Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah menunjukkan studi perbandingan dalam penerjemahan beberapa hadits Nabi Muhammad (semoga damai dan berkah terlimpah padanya). Dipilih dari kompilasi Hadits Empat Puluh karya An-Nawawi sehingga penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan masalah dan kesulitan yang dihadapi oleh seorang penerjemah. 

Pengantar

Penelitian ini mempelajari terjemahan kitab Hadits Empat Puluh karya An-Nawawi, sebuah studi komparatif/perbandingan. Karya tersebut merupakan kompilasi yang mencakup empat puluh dua hadits yang disabdakan oleh Rasulullah Muhammad (semoga damai dan berkah terlimpah padanya). Kompilasi ini dinamai berdasarkan nama orang yang mengumpulkannya: Al-Imam Muhyi Ad-din Yahya bin Sharaf An-Nawawi yang lahir di Nawa, sebuah tempat yang dekat dengan Damaskus (Al-Jabaan, hal. 23).

Kisah di balik penyusunan kitab ini adalah bahwa seorang cendekiawan Islam/ulama, yaitu Ibn Solah, menyusun di papan pengajaran ilmu hadist-nya hanya dua puluh enam hadist yang ia anggap sebagai komponen utama dalam Islam, kemudian Al-Imam An-Nawawi menambahkan enam belas, sehingga menjadi empat puluh dua hadits. Al-Imam An-Nawawi menekankan bahwa semua hadist ini benar, karena terkait dengan periwayatan Al-Bukhari dan Muslim (Al-Jabaan, hal. 26-27).

Banyak cendekiawan Islam yang mengumpulkan empat puluh hadits tentang masalah-masalah tertentu dalam kehidupan, namun sebagian besar cendekiawan ini setuju bahwa Hadits Empat Puluh An-Nawawi adalah suatu seruan hukum Islam universal yang mempelajari isu-isu besar dan beragam bagi umat Islam. Dengan demikian, koleksi Hadits Empat Puluh karya An-Nawawi adalah koleksi hadist terpenting dari Rasulullah (semoga damai dan berkah terlimpah padanya) (Al-Jabaan, hlm. 27).

1.2 Pernyataan Masalah Penelitian

Penerjemahan teks-teks Islam (yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi) adalah salah satu jenis penerjemahan yang paling sulit. Kegiatan ini membutuhkan minat dari para penerjemah sehingga bahaya akibat ketidaktahuan seorang penerjemah dalam masalah-masalah Islam mempengaruhi berlangsungnya penerjemahan teks, yang pada gilirannya akan mempengaruhi banyak Muslim non-Arab, karena mereka tidak dapat mengenali apakah teks yang diterjemahkan itu benar atau salah. 

Ketidaktahuan ini juga mengarah pada terjemahan yang terdistorsi, sehingga memungkinkan mereka yang dengan sengaja menyerang ajaran Islam sering mencerca Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Semua bahaya ini harus dihadapi sehingga cara menghadapinya adalah dengan terjemahan yang benar, yang menerangi jalan yang lurus dan menuntun pada kebenaran, serta memberikan pembelaan dari para pelaku kejahatan terhadap ajaran Islam.

1.3 Hipotesis Penelitian

Para peneliti berhipotesis bahwa teks-teks keagamaan adalah yang paling sulit dalam proses penerjemahan, karena makna yang dimaksudkan dari teks-teks ini adalah suci dan tidak memperkenankan distorsi apapun. Sulit untuk menerjemahkannya kecuali jika seorang penerjemah memiliki kemampuan ilmiah dan kebenaran baik tentang sumber dan bahasa target untuk mentransfer makna yang dimaksud.

Kesalahan umum yang dilakukan oleh para penerjemah teks keagamaan adalah karena ketaatan mereka kepada teks asal secara harfiah, sehingga mereka menyampaikan makna yang tidak pantas atau terdistorsi tentang teks sumber dalam bahasa target. 

Menggunakan transliterasi daripada terjemahan untuk istilah-istilah Islam juga dapat mempengaruhi pemahaman pembaca non-Arab, terutama jika penerjemah menggunakannya tanpa menjelaskan makna dari istilah-istilah ini.

Menarik bukan? Nantikan lanjutannya di Part 2.