tujuan yang lain ….

Masalahnya adalah, beberapa bahasa dimuat dengan istilah dan ungkapan budaya yang disebut spesifik kultural. Ekspresi spesifik kultural entah bagaimana sulit untuk diterjemahkan, bahkan para penerjemah profesional merasa kesulitan dalam menghadapinya.

Hal itu disebabkan karena konteks budaya itu terlalu kabur, yaitu mewakili pandangan dunia dari sebuah masyarakat, kepercayaan, emosi dan nilai-nilainya. Dengan demikian ia terdiri dari beberapa faktor penting yang membantu membangun informasi yang diperlukan untuk menafsirkan pesan; memungkinkan penerjemah menerjemahkan dengan mudah dan efektif.

Itulah mengapa, istilah apa pun; satu kata atau ungkapan yang dikatakan spesifik kultural ketika ia menunjukkan benda konkret atau aspek abstrak yang mungkin terkait dengan kepercayaan agama, kebiasaan sosial, kebiasaan dan tradisi atau situasi sosial, nilai-nilai moral, jenis pakaian atau gaya hidup, jenis makanan, prinsip ekonomi, ideologi politik … yang spesifik terkait budaya yang bersangkutan.

Untuk selanjutnya, ketika menerjemahkan budaya, elemen linguistik seharusnya dikaitkan dengan konteks budaya tempat mereka berada. 

Bagi E. Nida (1964: 90), “orang yang terlibat dalam menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain harus terus-menerus menyadari perbedaan dalam seluruh rentang budaya yang diwakili oleh dua bahasa”. 

Artinya, bahasa dianggap sebagai bagian dari budaya dan identitas masyarakat. Misalnya, menurut suku Indian Maya yang tinggal di negara tropis, tidak ada tempat tanpa vegetasi kecuali telah ditebangi untuk ladang jagung. Namun, ladang yang dibuka tidak setara dengan gurun pasir Palestina. 

Kata desert (ءاﺮﺤﺻ / Şhra? /) Kemudian mewakili fitur dalam budaya bahasa sumber yang tidak ditemukan dalam budaya bahasa tujuan. Untuk alasan itu, E. Nida (1964: 91) berpendapat bahwa “kata-kata adalah simbol fundamental untuk fitur budaya”. Jadi, setiap item leksikal/ yang berkaitan dengan kebahasaan tidak dapat dipahami selain dari budaya yang merupakan simbol miliknya.

Meskipun beberapa konsep budaya tampaknya bersifat universal, bagaimanapun; mereka tidak ditafsirkan dengan cara yang sama; setiap bahasa memiliki interpretasinya sendiri sesuai dengan cara berpikir masyarakatnya, gaya hidupnya, dan bahkan posisi geografis mereka. 

Sebagaimana dikatakan sebelumnya oleh Ivir (1981: 56) bahwa bahasa dilengkapi dan di-leksikalisasi secara berbeda. Interpretasi mungkin sangat berbeda sebagaimana juga mungkin hanya sedikit berbeda, yaitu sekadar tumpang tindih yang halus. 

Perbedaan antara budaya dan persepsi kehidupan dari satu masyarakat dengan yang lainnya dapat menyebabkan banyak masalah bagi para penerjemah. Mereka menciptakan banyak celah yang menyebabkan banyak tumpang tindih di antara pasangan bahasa. Karenanya tugas penerjemahan akan menjadi terlalu rumit.

Telya etal. (1998: 58) berpendapat bahwa, misalnya, orang Rusia memahami “hati nurani” sebagai kehadiran Tuhan dalam jiwa seseorang; sedangkan orang Inggris melihatnya sebagai pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. 

Orang bisa melihat bahwa persepsi orang Rusia tentang istilah “hati nurani” kira-kira sama dengan persepsi kaum Muslim Arab; kedua bahasa tersebut menganggapnya sebagai konsep agama. Bagi kaum Muslim Arab; baik dan jahat semuanya terkait dengan agama. Tuhan adalah satu-satunya kebenaran; berbuat baik berarti mematuhi Tuhan, berbuat jahat berarti tidak taat kepada Tuhan. Bagi mereka; hati nurani yaitu merasakan kehadiran Allah kapan pun dan di mana pun. Jadi, penerjemah yang mengabaikan spesifikasi budaya seperti itu tidak akan dapat mengenali cara-cara persepsi yang berbeda yang ada di antar orang, bahasa, maupun budaya. 

Jadi dalam kondisi adanya bebagai pengalih perhatian sebagaimana pada contoh di atas, penerjemah akan salah paham, salah dalam menerjemahkan konsep hati nurani karena ia menerima begitu saja konsep hati nurani itu sebagai hal yang sama dalam semua bahasa, bagi semua orang dari berbagai daerah.

Budaya memang menyebabkan banyak masalah, itulah mengapa para penerjemah dituntut untuk kompeten bukan hanya di tingkat linguistik, namun lebih lagi di tingkat budaya. 

Mari kita pertimbangkan lebih jauh, dengan melihat bagaimana orang Rusia menerjemahkan ungkapan “House of Commons”.

Rusia dulu menerjemahkannya sebagai “pemimpin rapat” yang jelas setara; hal ini tidak mencerminkan peran pembicara, tidak pula ekspresinya yang memiliki padanan dalam bahasa Rusia, Arab, dan Cina.

”The-House-of-Commons” adalah orang yang bertindak sebagai seorang independen yang mempertahankan otoritas dan ketertiban di parlemen (Mona, 1992: 21).

Masalah-masalah yang muncul seputar penerjemahan kebudayaan adalah hasil dari perbedaan antar bahasa sebagai seperangkat kebahasaan dan makna, sebagaimana antar budaya adalah cara untuk mengekspresikan identitas diri, juga gaya hidup. 

Khususnya ketika para penerjemah menemukan kata dalam SL / C yang mungkin mengekspresikan konsep yang sama sekali tidak dikenal dalam TL / C; baik itu konsep abstrak maupun konkret.

Pada tahun 1992, Mona Baker menyatakan bahwa kata SL dapat mengekspresikan konsep yang sama sekali tidak dikenal dalam budaya target. Bisa abstrak maupun konkret. Bisa jadi berupa keyakinan agama, kebiasaan sosial, atau bahkan jenis makanan. 

Dalam bukunya, “In Other Words, ia berargumen tentang ketidaksetaraan yang umumnya ditemui saat penerjemah menerjemahkan dari SL ke TL, sementara kedua bahasa memiliki budaya khusus yang berbeda. Dia menempatkan mereka dalam urutan sebagai berikut:

a) Konsep spesifik kultural
b) Konsep SL yang tidak dijelaskan dalam TL 
c) Kata SL yang secara semantik rumit 
d) Bahasa sumber dan target membuat perbedaan makna yang berbeda 
e) TL tidak memiliki super ordinat 
f) TL tidak memiliki istilah tertentu (hiponim) 
g) Perbedaan dalam perspektif fisik atau antarpribadi 
h) Perbedaan makna ekspresif 
i) Perbedaan bentuk 
j) Perbedaan dalam frekuensi dan tujuan penggunaan formulir tertentu 
k) Penggunaan kata-kata pinjaman dalam teks sumber

Mona Baker juga percaya bahwa penerjemah perlu memiliki seperangkat pengetahuan tentang semantik dan leksikal. Karena dalam hal ini:

Dia akan menghargai “nilai” kata dalam sistem pegetahuan yang ada dan perbedaan struktur dalam SL dan TL. Ini memungkinkannya untuk memberi nilai dari item yang diberikan dalam seperangkat leksikal. 

Ia dapat mengembangkan strategi untuk menangani bidang semantik non-ekuivalen. Teknik-teknik ini diatur secara hierarkis dari umum (superordinat) ke spesifik (hiponim).

Beberapa strategi yang diperkenalkan oleh Newmark untuk mengatasi kesenjangan budaya:

1) Naturalisasi: 
Strategi ketika kata SL ditransfer ke teks TL dalam bentuk aslinya.

2) Couplet atau triplet dan quadruplet
Apakah teknik lain yang diadopsi penerjemah pada saat mentransfer, menaturalisasi atau melakukan proses berlapis untuk menghindari kesalahpahaman: sejumlah strategi yang digabungkan bersama untuk menangani satu masalah.

3) Netralisasi: 
Netralisasi adalah semacam parafrase di tingkat kata. Jika berada di level yang lebih tinggi, itu akan menjadi parafrase. Ketika item SL digeneralisasikan (dinetralkan), maka kata tersebut diparafrasekan dengan beberapa kata yang bebas budaya. 

4) Setara secara deskriptif dan fungsional: 
Dalam penjelasan item budaya dari bahasa sumber, terdapat dua elemen: satu deskriptif dan satu lagi fungsional. Ekuivalen secara deskriptif meliputi segala hal tentang ukuran, warna, dan komposisi. Sedangkan ekuivalen secara fungsional yaitu tujuan dari kata spesifik kultural SL.

5) Penjelasan berupa catatan kaki: 
Penerjemah mungkin ingin memberikan informasi tambahan kepada pembaca TL. Dia akan menjelaskan informasi tambahan ini bagian catatan kaki. Catatan ini bisa muncul di bagian bawah halaman, di akhir bab atau di bagian akhir buku.

6) Kesetaraan budaya: 
Kata budaya SL diterjemahkan oleh kata budaya TL

7) Kompensasi: 
Suatu teknik yang digunakan ketika menghadapi kehilangan makna, efek suara, efek pragmatis atau metafora dalam satu bagian teks. Kata atau konsep dikompensasi di bagian lain dari teks.

Pada tahun 1992, Lawrence Venuti menyebutkan kekuatan efektif yang mengendalikan penerjemahan. Dia percaya bahwa selain pemerintah dan lembaga bermotivasi politik lainnya yang mungkin memutuskan untuk menyensor atau mempromosikan karya-karya tertentu, ada kelompok dan lembaga sosial yang akan memasukkan berbagai pemain dalam publikasi secara keseluruhan.

Mereka adalah penerbit dan editor yang memilih karya dan memerintahkan terjemahan, membayar penerjemah dan sering menentukan metode terjemahan. Mereka juga termasuk agen sastra, tim pemasaran dan penjualan serta pengulas. Masing-masing pemain memiliki posisi dan peran tertentu dalam agenda budaya dan politik yang dominan pada waktu dan tempat mereka.

Permainan kekuasaan adalah tema penting bagi komentator budaya dan sarjana penerjemahan. Baik dalam teori maupun praktik penerjemahan, kekuatan berada dalam penyebaran bahasa sebagai suatu senjata ideologis untuk mengecualikan atau memasukkan pembaca, sistem nilai, seperangkat kepercayaan, atau bahkan seluruh budaya.

Pada tahun 1988 Newmark mendefinisikan budaya sebagai “cara hidup dan manifestasinya yang khas bagi sebuah komunitas yang menggunakan bahasa tertentu sebagai sarana ekspresinya”, dengan demikian, mengakui bahwa setiap kelompok bahasa memiliki fitur budaya tertentu. Dia juga memperkenalkan ‘Kata Budaya‘/Cultural word yang tidak mungkin dipahami oleh pembaca, dan strategi penerjemahan untuk jenis konsep ini tergantung pada jenis teks tertentu, persyaratan pembaca dan klien, dan pentingnya kata budaya dalam teks.

Peter Newmark juga mengategorikan kata-kata budaya sebagai berikut:

1) Ekologi: flora, fauna, bukit, angin, dataran 
2) Budaya Material: makanan, pakaian, rumah dan kota, transportasi 
3) Budaya Sosial: bekerja dan bersantai 
4) Kebiasaan Organisasi, Kegiatan, Prosedur

Konsep:

• Politik dan administrasi 
• Agama 
• Artistik

5) Gerak-gerik dan Kebiasaan 

Newmark memperkenalkan faktor kontekstual untuk proses penerjemahan yang meliputi:

1- Tujuan teks 
2- Tingkat motivasi dan budaya, juga teknis dan bahasa pembaca 
3- Pentingnya rujukan dalam teks SL 
4- Pengaturan (apakah terjemahan yang dikenal memang ada?) 
5- Kemutakhiran kata / referensi 
6- Masa depan atau pemberi referensi

Newmark lebih jauh memberi pernyataan dengan jelas bahwa secara operasional, dia tidak menganggap bahasa sebagai komponen atau fitur budaya yang bertentangan langsung dengan pandangan yang diambil oleh Vermeer yang menyatakan bahwa “bahasa adalah bagian dari suatu budaya” (1989: 222). Menurut Newmark, sikap Vermeer akan menyiratkan ketidakmungkinan untuk menerjemahkan sedangkan untuk yang terakhir, menerjemahkan bahasa sumber (SL) ke dalam bentuk TL yang sesuai adalah bagian dari peran penerjemah dalam komunikasi transkultural.

Bahasa dan budaya dengan demikian dapat dilihat sebagai terkait erat, dan kedua aspek harus dipertimbangkan untuk diterjemahkan. Ketika mempertimbangkan penerjemahan kata-kata dan gagasan budaya, Newmark mengusulkan dua metode yang berlawanan: transferensi dan analisis komponen. 

Menurutnya transferensi memberi “warna lokal,” menjaga nama dan konsep budaya. Meskipun menempatkan penekanan pada budaya, namun juga bermakna bagi pembaca awal, ia mengklaim metode ini dapat menyebabkan masalah bagi pembaca umum dan membatasi pemahaman aspek-aspek tertentu. Pentingnya proses penerjemahan dalam komunikasi membuat Newmark mengusulkan analisis komponen yang ia gambarkan sebagai “prosedur penerjemahan yang paling akurat, yang mengecualikan budaya dan menyoroti pesan”.

Journal by: Dr. Oukab Chahrour 12/3/2018

Chat via Whatsapp