Bahasa dan Informasi merupakan suatu hal yang saling terkait. Anda tentu ingin menjadi seorang yang lebih bijak dalam berbahasa, atau mungkin Anda orang yang selalu terlibat dalam menerjemahkan informasi-informasi penting semisal komunikasi dengan mitra bisnis yang penting sementara Anda adalah perwakilan perusahaan, maka pemahaman seputar filosofi bahasa dan penarikan informasi menjadi penting pula.

Penarikan informasi dari dokumen atau materi-materi tekstual pada dasarnya adalah proses linguistik. Pada akhirnya kita perlu mendeskrisikan apa yang kita inginkan dan menyesuaikan deskripsi tersebut dengan deskripsi dari informasi yang tersedia bagi kita.

Lebih jauh lagi, ketika kita mendeskripsikan sesuatu yang kita mau, kita harus memaknai sesuatu dengan deskripsi tersebut. Ini merupakan suatu tipuan dari kegiatan yang nampak sederhana, namun nyatanya peristiwa linguistik sedemikian telah menjadi ladang bagi para analis filosofis semenjak masa Aristoteles.

Meski terdapat kompleksitas yang terlibat dalam proses mengacu pada pengarang, tipe-tipe dokumen, atau kategori lain dalam konteks penarikan informasi, di sini kita akan berfokus pada salah satu aktivitas yang paling problematik dalam penarikan informasi: pendeskripsian konten intelektual dari pokok informasi.

Meskipun konteks penarikan informasi dalam hal ini adalah dari teks tertulis, pembahasan ini dapat diaplikasikan pada informasi apapun yang konten intelektualnya dapat dideskripsikan untuk penarikan dari buku, dokumen, gambar, klip audio, klip video, karya-karya ilmiah, skema permesinan, dan lain sebagainya.

Agar spesifik, bagaimanapun, kita akan merujuk pada deskripsi dan penarikan informasi dari dokumen.

Deskripsi konten intelektual bisa mengalami kesalahan dalam berbagai bentuk yang nampak. Kita mungkin mendeskripsikan yang kita inginkan dengan tidak tepat; kita mungkin mendeskripsikannya tepat tetapi dalam istilah yang umum yang deskripsinya tidak bermakna untuk penarikan informasi; atau kita mungkin mendeskripsikan yang kita inginkan dengan benar, namun salah dalam menginterpretasikan deskripsi dari informasi yang tersedia, sehingga tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Dari sudut pandang linguistik, kita bisa salah paham pada proses penarikan informasi dalam banyak hal. Karena filosofi bahasa berhadapan secara spesifik dengan bagaimana kita memahami dan tidak memahami, yang seharusnya dapat berguna untuk memahami proses deskripsi dalam penarikan informasi.

Pertama, bagaimanapun, kita akan mencermati lebih dekat macam-macam dari kesalahpahaman yang dapat terjadi dalam penarikan informasi. Kita menggunakan bahasa dalam mencari informasi dengan dua metode utama.

Kita menggunakannya untuk [1] mendeskripsikan apa yang kita inginkan dan untuk [2] mendiskriminasi apa yang kita inginkan dari informasi lain yang tersedia bagi kita, di mana informasi tersebut tidak kita inginkan.

Deskripsi dan diskriminasi sama-sama mengartikulasikan tujuan dari proses pencarian informasi. Mereka juga melukiskan dua jalur pokok yang dalam bahasa tertentu dapat menggagalkan kita dalam proses ini. Van Rijsbergen (1979) adalah yang pertama dalam membuat pemilahan ini, menyebutnya sebagai “representation” dan “discrimination”.

– Kegagalan Deskripsi

Halo Mitra Excellent!

Berikut seri kedua dari pembahasan kita tentang Filosofi Bahasa dan Penarikan Informasi. Kali ini kita akan mengulas persoalan penarikan informasi yang pertama, seputar kegagalan deskripsi.

Kegagalan suatu deskripsi dapat terjadi dalam berbagai cara. Kegagalan yang paling jelas adalah ketika bagian dari informasi dideskripsikan secara keliru; contohnya, sebuah buku pelajaran (textbook) tentang “economics” telah dideskripsikan menjadi “anthropology”, atau sebuah buku yang oleh Mark Twain dinyatakan telah ditulis oleh Henry James. Terdapat pula kegagalan yang lebih halus dari deskripsi, yaitu ketika suatu deskripsi umumnya benar akan tetapi di luar komprehensi/pemahaman dari penyelidik yang mungkin telah melihatnya.

Sebuah contoh tentang hal ini adalah satu buku yang mengulas tentang “plate tectonics” di saat penyelidik pada umumnya tertarik dengan teori “continental drift”. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa “plate tectonics” adalah deskripsi yang lebih formal dari penunjukan subjek yang sama. Pada situasi lainnya, pandangan yang bertentangan muncul tentang sebuah literatur tertentu, bagaimana seharusnya digambarkan; sebagai contoh, beberapa peneliti mungkin mempertimbangkan “cold fusion” sebagai riset ilmiah dalam ranah yang valid yang memerlukan kategorinya sendiri, sedangkan orang lain melihat kinerja pada “cold fusion” sebagai suatu yang lebih layak jika digolongkan di bawah rubrik “crank theories” atau “pseudo-science”.

Ketika kita melihat hanya pada kebenaran yang beralasan atau deskripsi yang berguna sehingga dapat mendeskripsikan sebuah pokok dari informasi, seperangkat deskripsi yang beralasan ini mungkin jumlahnya begitu besar. Hal ini telah ditunjukkan secara empiris (Swanson, 1996), dan diargumentasikan secara teoretis (Blair, 1990), bahwa sejumlah deskripsi yang berbeda yang dapat mendeskripsikan konten intelekutal bahkan dari dokumen yang relatif pendek mungkin saja tidak memiliki batasan-batasan sekalipun tinggi.

Kesimpulan ini menimbulkan gagasan dan pertanyaan tentang “exhaustive indexing” – sebuah tugas untuk meng-index seluruh deskripsi yang dapat mendeskripsikan konten intelektual dari suatu pokok informasi.

Beberapa berargumentasi bahwa sistem penarikan informasi seharusnya menggunakan semua index yang memungkinkan untuk mendeskrisikan konten intelektual dari sebuah dokumen – sebuah strategi yang disebut “unlimited aliasing” (Furnas, Landauer, Gome, & Dumais, 1987).

Strategi sedemikian mengabaikan dua hal:

Pertama, mungkin tidak ada batas atas (upper bound) pada jumlah kata dan frasa yang dapat mendeskripsikan konten intelektual bahkan dari suatu pokok informasi kecil.

Kedua, beberapa dari banyak index istilah yang memungkinkan akan selalu lebih berguna untuk penarikan informasi dari yang lainnya, jadi tugas bagi setiap index istilah yang beralasan pada sebuah dokumen mungkin bukan strategi index yang terbaik-beberapa index istilah benar-benar lebih baik daripada yang lainnya, sebagaimana Brooks (1993) telah tunjukkan.

Jumlah yang tinggi dari deskripsi yang beralasan sama-sama ada baik dan buruknya. Baik dalam pengertian bahwa dapat sampai pada satu atau lebih index istilah yang beralasan. Namun buruk dalam pengertian bahwa dikarenakan begitu banyak deskripsi yang beralasan dalam satu dokumen, seorang peneliti mungkin mendapati masa yang sulit untuk mengantisipasi seorang yang seharusnya ditugasi tentang dokumen tertentu, dan lebih jauh, dokumen yang memiliki konten intelektual yang sama mungkin dideskripsikan dalam beberapa cara yang berbeda (sebagai contoh, satu dideskripsikan sebagai “continental drift” sedangkan lainnya pada topik yang sama dideskripsikan sebagai “tectonic plates”.

Sekalipun proses deskripsi utamanya berfokus pada dokumen yang lingkupnya individu atau kategori informasi, proses diskriminasi memerlukan pandangan persoalan representasi secara lebih luas.

Hal ini tidak hanya berkaitan dengan dokumen dengan lingkup individu atau kategori-kategori informasi, tetapi juga hubungan antara dokumen yang dikehendaki dengan dokumen-dokumen lainnya yang tersedia bagi penyelidik.

Tujuan dari diskriminasi adalah untuk memilah -dalam arti pendeskripsian- antara dokumen yang nampak berguna bagi penyelidik dari dokumen-dokumen yang ada dengan konten intelektual yang serupa yang nampaknya tidak berguna.

Kemampuan melakukan diskriminasi antara informasi yang berguna dan tidak berguna menyusun deskripsi yang berkelanjutan yang dapat dikarakterisasi, berkisar mulai dari yang spesifik (sangat diskriminasi) ke istilah umum (kurang diskriminasi).

Kegagalan diskriminasi yang paling jelas adalah deskripsi dari konten intelektual atas dokumen yang dikehendaki yang mana terlalu umum untuk dipisahkan dari konten intelektual dari dokumen yang tidak diperlukan.

Sebagai contoh, jika deskripsi subjek “computers” (komputer) ditambahkan pada semua buku dan jurnal pada sebuah komputer perpustakaan ilmu pengetahuan, tentu tidak ada kekuatan diskriminasi sama sekali di dalam perpustakaan tersebut.

Kegagalan diskriminasi sedemikian terlau jelas untuk menjadi suatu hal yang biasa, namun sebuah bentuk tersembunyi dan membahayakan dari kegagalan diskriminasi dapat terjadi bahkan dengan penerapan index deskripsi yang penuh kehati-hatian.

Kegagalan tersembunyi dan berbahaya seperti ini terjadi ketika sebuah pendeskripsian mengidentifikasi sejumlah dokumen yang relatif sedikit dalam sebuah sistem penarikan informasi, dan telah dilakukan diskriminasi dengan sangat baik, namun sepanjang sistem tersebut berjalan, dokumen demi dokumen digambarkan dengan cara yang sama terus ditambahkan.

Bahkan, jumlah dokumen yang digambarkan denan cara ini mencapai sebuah titik yang mana deskripsi, dengan sendirinya, tidak cukup baik dalam melakukan diskriminasi sebagai hal yang berguna bagi penyelidik; yang mana, ketika deskripsi digunakan dengan sendirinya sebagai istilah pencarian, ia menarik lebih banyak informasi dari pada yang diinginkan oleh peneliti untuk dicari dan untuk menemukan apa yang mereka kehendaki (Blair, 1980).

Tentu, kondisi ketika sebuah deskripsi gagal untuk mendiskriminasi dengan benar bukanlah suatu jumlah yang pasti, dan dapat bergantung pada banyak faktor, termasuk ketekunan dari penyelidik yang menggunakan deskripsi tersebut dan ketersediaan dari deskripsi lainnya yang dapat mengurangi ukuran dari kategori diskriminasi informasi yang lebih sedikit.

Beberapa peneliti secara signifikan lebih teliti atau lebih termotivasi dari yang lainnya dan lebih ingin untuk melihat-lihat seperangkat besar dari dokumen yang ditarik. Ketekunan sedemikan seringkali bergantung pada pentingnya menemukan dokumen yang diinginkan dan waktu yang tersedia untuk pencarian.

Di sisi lain, menggunakan deskripsi lain mungkin mengurangi jumlah satuan pada kategori tertentu.

Periode waktu seringkali digunakan untuk melakukan kualifikasi sebuah deskripsi yang lebih tidak mendiskriminasi, sebagaimana ketika satu hanya memerlukan deskripsi satuan yang paling mutakhir sebagai kategori luas dari “computer science” (ilmu komputer).

Mengingat dan Presisi

Setiap diskusi tentang kegagalan penarikan informasi perlu memperhatikan dua pengukuran pelengkap dari pelaksanaan penarikan informasi: mengingat (recall), yang merupakan persentae dari dokumen yang relevan berhasil ditarik, dan ketepatan (precision), yaitu persentase keberhasilan penarikan informasi dari dari dokumen yang relevan (Blair & Maron, 1985).

Secara umum, kita dapat mengatakan bahwa kegagalan deskripsi berujung pada pengingatan/recall yang rendah, sedangkan kegagalan diskriminasi cenderung menurunkan ketepatan/precisionRecall dan precision telah diketahui saling tarik-menarik secara kasar dan tidak dalam cara yang jelas –tingkat yang lebih tinggi dari mengingat dicapai dengan mengorbankan tingkat ketepatan, demikian pula sebaliknya.

Pengaruh ini memberi kesan bahwasanya deskripsi dan diskriminasi mungkin saling tarik-menarik dengan cara yang sama. Menggambarkan apa yang kita kehendaki dalam istilah yang paling mampu mencakup (umum/general) mungkin akan berujung pada konstruksi pertanyaan pencarian yang akan menjadi mampu mencakup, namun tidak cukup mendiskriminasi (sebagai contoh, pengingatan akan tinggi dan ketepatan rendah).

Di sisi lain, membuat pertanyaan pencarian sedapat mungkin dengan cukup diskriminasi (yaitu dengan tepat) akan memungkinkan mengarah pada pertanyaan yang tidak menggambarkan apa yang kita inginkan dengan cukup mencakup (sebagai contoh, ketepatan akan tinggin dan pengingatan akan rendah). Sebagai contoh dengan mengingat dan ketepatan, tarik-menarik antara deskripsi dan diskriminasi berjalan dengan kasar dan tidak secara jelas.

Pembahasan di atas akan menjadi lebih jelas tatkala proses dari deskripsi dan diskriminasi telah berhasil dijelaskan; hal itu sebagaimana dalam tulisan kami berikutnya.

Proses Deskripsi dan Diskriminasi

Pertumbuhan koleksi dokumen elektronik, terutama dengan keberadaan World Wide Web (WWW, atau Web) yang ada di mana-mana, serta ketersediaan mesin pencari internet yang luas telah menempatkan perangkat penarikan informasi di tangan siapapun yang memiliki akses ke Web.

Individu yang dulunya harus berkonsultasi dengan pencari professional semisal pustakawan, saat ini bisa melakukan pencarian mereka sendiri. Akses yang luas pada informasi publik yang sedemikian dapat mendorong terwujudnya masyarakat yang bebas dan terbuka, namun penggunaan mesin pencari internet yang meluas mungkin saja akan mengubah cara kita menanyakan informasi.

Ketika para penyelidik menanyai seorang pencari professional untuk minta bantuan menemukan suatu informasi, mereka dapat menggambarkan apa yang mereka kehendaki menggunakan semua seluk-beluk dan nuansa ekspresi bahasa yang alami. Pencari professional, pada gilirannya, bisa mengklarifikasi permintaan penyeidik dengan menanyakan pertanyaan yang sesuai.

Saat ini penyelidik umumnya melakukan pencarian mereka sendiri menggunakan mesin pencari, dengan hilangnya banyak interaksi perihal seluk-beluk antara penyelidik dengan pencari professional. Permintaan informasi yang khas yang diserahkan pada mesin pencari internet hari ini terdiri hanya oleh beberapa kata –seringkali hanya satu. Sebagai sebuah konsekuensi, adalah penting bagi kita mencermati secara tepat apa yang dimaksud sebagai kata-kata indiidu ketika mereka digunakan untuk meminta (yaitu, untuk menggambarkan) informasi dengan konten intelektual yang tertentu.

Perubahan lainnya yang terjadi dalam proses penarikan informasi adalah pertumbuhan ukuran yang dramatis dari koleksi dokumen yang tersedia. Semua tentu telah mengetahui bagaimana Web bertumbuh, namun bahkan koleksi dokumen privat semisal jaringan intranet dari institusi dan perusahaan serta database dokumen terus bertumbuh dalam tingkat yang spektakuler.

Alasan terjadinya hal tersebut dominan karena ekonomi. Kita telah sampai pada titik koleksi dokumen elektronik yang mana telah dihargai dengan pencermatan dan pembuangan material, semisal laman Web yang telah hidup lebih lama dari pada fungsina, telah menjadi lebih tinggi daripada harga penyimpanannya.

Sebagai hasilnya, kita memiliki banyak koleksi elektronik yang tidak pernah atau jarang disiangi oleh dokumen using. Koleksi yang menghasilkan dari informasi elektronik, seperti internet, tumbuh tanpa batas atas yang jelas. Namun semenjak koleksi dokumen tumbuh semakin besar, sebuah perubahan yang halus dalam proses penarikan informasi sedang terjadi.

Dibanding tujuan formulasi pertanyaan pencarian menjadi yang utama deskripsi dari apa yang dikehendaki, formulasi pertanyaan dari tujuan yang mampu mengesampigkan telah menjadi diskriminasi dari sejumlah kecil dokumen yang dikehendaki dari dokumen yang tak dikehendaki yang mana tengah meningkat dengan sangat pesat.

Apa Makna Deskripsi?

– Kata dan Makna

Disebabkan pertumbuhan yang dramatis dan hampir tidak terhindarkan dari sistem penarikan informasi, serta begitu banyak celah dalam deskripsi informasi yang bisa saja keliru, apabila kita ingin meningkatkan proses pelengkap dalam menggambarkan apa yang kita inginkan dan menggambarkan apa yang tersedia untuk kita, merupakan hal yang penting untuk menelaah sejeli mungkin aktivitas penggambaran konten intelektual dari informasi.

Di awal pembahasan ini, dinyatakan dengan jelas bahwa: “ketika kita menggambarkan apa yang kita kehendaki, kita harus memaknai sesuatu dengan deskripsi tersebut.”

Namun tepatnya apa yang sebetulnya kita maksudkan ketika kita menggambarkan apa yang kita inginkan?

Satu setengah dekade yang lalu, van Rijsbergen (1986a) menulis bahwa satu di antara komponen yang paling tidak ada dari teori penarikan informasi telah nampak secara eksplisit, yaitu gagasan formal tentang makna.

Itulah mengapa pembahasan filosofi bahasa dalam topik ini diperuntukkan memberi pedoman bagi kita.

(Habitat komplementer dari indexing dan proses pencarian adalah topik mayoritas dari Blair [1990]. Upaya yang lebih awal untuk mengurangi keadaan yang tak pasti dari dua proses tersebut disajikan dalam Blair [1986]).

Wittgenstein: Kata dan makna

Para filososf telah mempertimbangkan “makna dari makna” semenjak periode Aristoteles, namun mungkin tidak ada filosof yang memiliki impact/pengaruh yang lebih besar dalam filosofi bahasa dibanding Ludwig Wittgenstein (1889-1951).

Apa yang dilakukan oleh Wittgenstein merupakan sesuatu yang menjadi penolong dalam membawa era linguistik/linguistic turn dalam filosofi analitis selama kurun abad ke-20. Linguistic turn dihasilkan dari realisasi filosof yang mempunyai perhatian besar untuk mengkaji “ideas” yang utamanya mengkaji deskripsi ide-ide/descriptions of ideas– bukan apa yang kita pikirkan, tetapi apa yang kita katakan saat kita berpikir.

Akses langsung satu-satunya yang kita miliki adalah atas ide-ide kita sendiri, dengan melakukan introspeksi. Namun kita tidak dapat dengan mudah meng-generalisasi introspeksi kita atas statemen-statemen tentang bagaimana orang lain berpikir (Hacker 1996b; Rorty, 1976).

Wittgenstein (1953) memperkuat perubahan ini pada apa yang dilakukannya kemudian, Philosophical Investigations, dengan berargumentasi bahwa banyak dari persoalan filosofis yang menyulitkan para filosof sebetulnya sama sekali bukan persoalan, namun hanyalah hasil dari penggunaan bahasa yang keliru.

Wittgenstein menyebutkan dengan ringkas tetapi jelas,

“Philosophy is a battle against the bewitchment of our intelligence by means of language”

[Filosofi adalah sebuah pertarungan melawan terpesonanya kecerdasan kita dengan makna-makna bahasa] (Wittgenstein, 1953, p. 47).

Merupakan hal tidak mungkin untuk menyajikan pembahasan Wittgenstein yang luas secara keseluruhan tentang filosofi bahasa di sini. Karyanya yang terpublikasi hingga mencapai 13 volume, dan karyanya Nachlass, atau literary estate (kebun literasi), yang banyak darinya belum terpublikasi, bahkan lebih besar lagi-lebih dari 30.000 halaman (saat ini tengah proses publikasi dalam 15 volume atau lebih sebagaimana Wiener Ausgabe [Nedo, 1993]).

Kisah komplikasi dan intrik dari proyek ini dirinci dalam Toyton (1997). Versi CD-ROM elektronik lengkap karya Wittgenstein berjudul Nachlass, tulisan-tulisan yang dipublikasi, pemberian materi kuliah, dan surat-surat, masing-masing tersedia di InteLex (http:/library.nlx.com/).

Pembaca semestinya juga telah memahami bahwa Wittgenstein bukanlah satu-satunya filosof besar tentang bahasa; lainnya akan dibahas juga di sini. Memang tidak dipungkiri adanya filosof-filosof yang berselisih pendapat dengan Wittgenstein. Pembahasan ini bukan dalam rangka membela Wittgenstein, namun menyajikan porsi yang relevan atas apa yang telah dilakukannya seterang ungkin disebabkan pengaruhnya yang besar dalam lingkaran filosofi dalam lingkup linguistic dan psikologi.

Sebuah peninjauan yang luas yang baik tentang filosofi bahasa pada abad ke-20 disajikan oleh Lycan (2000). Blackburn (1984) menyajikan sebuah pengantar untuk filosofi bahasa yang ditulis spesifik untuk mereka yang bukan filosof. Pengantar Devitt dan Sterelny (1999) tentang filosofi bahasa meliputi sebuah bagian tentang “language and mind”/bahasa dan jiwa dan sebuah diskusi tentang apa yang dilakukan oleh seorang ahli bahasa, Noam Chomsky.

Terakhir, banyak dari karya-karya tentang filosofi bahasa dikumpulkan dalam Rosenberg dan Travis (1971). Pengumpulan yang lebih baru dapat ditemukan dalam Ludlow (1997).

Komentar Terhadap Karya Wittgenstein

Komentar tentang apa yang dilakukan oleh Wittgenstein begitu luas. Komentar yang paling rinci terhadap karya Wittgenstein yang paling berpengaruh. Philosophical Investigations, adalah oleh asisten-penulisnya G. P. Baker dan P. M. S. Hacker (dua volume awal adalah oleh Baker dan Hacker [1980, 1985] dan volume 3 dan 4 oleh Hacker sendiri [1990, 1996b]). Pembahasan Wittgenstein dalam topik-topik yang spesifik seringkali tersebar di tulisan-tulisannya, sehingga indeks yang dibuat Garth Hallet (1977) atas Philosophical Investigations seringkali bisa menjadi sebuah perangkat yang sangat berguna untuk menempatkan dan membawa seua tulisan-tulisannya paad subjek yang sama.

Murid awal Wittgenstein dan professor filosofi dari Cornell, Norman Malcolm, telah menyatukan koleksi-koleksi essay yang mendalam tentang karya-karya Wittgenstein. Bagian dari catatan khusus aalah karyanya berjudul Wittgensteinian Themes: Essays 1978-1989 (Malcolm, 1995). Bahkan kehidupan personal Wittgenstein memiliki ketertarikan yang memaksa karena, bagi Wittgenstein, filosofi bukan hanya sebuah koleksi puzzle, namun juga sebuah pedoman untuk hidup; sebagaimana pernah terujar,

what is the use of studying philosophy if all that it does for you is to enable you to talk with some plausibility about some abstruse questions of logic, etc., if it does not improve your thinking about the important question of everyday life?

[apa gunanya mempelajari filosofi apabila semua yang Anda peroleh adalah untuk menjadikan Anda dapat berbicara dengan suatu hal yang masuk akal tentang suatu pertanyaan mendalam tentang logika, dan lainnya, jika hal itu tidak meningkatkan pemikiranmu tentang pertanyaan yang penting dalam kehidupan sehari-hari?] (Malcolm, 1972, p. 39)

Dua karya terbaik yang biografis adalah karya Norman Malcom (1972) yang ringkas namun padat yaitu Ludwig Wittgenstein: A Memoir, dan karya Ray Monk (1990) yang bagus, dan biografi yang terperinci yaitu Ludwig Wittgenstein: The Duty of Genius.

Karya ketiga, Ludwig Wittgenstein: A Student’s Memoir Theodore Redpath (1990) menawarkan sebuah kesan dari mahasiswa undergraduate tentang filosof. Beberapa murid Wittgenstein telah mempubliasikan transkripsi literal dari kuliah di kelas dan diskusi (Ambrose & Macdonald, 1979; Geach, Shah, & Jackson, 1989; King & Lee, 1978).

Terakhir, Bouwsma mempublikasikan catatannya tentang diskusi yang dilakukannya dengan Wittgenstein selama beberapa tahun terakhir tentang kehidupan seorang filosof (Bouwsma, Wittgenstein, Craft, & Hustwit, 1986).

Sebuah karakteristik yang penting dalam karya Wittgenstein adalah kritisinya terhadap diri sendiri. Di awal-awal karirnya dia diengaruhi dengan kuat oleh logika dan filosofi analitis milik Gottlob Frege dan Bertrand Russell.

Setelah belajar bersama Russel di Cambridge University, Wittgenstein menulis buku pertamanya, Tractatus Logico-Philosophicus (Wittgenstein, 1961a, 1961b). Buku ini merupakan satu-satunya buku filosofi karangan Wittgenstein yang dipublikasi sepanjang hidupnya; buku ini meletakkan sebuah model bahasa yang logis dan teliti, serta sebuah teori gabar tentang makna, yang memiliki ciri terdahulu dalam karya Frege dan Russel.

Wittgenstein menulis sebagaian besar karya berjudul Tractatus sembari bertindak sebagai prajurit yang diberi tanda jasa dalam pasuka Austria pada masa Perang Dunia I.

Seusai menulis Tractatus, Wittgenstein merasa bahwa dia memecahkan persoalan besar dari filosofi analitis. Namun ketika dia jauh dari kehidupan akademis, bukunya memberi pengaruh besar dalam filosofi analitis di Inggris, begitu pula dalam gerakan filosofi analitis yang baru saja didirikan oleh Moritz Schlick; “Der Wiener Kreis” (The Vienna Circle).

Wittgenstein mulai melihat bahwa dirinya belum memecahkan keseluruhan persoalan filosofi dan terdapat persoalan serius dalam beberapa hal yang diungkapkannya dalam Tractatus.

Dia menghabiskan sisa kehidupan akademisnya di Cambridge University. Meskipun Bertrand Russel endukung kuat kembalinya Wittgenstein ke filosofi profesional, dia dengan segera mengkritisi dan mengubah banyak dari filosofi awalnya yang oleh Russel dianggap sangat menarik.

Penyesuaian yang Wittgenstein terhadap filosofi awalnya memuncak dalam koleksi keterangan filosofi yang diberi judul Philosophical Investigations.

Meskipun karya tersebut merupakan sebuah produk upaya editorial yang meluas dari Wittgenstein ada tahun-tahun terakhir kehidupannya, karya tersebut tidak dipublikasi hingga beberapa waktu setelah kematiannya.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari karya tersebut, tentu, tidak dapat dijawab oleh Wittgenstein sendiri. (Buku-buku Wittgenstein lainnya telah dijadikan satu diambil dari tulisan-tulisan Wittgenstein yang tidak dipublikasikan, pengumpulan ini dilakukan oleh murid-muridnya setelah kematiannya).

Wittgenstein meninggalkan kepada kita dua warisan interpretasi intelektualnya: Philosophical Investigations merupakan kritik meluas atas karya awalnya yaitu Tractatus, atau sebagaimana ungkapan komentator lainnya yang memaksa untuk menjadikan keduanya karya filosofi yang terpisah jauh.

Manapun dari dua pandangan tersebut yang tepat mungkin tidak akan pernah dijawab untuk memuaskan semua orang, namun upaya terbaik untuk menempatkan karya filosofi awal dan kedua sebagai perspektif adalah karya Norman Malcolm (1986) Nothing is Hidden: Wittgenstein’s Criticism of His Early Thought, dan P. M. S. Hacker (1989) Insight and Illusion.

Pemetaan Karya Wittgenstein

Meskipun Wittgenstein memfokuskan upaya filosofisnya pada banyak tema spesifik, karya-karyanya yang terpublikasi tidak memisahkan tulisan-tulisannya dalam kategori.

Remarks on the Foundations of Mathematics (1978) memuat banyak keterangan baik pada bahasa maupun matematika.

Philosophical Investigations (1953) memuat keterangan pada filosofi sebagai tambahan matematika, logika, dan psikologi, adapun Remarks on the Philosophy of Psychology (1980) memuat keterangan pada bahasa, psikologi, dan subjek-subjek lainnya.

Filosofi Wittgenstein dalam sebuah topik tertentu, dalam tingkat tertentu, berada pada semua hasil karya tulisnya, namun tidak dikumpulkan atau dirangkum dalam satu tempat.

Paragraf yang berturut-turut dalam karya-karya di atas mungkin mengulas sebuah topik spesifik, namun topik lainnya kemudian lebih diutamakan baru kemudian muncul kembali yang nampak secara acak pada karya yang sama, atau pada karya yang lain.

Tentu satu di antara alasan untuk pendekatan yang terlihat seperti tambalan bagi filosofi ini adalah bahwa Wittgenstein secara berkelanjutan bergumul dengan persoalan yang sangat dalam dan sukar untuk dipahami, persoalan-persoalan yang telah menantang hadirnya solusi sistematis oleh salah satu pemikir analitis terbaik abad ke-dua puluh.

Jadi, banyak komentar-komentarnya yang terekam bukan solusi bagi persoalan-persoalan tersebut, namun sisa-sisa pertarungan intelektual yang dihadapinya sepanjang hidupnya (karya tulisnya yang dipublikasi mulai naik daun beberapa hari sebelum dia meninggal, setelah mengalami sakit yang panjang).

Mereka yang tertarik pada aspek-aspek spesifik dari karya Wittgenstein dan tidak memiliki waktu untuk melakukan kajian atas karya tulisnya yang luas, mustilah mengandalkan sumber sekunder untuk menyatukan karya-karyanya pada topik tertentu.

Beruntung, terdapat beberapa karya yang bagus. Mereka yang tertarik pada filosofi bahasanya yang terbaru, karya 130 halaman yang ditulis Hanna Pitkn (1972): Wittgenstein and Justice, dalam salah satu pendapat, merupakan sebuah singlepengantar terbaik dalam aspek ini tentang karya-karya Wittgenstein.

Mereka yang tertarik pada pemikiran Wittgenstein yang memerhatian topik-topik yang lebih spesifik semisal determinacy of sense (pikiran sehat yang memunculkan keadaan pasti), atau yang lain semisal the rejection of private languages (penolakan bahasa pribadi), the denial of psycho-physical parallelism (paralelisme psiko-fisis), dan the rejection of mind-body dualism (penolakan dualisme pikiran-raga), di antara yang lainnya, dapat melihat kelebihan yang dituliskan oleh Glock (1996): A Wittgenstein Dictionary, yang memuat diskusi singkat tentang (dan referensi untuk) banyak topik utama maupun sampingan dalam tulisan-tulisan Wittgenstein.

Pembaca yang ingin melihat karya tulis Wittgenstein pada topik yang sama, namun dalam karya yang berbeda yang dijadikan dalam satu karya, dapat merujuk pada karya Anthony Kenny (1994): The Wittgenstein Reader.

Karya tulis Wittgenstein pada filosofi bahasa demikian luas dan terhubung dekat dengan pandangannya tentang filosofi pikiran. Baginya, bahasa bukanlah suatu produk dari pemikiran, sebagaimana kebanyakan filosof menyetujuinya; “bahasa,” ungkapnya, “adalah … kendaraan pemikiran.” (language is … the vehicle of thought).

When I think in language, there aren’t “meanings” going through my mind in addition to the verbal expressions: the language is itself the vehicle of thought. (Wittgenstein, 1953, p. 107)

[Ketika aku berpikir pada bahasa, tidak ada “makna” yang melintas dalam benak saya selain ekspresi verbal: bahasa itu sendiri merupakan kendaraan dari pemikiran]

Atau dinyatakan dengan sedikit berbeda:

Knowledge is not translated into words when it is expressed. The words are not a translation of something else that was there before they were. (Wittgenstein, 1967, p. 32)

[Ilmu pengetahuan tidak diterjemahkan ke dalam kata-kata ketika diekspresikan. Kata-kata bukanlah sebuah penerjemahan dari sesuatu yang lain yang telah ada sebelumnya].

Pandangan Filosofis Wittgenstein

Poin yang dibuat Wittgenstein bukanlah bahwa semua pemikiran menggunakan bahasa sebagai perantara/medium, karena tentu kita dapat “berpikir tentang” musik atau gambar visual tanpa rujukan kepada bahasa sama sekali, namun bahwa ketika kita menggunakan bahasa kita biasanya menggunakannya sebagai sebuah makna untuk berpikir, bukan sebuah produk pemikiran sebagai sebuah ekspresi dari sesuatu yang kita pikirkan.

Copernican Reversal” ini menerangkan bahwa pemikiran dan bahasa secara tradisional dipandang berkaitan, memiliki implikasi penting bagi penarikan informasi.

Proses penarikan informasi seringkali dilihat sebagai suatu hal ketika penyelidik memiliki suatu pikiran-sebuah “keperluan informasi” -yang kemudian diterjemahkannya ke dalam suatu pertanyaan pencarian aktual, melalui jalan yang sama yang orang-orang pikirkan untuk mengutarakan dalam bahasa biasa apa yang mereka telah dapati dalam pikiran.

Namun apabila Wittgenstein benar bahwa penggunan bahasa kita adalah sebuah bentuk dari berpikir, maka “bahasa” penarikan -term pencarian yang tersedia bagi kita dan jalan-jalan yang mana mereka dapat dikombinasikan– adalah “bahasa” yang mana kita pikirkan, dan kemudian diartikulasikan, informasi apa yang kita inginkan.

Ringkasnya, bagaimana kita berpikir tentang kebutuhan informasi sangat terbatasi oleh bahasa dalam penarikan yang tersedia bagi kita, dan sejauh ini sebagaimana bahasa dalam penarikan terbatas, maka demikianlah pikiran kita tentang apa yang kita kehendaki.

Bahasa dalam penarikan tidak hanya membatasi bagaimana kita mengartikulasi apa yang kita kehendaki namun juga dapat membatasi proses pikiran yang mana kita tentukan tentang apa yang kita kehendaki.

Barangkali, kita ingin memikirkan bahwa kita mencetak sistem penarikan informasi untuk melayani kebutuhan kita untuk menemukan informasi; namun, jika Wittgenstein benar, maka boleh jadi inilah yang membuat sistem penarikan informasi mencetak kita untuk berpikir mengikuti garisnya.

Apabila ini kejadiannya, maka mungkin akan menjadi sangat susah untuk men-desain hal yang berbeda secara mendasar atau meningkatkan sistem penarikan informasi, karena kita secara virtual terkunci dalam jalan berpikir tentang penarikan informasi yang diwujudkan oleh sistem yang ada.

Wittgenstein menyajikan pandangannya tentang bahasa dalam rangka memberikan suatu kritik atas pandangan tradisional yang umumnya sudah diterima masyarakat luas. Dalam Philosophical Investigations dia menyajikan sebuah teori tentang bahasa berdasarkan tulisan-tulisan tentang filosof abad pertengahan, St. Augustine. Model Augustine tentang bahasa merupakan sebuah model rujukan sederhana yang meskipun berusia tua, sungguh telah sangat gigih, berada dalam berbagai bentuk bahkan hingga saat ini Model Augustine tentang bahasa melihat makna linguistik dalam hal-hal sebagai berikut:

  1. Kata-kata memberi nama pada objek: makna dari suatu kata adalah objek yang mana mewakilinya.
  2. Setiap kata memiliki makna.
  3. Makna dari suatu kata independen berdasarkan konteks.
  4. Makna kalimat terdiri dari makna-makna kata-kata.

Koreksi Model Bahasa Augustinian

– Persoalan 1: Kata-kata memberi nama kepada objek

Apabila kita mempertimbangkan contoh-contoh dari kata-kata semisal “kursi”, “apel”, dan “pensil,” bahasa nampak bekerja sedimikian. Namun apabila kita melihat dalam contoh seperti “kejujuran,” “karisma,” dan “besok lusa,” merupakan hal yang lebih susah untuk menyebut kata-kata tersebut sebagai “objek”.

Wittgenstein (1953, p. 174) memberi kita sebuah petunjuk dengan retoris tentang kompleksitas yang dilihatnya dalam jenis ungkapan-ungkapan tersebut:

For a large class of cases-though not for all-in which we employ the word ‘meaning’ it can be explained thus: the meaning of a word is its use in the language.

[Untuk sebuah kelas besar dari kasus-kasus –meskipun bukan untuk semua- yang mana kita membangun kata ‘makna’ dapat dijelaskan sebagai berikut: makna dari sebuah kata adalah kegunaannya dalam bahasa.]

Sebagai konsekuensinya, untuk memahami “makna” dari “besok lusa,” kita perlu untuk dapat menggunakannya dalam keadaan yang tepat, dan untuk menggunakannya dalam keadaan yang tepat kita perlu pengalaman membedakan  satu hari dari lainnya-“hari ini,” “besok,” “besok lusa”-dari menelaah rangkaian dari satu hari mengikuti hari ainnya, dan dari mengunakan hari sebagai unit waktu dalam suatu aktivitas yang beragam.

Lebih jauh lagi, hal-hal ini bukanlah aktifitas independen yang dapat dipisahkan dari kehidupan dan praktik sehari-hari.

Untuk menggunakan “besok lusa” dengan benar bukan hanya untuk mengetahui definisi kamus, hal ini untuk dapat melihat keadaan yang sesuai dan aktifitas yang membuat hal ini dapat digunakan, dan kemampuan ini lebih jauh tergantung pada kemampuan kita untuk berpartisipasi dalam sebuah jangkauan luas dari aktivitas manusia yang memahami “besok lusa” adalah penting.

Seseorang yang berbicara bahasa lain dan belajar Bahasa Inggris bertanya, “Apa makna ‘besok lusa?’” Dia bisa menjawab pertanyaan sederhana ini karena dia telah berbicara bahasa lain dan mungkin familier dengan jenis-jenis aktivitas yang mana frasa sedemikian digunakan.

Seekor anjing, bagaimanapun, tidak saling memahami dengan kita aktivitas “besok lusa” penting. Wittgenstein (1953, p. 223) membahas ini dengan lebih enarik dengan salah satu pernyataan yang mengandung teka-teki:

 

If a lion could talk we could not understand him.

[Jika seekor singa bisa berbicara kita tidak dapat memahaminya]

 

Alasan kita tidak dapat memahami pembicaraan singa adalah karena kita tidak memiliki pengalaman personal dari aktifitas yang mana dihadapinya.

Apabila kita dapat memahami makna dari suatu kata dengan melihat penggunaannya, maka maknanya terhubung secara intim dengan aktifitas dan praktik yang sama-sama kita miliki dengan orang lain. Apabila kita tidak memiliki aktifitas apapun yang sama, maka tidak ada yang dapat kita bincangkan.

Dalam perkataan Wittgenstein, kita memiliki terlalu sedikit “bentuk kehidupan” yang sama dengan singa yang mana kita dapat mendasari bahasa yang sama. Bagi Wittgenstein:

 

We don’t start from certain words, but from certain occasions or activities. (Wittgenstein, 1972, p. 3)

[Kita tidak memulai dari kata-kata tertentu, namun dari peristiwa atau aktifitas tertentu.]

 

Only in the stream of thought and life do words have meaning, (Wittgenstein, 1967, p. 30)

[Hanya dalam arus pikiran dan hidup kata-kata memiliki makna.]

Perbandingan

Setelah mempertimbangkan persoalan-persoalan tersebut dengan model bahasa Augustinian, kita mungkin mencoba untuk memberikan beberapa hal yang menenangkan dari fakta bahwa bahasa nampaknya bekerja sesuai dengan model Augustine, setidaknya dalam kasus di mana objek aktual mengacu.

Namun bahkan di sini hubungan antara bahasa dan “objek” tidaklah sederhana. “Kata-kata” dan “objek” menimbulkan banyak topik “rujukan” yang diperdebatkan.

Frege adalah satu dari filosof pertama yang mendiskusikan sebagian kompleksitas dalam acuan, namun isu ini merentang hingga 3 abad sebelum Masehi dan sebagaimana ungkapan Eubuides “paradox pria bertopeng” (terkadang disebut “paradox dari penjahat”). Misalkan Anda melihat pria bertopeng. Pada kenyataannya, pria bertopeng itu adalah saudara laik-laki Anda. Namun Anda tidak bisa mengatakan bahwa Anda melihat saudara laki-laki Anda.

Frege (1952) menggaris bawahi satu dari isu penting mengenai acuan dengan contoh yang diberikannya yaitu “Morning Star” dan “Evening Star.”

Baik Morning Star dan Evening Star mengacu pada benda angkasa yang sama, yaitu planet Venus.

Terlebih desrkipsi Morning Star dan Evening Star tidak memiliki makna yang tepat sama untuk alasan sederhana yang tidak dapat kita gunakan dengan saling bertukar dalam wacana sehari-hari.

Demikianlah, dalam penggunaan biasa kita tidak bisa mengatakan, di pagi hari, bahwa kita melihat “Evening Star” dan, di sore hari, bahwa kita melihat “Morning Star,” meskipun secara teknis, kedua pernyataan tersebut keliru.

Dalam contoh yang diberikan Frege, kita setidaknya dapat mengatakan apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh pembicara ketika mengacu pada “Morning Star” di sore hari, atau “Evening Star” di pagi hari.

Namun Bertrand Russel (1905, p. 485) memberi sebuah contoh dari persoalan referensi di mana tidak semuanya jelas tentang apa yang dimaksud oleh pembicara.

Perhatikan dua pernyataan berikut ini:

George the IV wished to know if Scott was the author of Waverley.”

[George IV berharap untuk mengetahui apakah Scott pengarang dari Waverley.]

“Scott is the author of Waverley.”

[Scott adalah pengarang dari Waverley.]

Sekarang jika “Scott” dan “pengarang Waverley” mengacu pada orang yang sama, dan maksud dari suatu kata dijelaskan dengan tuntas oleh acuannya, sebagaimana dikalim oleh Augustine, maka kita seharusnya dapat menggunakan “Scott” dan “pengarang Waverley” secara bertukar.

Apabila kita menggantikan “Scott” dengan “pengarang Waverley” dalam kalimat pertama Russel, maka kita mendapatkan:

“George IV berharap untuk mengetahui apakah Scott adalah Scott.”

Di sini, berseberangan dengan contoh yang diberikan Frege, substitusi/pengganti “Scott” untuk “pengarang Waverley” meninggalkan sebuah kalimat yang dipercayai oleh Russel merupakan kesalahan yang jelas, yang mana makna yang diinginkan akan mustahil untuk dilihat.

Russell (1905) telah mengembangkan Teori Deskripsi Pasti-nya, yang ditujukan untuk mengungkap bentuk logis (sebagai lawan dari bentuk gramatikal) dari pernyataan yang mengacu kepada seorang individu, seperti “pengarang Waverley”.

Ini digunakan untuk menunjuk beberapa puzzle yang sukar tentang deskripsi pasti, semisal persoalan substitusi di atas, dan referensi untuk sesuatu yang tidak ada (misal, “tidak ada tempat bernama Shangri-La”).

Meskipun tingkat detail sedemikian melebihi cakupan dari review topik ini, hal ini masih menjadi bacaan yang mendorong keterlibatan yang tinggi. (Pembaca yang tertarik dapat merujuk karya Lycan [2000] pada bab 2 untuk mendapat penyajian karya Russell yang sangat menarik tentang deskripsi pasti dan perdebatan berikutnya yang dihadapinya, terutama dengan Strawson [1950].)

Perbandingan (2)

Tentu jelas bahwa meskipun ketika suatu kata atau frasa memiliki sebuah rujukan jelas nyata semisal yang ada pada “Scott” dan “pengarang Waverley”, pengertian, atau “makna” bahwa kata atau frasa itu lebih dari apa yang dirujuk.

Dalam beberapa kasus ketika kita mengacu pada seorang tertentu yang mungkin tidak dimaksudkan pada seseorang sama sekali, namun beberapa aspek menonjol dari seseorang.

Sebagai contoh, ayah Wittgenstein, Karl, dulu pernah dirujuk sebagai “Andrew Carnegie-nya Austria.”

Dengan ini, bukan berarti bahwa Karl terlihat seperti Carnegie, atau memiliki leluhur Scotlandia, namun bahwa dia, seperti Carnegie, adalah seorang industrialis kaya yang berlangganan pada kesenian.

Akhirnya, merupakan sebuah bukti bahwa banyak kata-kata, semisal “kejujuran” dan “unicorn” tidak merujuk pada objek sama sekali, namun kita masih menggunakannya secara teratur dan memahaminya ketika kita menggunakannya. Artinya mustilah ada hal lain lainnya dari sekadar rujukan sederhana.

Model bahasa Augustine adalah sebuah model sederhana dan mudah untuk dipahami, namun beberapa aspek yang lebih halus pada mulanya tidak nampak jelas. Terutama, deskripsi Augustine tentang bagaimana dia belajar berbicara adalah hal penting.

Dalam ungkapannya, dia

“…heard words repeatedly used … [and] gradually learnt to

understand what objects they signified . . .” (Wittgenstein, 1953p. 2).

[…mendengar kata-kata yang digunakan berulang-ulang … (dan) secara bertahap beajar untuk memahami objek                    apa yang dimaksud …]

Kalimat tersebut menunjukkan poin bahwa kita dapat mendengar dan membedakan kata-kata sebelum kita memahaminya.

Oleh karena itu, kata-kata bisa saja ada bagi kita tanpa makna –yaitu sebagai kata-kata yang tidak kita mengerti.

Lebih jauh, karena kita bisa memunculkan kata-kata tanpa makna, selanjutnya adalah bahwa “makna” merupakan hal yang independen dari kata-kata –nampaknya menjadi sesuatu yang dapat ditambahkan pada kata-kata dengan suatu aksi spesifik semisal mencarinya di kaus.

Pada beberapa perumpamaan kita bahkan bisa memunculkan suatu “pengertian” atau “makna” tanpa suatu kata pun.

Kita dapat melihat ini terkadang ketika kita membandingkan kata-kata dalam dua bahasa.

Sebagai contoh, Bahasa Jepang memiliki sebuah kata yang bermakna titik ketika suatu suara, semisal dentingan dari sebuah bel besar, telah mereda hingga pada tingkat yang para pendengar tidak dapat menyatakan apakah mereka masih dapat mendengarnya atau tidak.

Dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia, kita tidak memiliki kata atau frasa sederhana untuk “makna” sedemikian.

Pandangan Augustine tentang bahasa mendikotomikan kata-kata dan makna, serta menyusun sebuah kerangka yang mana keduanya dapat dianggap terpisah, sebuah kerangka yang ada dalam berbagai bentuk hingga hari ini, paling mencolok ada dalam keyakinan tentang independensi syntax dan makna yang merupakan batu pertama dari tatabahasa generative/generative grammar yang dicetuskan Chomsky (1965).

Dikotomi antara kata-kata dan makna ini mendorong kita untuk berhadapan dengan pertanyaan tentang makna dalam sebuah cara yang dapat diprediksi dan hampir tidak dapat dihindari.

Secara spesifik, ketika kita tidak lagi dapat mempertahankan klaim bahwa makna sama dengan beberapa entitas semisal sebuah “objek,” kita takluk pada “objek” namun kita tidak dapat bersikap acuh untuk mencoba mempertahankan kerangka bahwa “makna” dari suatu kata adalah suatu entitas dari beberapa jenis.

Kita berpikir tentang suatu kata memiliki sebuah “makna” dalam cara yang sama dengan ketika berpikir bahwa orang-orang memiliki orang tua biologis.

Anak-anak mungkin tidak mengetahui siapa orang tua mereka, namun keberadan mereka tentu tidak diragukan.

Wittgenstein juga percaya pada dikotomisasi kata-kata dan makna atau tatabahasa/grammar di awal karirnya. Namun hal itu merupakan satu dari kontribusi utamanya pada filosofi bahasa untuk mempertanyakan dikotomi fundamental ini; secara ringkas, untuk melawan “tekanan” / “paksaan” untuk memisahkan antara kata-kata dan makna yang telah didorong oleh model bahasa Augustine kepada kita.

Semakin menarik bukan? Bagaimana perlawanan Wittgenstein? Cermati lanjutannya.

Selamat membaca!

Chat via Whatsapp